Catatan Aktivis Dakwah #1 : Siapakah Dirimu ?

Image

Sebulan sudah, media ini terabaikan. Ya, padatnya aktivitas kampus menyebabkan saya tak sempat menjamah website ini. Maka, izinkanlah di awal bulan mei nan penuh barakah ini, saya akan memulai sebuah tulisan tentang dunia dakwah. Mungkin masih banyak kekurangan, karena saya hanyalah seorang maba, baru sekitar 9 bulan di kampus,  ibarat masih bau kencur belum tahu banyak tentang dunia dakwah khususnya di dunia kampus. Namun, izinkanlah saya menebar kemanfaatan bagi sesama. Melalui sebuah karya kecil : Catatan Aktivis Dakwah. Smoga bermanfaat 😀

Siapakah dirimu ?
Untuk apa kau dilahirkan di dunia ini ?
Untuk apa kau hidup di dunia ini ?

Itulah pertanyaan klasik yang sering terlontarkan di kehidupan ini. Inti dari pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Kenali dirimu, tujuanmu, visi hidupmu, misi hidupmu, internalisasi siapakah dirimu, lalu lejitkan potensimu untuk meraih asa yang kau tunggu. Begitu sederhana kan sebaenarnya ? Atau mungkin “Sederhana” ? Hanya anda yang mampu menjawabnya, karena saya tahu persepsi seorang yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda.

Ketika masuk ke dunia kampus pertama kali dahulu, yang saya cari pertama adalah organisasi dakwah. Mengapa ? Karena saya merasa tempat itulah yang nantinya akan mengayomi saya selama beberapa tahun ke depan di kampus ini. Lalu di ITS saya akhirnya menemukan JMMI, dan LDJ di jurusan saya yaitu MSI Ulul Ilmi. Kebetulan dahulu bertepatan dengan bulan ramadhan, maka saya mencoba aktif sebagai peserta dalam kegiatan-kegiatan JMMI. Maka mulailah terasa feel keislamannya dari aktivitas tersebut.

Kembali ke pertanyaan di atas, maka siapakah dirimu ? Antum semua adalah manusia yang dilahirkan ke dunia ini, atas kehendak Allah. Dan antum sekalian saat masih berupa ruh telah bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Hal itu termaktub dalam Quran Surah Al-A’raf 172 yang artinya :

dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)“,

Ya, dari ayat di atas antum sekalian telah mengenali sedikit dari diri antum, bahwa jauh sebelum antum ada dunia ini, ruh antum telah bersumpah di hadapan Allah bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam. So, masih mau berkhianat ? Bukankah Al-Quran mutlak kebenarannya ? Bukankah Al-Quran adalah murni perkataanNya ? Saya kira antum semua sudah tahu jawabannya.

Siapakah dirimu ? Mungkin masih terlalu abstrak bila penjelasan di atas dicukupkan. Maka izinkanlah lagi saya mencomot ayat Allah dalam Quran Surah Al-Baqarah ayat 30 :

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau. Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” – Surah Al-Baqarah: Ayat 30

Nah, udah jelas kan siapa diri antum sebenarnya. Antum sekalian adalah khalifah yang nantinya akan meneruskan kepemimpinan para ummat islam terdahulu. Antum sekalian bahkan sebaik-baik ummat, karena kita semua adalah Ummat Muhammad. Patutkah kita berbangga ? Tidak patut rasanya apabila implementasi kita sebagai sebaik-baik ummat 0 besar. Maka salah satu implementasi yang baik adalah dakwah dakwah dan dakwah.

Maka itulah dirimu. Sebagai khalifah di muka bumi ini, antum sekalian wajib menyeru manusia kepada kebaikan. Itulah esensi dari dakwah. Mengajak, bukan men”judge”. Itulah hakikat dakwah. Merangkul, bukan memaksa.

Seharusnya antum selain merasa bangga, juga harus merasa terpacu dalam berdakwah. Kenapa ? Karena itulah tugas antum sekalian. Berbanggalah bagi orang yang dijuluki aktivis dakwah. Sebab surga adalah janjiNya. Tentunya harus disertai dengan implementasi nilai-nilai keislaman.

Dan kini, tentu antum sekalian sudah tahu siapa diri antum sebenarnya. Jika diibaratkan, diri antum lilin yang akan menerangi kegelapan zaman dari pengaruh keislaman. Saya menjadi ingat akan kata bijak dari Ust. Salim A. Fillah, :

Jika engkau sedang berada dalam kegelapan, maka curigalah bahwa jangan-jangan dirimulah yang dikirim menjadi lilin penerang dalam gelap tersebut

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa lilin ? Bukan lampu yang lebih terang, atau lainnya. Jika dianlisis secara filosofis, lilin menerangi dengan membakar dirinya. Maka itulah sebuah pengorbanan. Dakwah membutuhkan pengorbanan. Mengapa pada nantinya lilin akan habis ? Itu karena segala aktivitas dakwah yang kita lakukan tak akan abadi. Ada masanya. Bahkan Rasulullah pun adlah seorang manusia biasa yang masanya kini telah diteruskan oleh kita semua, karena beliau telah wafat ratusan tahun yang lalu. Cahaya lilin tidaklah terlalu terang, namun redup. Itu karena dakwah tak mungkin dilakukan sendirian, ia membutuhkan lilin lainnya sebagai penerang. :Lilin juga rawan mati, maka itulah semangat dakwah kita. Gampang sekali digoyahkan oleh angin yang ditiupkan syaithon. Maka kita harus menjaga agar semangat itu tetap ada dan tetap menyala. Ketika ia mati, masih ada lilin-lilin lain yang mampu menghidupkan.

Sekarang tentunya antum sudah tahu. Siapakah diri antum ? Untuk apakah antum diciptakan dan dihidupkan di dunia ini ? Tidak lain untuk dakwah dakwah dan dakwah. Sebab antum semua adalah ummat muhammad, ummat terbaik yang akan mencetak sejarah islam modern di duni ini.

“Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji) serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman) dan kalaulah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana yang semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka. (Tetapi) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” – Ali Imron ayat 110

Teruntuk bagi dirimu yang masih galau dengan tujuanmu, dengan visi hidupmu. Mari bulatkan tekadmu untuk dakwah. Dakwah bil lisan, dengan lisanmu kau berdakwah, atau dakwah bil haal, dengan perbuatanmu kau teladankan kebaikan pada sesama, maka itulah sebaik-baik dakwah.

Izinkan saya mengucapkan kepada antum semua, SELAMAT!. Antum telah mengenali diri antum sekalian. Antum telah tahu tujuan antum hidup sekalian. Maka bersegeralah untuk melaksanakannya. Karena antum sekalian adalah lentera-lentera Tuhan yang diturunkan untuk menerangi dunia yang semakin kelam.

Salam Perjuangan!!! Allahu Akbar!!!

-@faizalmushonnif-

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

  1. Reblogged this on Unlimited Limitation and commented:
    great post

Leave a Reply to Nur Chariroh '14 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *