Saat Islam Mulai Terasa Asing….

Daripada Abu Hurairah r.a., “Islam mula tersebar dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali dalam keadaan asing. Maka berbahagialah (beruntunglah) orang yang bersama Islam ketika ianya asing”. 
[HR Muslim]

Entah kenapa akhir-akhir ini hal seperti ini yang kurasakan. Ntah karena aku berada di lingkungan yang salah, namun di lingkungan itulah aku harus belajar mereguk tetesan ilmuNya. Dahulu saat mendengar hadis ini dibacakan pertama kalinya, perasaanku hanya biasa saja. Namun sekarang ? Aku telah merasakannya. Dan ntah terasa merinding siap aku meresapi maknanya.Yah Islam memang terlahir dalam kondisi terasing. Maka wajar kala Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah untuk menyampaikan risalah di hadapan manusia, beliau merasa seluruh beban dunia ditimpakan ke pundaknya. Maka beliau pun pada waktu itu pulang minta diselimuti ummul mukmin Siti Khadijah. Beliau begitu menggigil ketakutan. Bagaimana tidak ? Di zaman jahiliyah seperti itu seorang Muhammad diberikan amanah untuk menyebarkan ajaran Tauhid dan awalnya hanya SEORANG DIRI. Tentu saja itulah keasingan pertama yang dirasakan oleh Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam.

Siapa yang tidak takut dalam kondisi terasing ? Tentu saja semua takut. Bahkan Rasulullah pun sempat takut sampai menggigil. Dan dalam keterasingan itu hanyalah cahaya Allah yang menjadi harapan kita. Ya, ketika zaman saat ini mulai berkembang, telah banyak manusia yang menganggap keterdekatan pada illahi rabbi hanyalah formalitas dalam beragama saja. Bukan lagi sebuah kebutuhan. Padahal, para sahabat Nabi menjadikan shalatnya sebagai sarana refreshing. Percayalah, air mata terindah yang pernah menetes adalah air mata saat kita bermunajat kepadaNya.

Dan aku sendiri pun sering merasa takut. Bagaimana tidak? Seringkali dalam sebuah acara yang kuikuti mengesampingkan waktu shalat. Mindset “masih ada waktu” tertanam pula di shalat. Padahal seharusnya mindset tentang waktu shalat adalah “belum tentu nanti ada waktu”. Mindset “masih ada waktu” adalah dipergunakan dalam urusan keduniawian. Menunda suatu urusan dunia dan melakukan di waktu lain yang tepat. Hal itu jauh berbeda dengan prinsip ibadah.

Bahkan dalam pergaulan sesuatu yang tidak islami menjadi diislam-islamkan dan disepelekan. Ambil contoh adab pergaulan antara ikhwan dan akhwat saat ini pun mengalami masa-masa kritis. Betapa islam menjaga hubungan kedua ini, namun semua disepelekan dengan kalimat syarat “asal kita nggak melakukan apa-apa kan tidak masalah”. Masya Allah… Inilah keterasingan yang kurasakan yang terkadang membuatku tenggelam dalam perenungan.

Keterasingan itu semakin terasa kala shubuh tiba. Betapa pedih saat kubandingkan manusia-manusia yang ‘cangkruk’ di Warung Kopi, dengan yang berjalan menuju ke Masjid ternyata lebih banyak yang di warung kopi. Satu hal yang kuingat dalam sebuah buku yang aku baca, “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”, Ust. Salim A. Fillah menjabarkan, bahwa Allah swt memanggil hambanya melalui tiga macam panggilan. Shalat, Haji, dan Mati. Parameter panggilan kematian tentunya kesiapan tersebut dapat diukur melalui kesigapan kita akan panggilan-panggilan sebelumnya yaitu Shalat dan Haji. Mari berinstropeksi… Sudahkah kita menyambut dengan sigap panggilanNya ?

Maka aku pun merasa islam semakin terasing. Masih terekam kuat dalam benak ini, saat dalam sebuah forum yang seharusnya bisa ditinggalkan untuk shalat sejenak, azan terdengar dikumandangkan. Forum berhenti sejenak dengan tujuan untuk menghargai katanya. Namun usai azan dikumandangkan, forum pun berlanjut dan nahasnya kadang smpai menyisakan sedikit untuk waktu shalat atau mengakhirkan waktu shalat. Kembalikan ke hati nurani kita, seandainya kita mendengar seseorang memanggil kita, bentuk menghargai kita hanya mendengarkan ? Atau menghampiri panggilannya ? Tentu kita sudah tahu jawabnya.

Dan terkadang aku pun berpikir, what must i do ? Apakah mampu diriku membawa perubahan ? dan setelah berdiskusi dengan orang-orang terdekatku, tiada kata lain selain bertahan. Ya, belum cukup ilmuku tuk merubah hal itu. Belum setinggi para ulama’ serta sahabat Nabi ilmu yang kupunyai. Maka hal positif yang dapat kulakukan hanyalah bertahan, serta mengajak orang-orang terdekatku tuk bersama dalam ikatan ukhuwah keterasingan. Satu nilai positif yang kudapat di kampusku, bahwa “orang sukses adalah orang yang mampu nyaman dalam zona tidak nyaman”.

Sekian curhatan dari diriku. Alangkah bahagianya saat antum merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan. Maka bersyukurlah dengan mengucap Alhamdulillah… Dan alangkah semakin terasingnya diriku, dan agama islam mungkin saat antum para pembaca sekalian terbersit cemooh dalam pikiran. Mari beristighfar, Astahgfirullahaladziim…….

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

  1. Hamida says:

    setidaknya ada niatan kecil di hati, itu sudah cukup, apalagi bila mengajak sekaligus mengingatkan, sudah berapa pahala yang dilipatgandakan.
    salam kenal, 🙂 -hamida-

Leave a Reply to Hamida Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *