Habibie – Ainun : Ketika 2 Manusia Menjadi Satu

Tepat hari Senin, 24 Desember 2012 yang lalu aku nonton bareng Habibie & Ainun bersama keluarga. Ayah, ibu dan adik turut serta dalam nonton kali ini di Dieng 21. Awalnya kami berencana nonton siang hari, namun ternyata sudah kehabisa tiket. Terpaksa kami nonton sore hari jam 15.25 dan itu menyebabkan kami harus menunggu sekitar 2 jam lamanya. Sambil menunggu kami pun makan di food court dieng sembari saling diskusi untuk melepas rindu.

Usai Shalat Ashar, sekitar jam 15.15 kami masuk ke dalam Studio 2. Tentu saja saya sendiri berharap film tersebut mampu menginspirasi, dan tentunya semoga lebih bagus daripada novelnya yang pernah saya baca. Film tersebut diawali dengan pengenalan sosok seorang Habibie yang akrab disapa Rudy. Saat itu di tengah perjuangannya untuk meraih gelar doktornya di bidang Teknik, ia pulang ke Indonesia terkait dengan penyakitnya yaitu Tuberkolosis. Saat kepulangan itulah, Rudy bertemu dengan seorang kawannya saat SMA Hasri Ainun Besari atau biasa disapa Ainun.

12 Mei 1962 jam 10.00 pagi mungkin menjadi tanggal yang tak terlupakan bagi Rudy dan Ainun. Karena pada waktu itulah, mata mereka saling bertemu dalam tatapan penuh cinta di Rumah Ainun. Ya, saat kepulangan Rudy ke Indonesia ia menyempatkan diri mengunjungi Rumah Ainun. Singkat cerita, mereka pun melangsungkan pernikahan. Seorang Rudy pun menikahi “Gula Pasir” miliknya yang dulu ia anggak “Gula Merah”. Dan Rudy pun membawa Ainun untuk hidup di Jerman. Ainun pun meninggalkan pengabdiannya sebagai dokter di Indonesia untuk mendampingi suaminya.

Sebagai seorang fresh graduate, tentu penghasilan Rudy pas-pasan. Namun cinta mereka berdua melebihi dari apapun. Ainun merupakan sosok yang tangguh dan nyaris tak pernah mengeluh dengan kondisi mereka yang pas-pasan. Seringkali Rudy pulang malam, bahkan dini hari dan dengan sabar Ainun pun menantinya dan memasakkannya makanan yang hangat.

Mereka pun dikaruniai dua anak, dan hal itu membuat Rudy makin bersemangat untuk bekerja. Hingga akhirnya Rudy mampu meraih gelar doktor di bidang teknik serta lulus dengan predikat cum laude. Seiring dengan usianya yang masih muda, karirnya begitu melesat. Ia mendapatkan tawaran dari berbagai macam perusahaan di Jerman. Namun, sumpahnya untuk kembali ke Tanah Air Indonesia telah mendarah daging dalam dirinya. Ia bertekad saat waktunya tiba, ia akan kembali ke Indonesia untuk membuat pesawat.

Kesempatan itu akhirnya datang pada tahun 1973 saat ia diminta Presiden Soeharto untuk kembali ke tanah air untuk membangun Indonesia. Inilah yang menjadi titik balik kehidupan Habibie di mana pada saat itu ia terlibat pula dalam politik di Indonesia. Pada tahun 1995, mimpinya terwujud dengan ditandai dengan penerbangan pertama Pesawat Gatot Kaca N250. Habibie saat itu menjabat sebagai Menteri Ristek pun bersyukur dan dengan bangga menyatakan bahwa Indonesia telah mampu membuat pesawat sendiri. Karir politik beliau pun makin berkembang dan puncaknya pada tahun 1998, Habibie dilantik menjadi presiden ke-3 Republik Indonesia

Tidak seperti drama romantis lainnya, kisah Cinta Habibie dan Ainun tidak terlalu dipenuhi konflik. Saya sempat berfikir, apakah film ini mampu meledak nantinya ? Karena dalam novel tidak terlalu ada konflik cerita yang membuat semakin menarik. Namun diluar dugaan, penyajian film ini walaupun nyaris tanpa konflik, namun dibumbui oleh komedi-komedi ringan yang membuat film ini menarik. Ada juga konflik politik, dan antara Habibie dan Ainun. Sekali lagi, film ini begitu sederhana, namun dibumbui oleh cinta Habibie dan Ainun yang juga sederhana, maka tak kaget bila dalam seminggu saja film ini telah tembus ditonton sejuta orang.

Dari segi pemeran, Reza Rahadian mampu mengaktualisasikan seorang Habibie. Mulai dari gesturenya, pembawaannya, cara bicara, sampai gaya ketawa yang khas dari seorang Habibie mampu dikeluarkan oleh Reza Rahadian. Sedangkan Bunga Citra Lestari yang dikenal aktif, cerewet mampu memerankan Ibu Ainun dengan baik, mulai dari kalemnya seorang Ainun, gaya bicara maupun cara berjalannya yang kalem yang menunjukkan wanita jawa masa lalu. Dan chemistry keduanya juga luar biasa, seperti chemistry Habibie dan Ainun sesungguhnya.

Film ini diakhiri dengan suara asli Habibie yang memanjatkan doa untuk Ainun, istrinya saat meninggal di usia perkawinan mereka yang ke 48 tahun 10 hari. Berikut cuplikan doa Habibie dalam film tersebut :

“Terima kasih Ya Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk Ainun.. Dan Ainun untuk saya… Terima kasih Ya Allah…. Engkau pertemukan kami pada tanggal 12 Mei 1962… Engkau berikan kami bibit cinta yang suci, sempurna, dan abadi…”

Setidaknya doa tulus tersebut menggambarkan cinta yang begitu tulus antara mereka berdua. Cinta yang abadi, manunggal sepanjang masa. Dari situlah kita bisa petik. Dibalik suksesnya seorang tokoh besar seperti Habibie, terdapat sosok yang menguatkan… Ialah sosok Ainun. (fam)

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *