Cinta dalam Diam atau Mencintai Diam-Diam ?

Suatu hari seorang temanku bertanya via chat di fb. “Iz, menurutmu cinta dalam diam itu sama nggak dengan mencintai diam-diam ?” #Eaaaaaa . Rupanya virus merah jambu melanda bocah satu ini. Namun, setelah aku pikir-pikir, cukup kritis juga pertanyaan ini. Ya emang itulah cinta, satu saja berubah, berjuta makna pun tergubah *ceileeeh puitisnya gue*.

Sembari berpikir, aku pun menjadi ingat kisah cinta Ali bin Abi Thalib ra. Betapa beliau mencintai Fatimah Az-Zahrah dalam hatinya. Ia sempat terkejut ketika Abu Bakar melamar Fathimah terlebih dahulu. Bagaimana tidak ? Seorang lelaki yang begitu kaya, yang mencintai Rasulullah sejak pertama kali Rasulullah berdakwah. Ia termasuk Assabiqunal Awwaluun, yaitu orang yang masuk islam golongan awal. Ia pun pembela setia Nabi Muhammad SAW. Ia juga kaya nan dermawan. Namun akhirnya ? Lamaran di tolak. Maka bingungnya seorang Ali.

Dan ternyata gelombang asmara Ali pun berkecamuk lagi manakala datang seorang lelaki nan gagah melamar Fathimah. Ya, dia adalah Umar bin Khottob. Seorang lelaki yang bahkan membuat setan takut kepadanya. Membuat kaum kafir quraisy takut kepadanya. Namun hasilnya ? Ya lagi-lagi ditolak oleh Rasulullah

Maka Ali pun bingung dalam kesendiriannya. Seorang yang kaya nan berwibawa seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq pun ditolak, Seorang yang perkasa nan gagah seperti Umar pun juga ditolak. Sementara Ali ? Ia adalah pemuda miskin yang rumah pun tak punya. Hartanya yang paling berharga adalah baju besinya. Maka atas dorongan kawan-kawannya ia pun maju ke hadapan Rasulullah. dan hasilnya ? “Ahlan wa Sahlan” . Itulah ucapan persetujuan yang diucapkan Rasulullah. Allahu Akbar… akhirnya mereka menikah dalam penuh kebahagiaan…

Kisah di atas lalu dapat dikategorikan yang mana nih ? Kalau menurutku, kisah cinta Ali bin Abi Thalib adalah sebuah rasa Cinta dalam Diam. Ya, di sini mungkin jelas perbedaannya. Cinta dalam diam, adalah kita mampu menjaga rapat-rapat perasaan itu, hingga tiba saatnya untuk mengungkapkannya. Kita tidak memberikan sinyal sedikitpun. Cukuplah kita dan Allah yang mengetahuinya.

Namunm mencintai diam-diam masih ada sedikit celah untuk membuka rasa cinta kita. Misal kita mengirimkan hadiah tak beridentitas pada seseorang yang kita cintai. Nah itulah mencintai diam-diam. Mungkin ada orang lain yang menjadi teman curhat kita, kita memberi tahu akan rasa cinta kita.. Itulah mencintai dalam diam.

Sekarang tinggal memilih, mau Cinta dalam Diam atau Mencintai Diam-Diam ? Keduanya sama-sama Indah. Namun indah dimataNya, indah di mata RasulNya adalah Cinta dalam Diam…

Allahu Akbar!!! Inni uhibbuki lillah :”)

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

  1. aghniahauna says:

    hihihi faiz galauuuu wkwk

Leave a Reply to aghniahauna Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *