Merajut Mimpi Meraih Asa

Akhir-akhir ini timelineku dipenuhi dengan mimpi-mimpi adik-adik yang bertebaran. Ya, inilah masa – masa “kegalauan” adik-adik kelas 12 SMA dimulai. Saat mereka telah berada hampir di ujung puncak perjuangan. Pintu-pintu perguruan tinggi impian telah terbuka lebar bagi siapapun yang bersungguh-sungguh dalam usaha tuk menggapainya. Bolehlah kita bermimpi setinggi langit, namun takdirNya tetaplah keputusan terbaik.

Merajut mimpi, meraih asa. Ya, melihat timeline seperti itu, benak pun mengeluarkan kembali memori perjuanganku setahun yang lalu. Bagaimana saat itu pun aku merasakan hal yang sama dengan mereka. Tiap hari di sekolah bolak-balik ke BK, pulang sekolah langsung bimbel, bila kurang minta tambahan, malam pun bermesra dengan soal-soal hingga larut, pagi dini hari pun terbangun tuk bersujud kepadaNya. Rasa jenuh terkadang menyerang, namun bayang-bayang kesuksesan selalu kembali hadir tuk menguatkan.

Ya, tahun lalu aku terperangkap dalam tiga impian. Manajemen UI, Teknik Industri ITS, Ekonomi Islam UNAIR. Kesemuanya menurutku favorit, dan menarik untuk dipelajari kelak. Menilik prestasiku yang menurun saat SMA, ayahku sempat meragukan pilihanku. Dianggapnya diriku tak mampu. Dianggapnya diriku terlalu tinggi pilihanku. Bahkan ayah pun menyarankan untuk di Malang saja, tak perlu jauh-jauh keluar kota, cari yang persaingan tak terlalu ketat.

Menyerah ? Putus Asa ? Tidak dipercaya oleh orang tua lantas aku menuruti Ayah ? Tidak!! Tidak adak kosakata menyerah dan putus asa dalam kamus kehidupanku. Bukan maksud tuk membangkang pada Ayah, namun usahaku adalah meyakinkannya dengan pilihanku. Bahwasanya inilah yang terbaik untukku, inilah hasil istikharahku, inilah wujudku tuk membangkan ayah dan ibu. Maka ayahku pun luluh, dan menyerahkan semua kepadaku, dengan syarat aku bersungguh-sungguh dalam proses ini.

Lalu sampailah kepada Ibu. Hingga aku mendaftar pun ibu tetap tak setuju aku berada di luar kota. Berbagai cara kulakukan untuk meyakinkan beliau, namun hasil pun tak ada. Ibuku tetap bersikeras agar aku kuliah di Malang saja. Agar tak jauh dari pengawasan orang tua. Namun inilah aku, semakin dilarang semakin memberontak. Tentunya smakin gencar diriku untuk meyakinkan ibu. Hingga pada suatu malam, dengan berurai air mata kukatakan kepada Ibuku niat tulusku, ikrarku kepadanya, bahwa nanti saat di luar kota aku akan berjuang mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku akan tetap menjadi Faiz yang seperti sekarang, tiada berubah ke arah yang negatif, namun kan kuperbanyak energi-energi positif agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Maka dengan berurai air mata, ibuku pun meridhaiku, dan melepasku dalam perjuangan panjang ini.

Usai itu, semangatku pun semakin menggebu. Libur pun tetap di bimbel, mengejar tentor ke sana ke sini, menyeleseikan soal-soal dari berbagai buku, ikut try out ke sana dan ke sini. Ikhtiar pun semakin kukencangkan. Puasa Daud, Dhuha, Tahajjud, dan lainnya semakin menambah energiku tuk menghadapinya.

Dan akhirnya tibalah waktu tes. Dengan mengucap basmalah, di ruangan pertanian Univ. Brawijaya, pada waktu itu kukerjakan soal-soal itu semampuku dan sebisaku. Dan tak terasa 3 hari itu pun terlalalui dengan cepat. Sembari menunggu pengumuman pun hari-hariku disibukkan dengan persiapan untuk tes-tes yang lain. Perjuangan masih belum usai. Bimbel yang semakin senggang justru kumanfaatkan dengan baik, untuk membahas dan mengerjakan soal-soal lainnya bersama para tentor.

Dan sebulan sesudahnya, tepat jam 19.00 pengumuman dilakukan. Untuk menghilangkan rasa nervous, kuputuskan saat itu shalat isya’ dahulu ke masjid. Selain menenangkan hati, juga untuk berdoa agar apapun hasilnya kan kusyukuri. Juga untuk menghindari traffic web yang padat.

19.15, kubuka web dan login dan Alhamdulillah!!! Mimpiku terwujud, walau tak diterima di UI, namun aku lolos di T. Industri ITS. Ya, setidaknya salah satu doaku terkabul. Bahwa beberapa bulan sebelum itu, aku mendapat kesempatan berkunjung ke ITS sebagai semifinalis IE Games 7th Edition. Dan di kepulangan lomba tersebut aku berdoa, “Ya Allah, jika hari ini hamba telah Engkau beri kesempatan datang ke TI ITS untuk menjadi semifinalis IE Games 7th Edition, maka nanti di bulan Juli, berilah hamba kesempatan untuk kembali ke sini sebagai mahasiswa TI ITS..”. Dan sepertinya Allah mengabulkan doaku pada waktu itu.

Alhamdulillah…. 🙂

10 Februari 2013

11.03

@ kamar kos

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *