Kisah Cinta Daun dan Embun

Pukul 03.00. Suara kokok ayam jantan membangunkan lelapku. Perlahan kubuka mataku dan kulihat kawan-kawanku mulai tersadar. Aku pun bertasbih kepadaNya mengucap syukur yang tak terkira. Pagi ini terasa dingin sekali. Tidak seperti biasanya saat kubuka mataku, ada sosok yang begitu asing di mataku. Ia tiba-tiba ada di permukaan tubuhku. Siapakah dia ? Alangkah bening nan eloknya dia. Dan dalam dinginnya pagi, aku merasakan kesejukan yang luar biasa darinya

“Assalamu’alaikum wahai makhluk Allah…?” sapaku kepadanya. Tak terdengar jawaban. Makin penasaran aku, maka kugerakkan permukaanku agar dia dapat meluncur ke dekatku. Hmm, mungkin dia tak mendengar suaraku. Sekali lagi kusapa, “Assalamu’alaikum wahai makhluk Allah…?!”. Dan suara lembut pun terdengar, “Wa’alaikum salaam warohmatullah…”. Makhluk itu pun membuka matanya dan tersenyum padaku.

“Siapa dirimu ?” tanyaku. “Namaku embun, mungkin kau selama ini mengetahui yang namanya air. Namun air ada banyak jenisnya. Dan salah satunya adalah diriku ini,”ujarnya memperkenalkan diri. “Mengapa kau berada di sini ?” tanyaku semakin penasaran. “Aku pun tak tahu, saat aku bangun aku sudah berada di atasmu :)”. Selanjutnya aku pun berbincang-bincang jauh bersamanya. Menanyakan berbagai hal, tentang penciptaanNya, tentang tanda-tanda kekuasaanNya, dan lainnya.

Hingga waktu subuh pun tiba. Kami tenggelam dalam alunan merdu panggilanNya. Kulihat manusia-manusia bergerak menuju rumahNya. Alangkah indahnya pagi ini. Rembulan pun masih bersinar memancarkan aura tasbih kepadaNya. Bintang berkelip-kelip laksana mulut yang berkomat-kamit dalam menyebut asmaNya. Hembusan angin melambai-lambai seakan berlari menujuNya. Kami pun hening sejenak tuk bersujud padaNya. Usai sudah keheningan itu, maka kami pun lanjutkan pembicaraan..

05.30. Perlahan mentari menampakkan guratannya di cakrawala. Dan aku melihat perubahan yang aneh pada temanku. Perlahan-lahan ia semakin mengecil. “Mau ke mana dirimu, wahai embun ?” tanyaku padanya. Ia pun menjawab, “Sudah saatnya aku pergi daun, lihatlah sang mentari. Sebentar lagi ia kan membawaku sedikit demi sedikit ke langit.” ucapnya dengan tersenyum.

Bak tersambar petir aku pun terkejut. “Tapi kita baru saja bercengkerama, baru saja aku mengenalmu, namun mengapa kau harus pergi ?”. Embun tersenyum dengan bijak seraya berkata, “Inilah kodrat Tuhan. Tahukah engkau bahwa aku ini hanyalah setetes air ? Aku akan menguap karena terik mentari yang menyinari dunia ini. Dan aku akan berubah wujud menjadi awan, hingga angin kan meniupku ke tempat yang baru. Dan aku akan turun lagi sebagai embun jika waktunya telah tiba, :)”ujarnya tersenyum.

Aku pun merasa tak rela seraya berkata, “Jangan pergi embun. Dalam dinginnya pagi kau lah yang memberikan rasa sejuk dalam diriku. Dalam panasnya mentari kau yang akan memberikan rasa dingin padaku. Jika kau pergi, maka diriku akan kering dan ringkih. Jika kau pergi aku tak tahu bagaimana kan mendapatkan kesejukan lagi dalam dinginnya pagi, takkan ku tahu bagaimana mendapatkan dinginnya udara dalam dalam terik mentari.”, ujarku memohon. Maka embun pun menjawab, “Jangan khawatir, esok pasti kau bertemu sosok yang lain seperti diriku, yang kan memberikan kesejukan padamu 🙂 “, jawabnya dengan yakin.

Merasa semakin tak rela, daun pun berkata,”Janganlah kau pergi bersama mentari. Dengarlah janjiku ini bahwa aku kan senantiasa menjagamu agar dapat berdiri di atasku dengan lapisan lilinku. Dengan permukaanku kan kulindungi dirimu dari sengatan mentari. Dengan hijauku kan kupercantik dirimu agar sedap dipandang mata. Tolong tetaplah di sini untuk bersamaku,”pinta daun kepada Embun. Maka embun pun menjawab dengan bijak, “Ketahuilah daun, inilah takdir yang harus kujalani. Mungkin kau merasa nanti di sana aku tak mampu memberikan kesejukan. Kata siapa ? Janganlah memandang dari satu aspek saja. Biarlah sang mentari membawaku pergi ke tempat lain. Diriku kan berubah menjadi awan yang nantinya memberi naungan di dunia ini, serta bila berat ku kan kembali menjadi tetes-tetes hujan yang memberi kehidupan di dunia ini pula. Dan nantinya saat pagi hari aku akan kembali menjadi embun tuk berikan kesejukan bagi siapapun tempat aku berdiri nantinya :”) “.

Daun pun terdiam terpaku menyaksikan temannya embun perlahan-lahan mengecil dan perlahan-lahan menghilang. Ia pun hanya bisa bersedih. Dan siang harinya, ia mendengar suara embun dari langit berkata, “Wahai daun, terima kasih untuk kebersamaannya hari ini. Lihatlah aku dalam gumpalan awan ini. Aku kan siap memberikan naungan bagi yang membutuhkan. :)”ujar embun. Daun pun terdiam memandang ke angkasa.

Tiba-tiba suara itu keluar lagi, “Oh ya satu pesan terakhirku. Mengapa aku begitu ikhlas saat mentari membawaku pergi darimu ? Karena inilah pengabdianku padaNya. Karena inilah bukti cintaku padaNya. Jika dirimu mencintai karena Allah, maka ketika Allah membawaku pergi, aku percaya ada sejuta rahasia yang disimpanNya. Dan aku percaya aku bisa bermanfaat dalam kehendakNya. Jika dirimu mencintai karena Allah, maka kau akan ikhlas atas ketetapanNya. Kau akan ikhlas akan qodho dan qadarnya. Selamat tinggal daun.. :). Tiada keabadian pada diriku, yang ada hanyalah keabadian cintaku untukNya, Allah SWT.”.

Maka daun pun terdiam, perlahan tersenyum kepada awan yang meninggalkannya 🙂

Malang, 2 Februari 2013

01.00 am

-@faizalmushonnif-

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

  1. Hamida says:

    subhanallah :’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *