Catatan Aktivis Dakwah #2 : Karena Kau-lah Insan yang Tak Terbatas, Maka Berdakwahlah Tanpa Batas

Ketika akan menulis artikel ini, saya menjadi teringat akan sosok Nick Vujicic. Ia adalah sosok yang begitu inspiratif, dunia mengenalnya sebagai inspirator sekaligus motivator yang mampu memotivasi jutaan orang untuk melakukan sesuatu secara tanpa batas. Siapakah dia ? Untuk antum sekalian yang belum tahu siapa dia, maka izinkanlah saya bercerita sedikit.

Ketika teman-teman melihat gambar di atas, apa yang ada dalam bayangan teman-teman ? Tidak percaya ? Merasa itu hanya rekayasa kamera ? Atau mungkin itu editan via photoshop ataupun software lainnya ? Maka akan coba saya luruskan bahwa gambar tersebut benar-benar nyata, dan tanpa rekayasa.

Nick Vujicic terlahir dalam kondisi tak berlengan dan tak bertungkai. Ia hanya memiliki kaki kiri yang begitu mungil di tubuhnya. Namun, dengan keterbatasan seperti itu, tak menjadikannya terkungkung dalam keterbatasannya. Foto di atas adalah sedikit dari aktivitas manusia normal yang bisa dilakukannya. Ia bisa bermain skateboard, bermain golf, berselancar, dan lainnya. Bagi dia, hidup adalah anugerah yang terindah, maka tiada kata lain selain mensyukurinya.

Hebatnya lagi, seorang Nick Vujicic adalah seorang pemeluk kristen yang taat. Ia sering berceramah dari gereja satu ke gereja lainnya. Dalam ceramahnya ia selalu memotivasi para “jamaah”nya. Tak jarang orang-orang yang mendengarkan menangis, seraya bertambah kuat keimanannya. Hidupnya digunakan untuk mengabdi pada agamanya serta masyarakat di sekitarnya. Ia juga memiliki semacam “foundation” yang membantu orang-orang di dunia. Tak jarang ia berkeliling dunia untuk memotivasi orang-orang serta berceramah di berbagai kegiatan keagamaan di berbagai gereja. Maka itulah aktivitas tanpa batas.

Bagaimana dengan Kita ?

Bismillahirrahmanrirrahiim.

“Maka sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam kondisi sebaik-baik bentuk”

– Surah At-Tiin ayat 5.

Betapa naifnya diri kita saat dalam kondisi badan yang lebih sempurna, namun seringkali kita mengeluh akan ketidaksempurnaan kita. Padahal Allah telah bersumpah dalam firmanNya, bahwa Manusia diciptakan dalam kondisi sebaik-baik bentuk. Dan seorang Nick Vujicic ternyata betapa mampu mengimplementasikan firman Allah dalam Quran yang merupakan panduan bagi seorang muslim. Maka bagaimana dengan kita ?

Seorang Nick Vujicic dengan keterbatasan fisiknya, ia mampu menginspirasi, bahkan berceramah untuk menyebarkan agamanya. Maka kita dengan kesempurnaan fisik yang diberikan Allah, tidakkah kita mampu berdakwah ? Seharusnya kita mampu lebih dari itu. Karena tugas kita diciptakan oleh Allah di dunia ini bukan lain untuk berdakwah.

Belajar dari Sosok Abu Ayyub Al-Anshori

Bismillahirrohmanirrohiim

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun mrasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

-Surah At-Taubah ayat 41 –

Sosok Abu Ayyub Al-Anshari, mungkin namanya tak terlalu diagungkan dalam sejarah seperti nama-nama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khottob, Abdurrahman bin Auf, atau sahabat Rasulullah yang lainnya. Namun, betapa besar kemuliaan salah seorang sahabat Rasulullah ini. Ya, Abu Ayyub adalah seseorang yang rumahnya dipilih oleh Allah untuk ditinggali Rasulullah saat beliau awal-awal hijrah ke Madinah. Selama sekitar 7 bulan Rasulullah bertempat tinggal di rumah Abu Ayyub, sampai kemudian rumah beliau yang dibangunkan *yang sekarang menjadi masjid nabawi* telah rampung.

Yang tak kalah hebat, Abu Ayyub Al-Anshari dikenal sebagai sahabat Rasulullah yang nyaris tak pernah absen dalam berbagai peperangan sampai ia wafat di masa pemerintahan Muawiyah saat perang melawan konstantinopel. Ketika itu, usianya mencapai 80 tahun. Sebuah usia yang tentunya sudah uzur dan lemah untuk mengikuti peperangan. Pada waktu itu, ia ditanya oleh Yazid bin Muawiyah tentang kekerasan kepalanya mengikuti perang tersebut, padahal usianya telah mencapai 80 tahun. Maka dijawablah dengan ayat yang selalu ia ulang-ulang kepada orang lain, yaitu Quran Surah At-Taubah ayat 41:  “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun mrasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Di usianya yang tergolong senja, semangat Abu Ayyub masih seperti seorang pemuda yang membela panji-panji islam. Sebelum peperangan, beliau berwasiat kepada Yazid,

“Bila aku wafat, bawalah jasadku di atas kuda dan biarkan dia lari sejauh jarak yang dapat dicapai mendekati musuh. Aku ingin jasadku dikubur di tengah medan pertempuran atau yang dekat dengannya sehingga di akhirat nanti aku mendengar derap langkah kaki kuda dan gemerincingnya pedang”

Masya Allah, begitu luar biasa. Di tengah keterbatasannya saat usia senja, namun semangatnya dalam berdakwah patut ditiru. Dan sekali lagi membuktikan, bahwa Abu Ayyub begitu menghayati esensi dakwah. Dakwah tak harus dilakukan oleh mereka yang muda, yang pandai, atau lainnya. Tapi cukuplah kau mengajak seorang untuk berbuat kebaikan, maka itu pun sudah termasuk dakwah. Maka dari sosok Abu Ayyub Al-Anshory, seharusnya dapat kita ambil kesimpulan. Bahwa dakwah tanpa batas dengan kondisi yang terbatas bukan mustahil untuk dilakukan. Apalagi bagi kita semua ini yang masih muda di sini, bukan lagi usia sebagai hambatan, namun usia yang masih muda adalah sebuah awal dari pengabdian seseorang kepada agama, orang tua-nya, serta negaranya.

Sementara medan dakwah kita sekarang tidaklah seberat dahulu. Ketika dahulu dakwah harus dilakukan dengan pedang bahkan perang, maka sekarang dakwah tak perlu seperti itu. Namun, perang pemikiran yang dilancarkan kaum barat hendaklah kita perangi dengan terus memperdalam agama kita, Islam sehingga kita tak terpengaruh oleh gerakan yang mereka lancarkan.

Maka Berdakwahlah Tanpa Batas…

Ketika kita terlahir dengan kondisi yang sempurna, ataupun tidak sempurna, namun atas rahmat Allah kita semua dapat menghirup udara segar dunia, atas kuasanya kita bisa hidup, maka itulah nikmat tanpa batas dariNya. Maka teruntuk antum semua, berdakwahlah tanpa batas. Dalam artian di sini, bukan melampaui batas. Namun semangat yang kau usung hendaklah tanpa batas. Karena dakwah pada hakekatnya merupakan tugas yang dahulu diemban para Nabi dan Rasulnya, maka betapa mulia saat kau meneruskan tugas mereka untuk berdakwah di dunia ini.

Masih teringat betul sosok Bilal bin Rabah. Ketika ia disiksa tuannya dengan siksaan tanpa batas, justru keimanannya pun kepada Allah naik setinggi-tingginya tanpa batas pula. Kalimat cinta “Allahu Ahad” terus mengalir lewat lisannya, sembari siksaaan batu besar, cambuk terus ditempakan ke fisiknya. Namun itulah pengorbanan dalam dakwah. Kita sekarang Insya Allah semoga tidak akan menemui kejadian seperti itu lagi. Namun jangan sampai semangat kita kalah oleh sosok Bilal bin Rabah.

Teruntuk para aktivis dakwah kampus yang dirahmati olehNya, dunia kampus begitu luas tak terbatas. Maka lebarkanlah sayap-sayap dakwahmu ke penjuru kampus. Mungkin benar-benar berat, namun tidak ada yang ringan di dunia ini. Apalagi lingkungamu sekarang tak seberat zaman Jahiliyah dahulu. Ketika seorang Nick Vujicic mampu memberikan ceramah tentang agamanya dalam kondisi tanpa tangan tanpa tungkai, betapa malunya diri kita bila kita yang dikaruniai fisik yang sempurna masih ogah-ogahan, masih tak mampu tuk melakukannya.
Ketika Abu Ayyub Al-Anshari di usianya yang ke-80 tahun masih bersemangat mengikuti perang, oh betapa malunya kita yang usia masih mengalir darah muda, namun semangat justru seperti orang tua.

Maka teruntuk dirimu siapapun itu yang dianugerahi Allah berbagai kemampuan tanpa batas, Syukurilah dengan Dakwah Tanpa Batas, Insya Allah dibalas dengan kenikmatan SurgaNya yang tak terbatas. Barakallahulakum. Smoga bermanfaat 🙂

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *