Catatan Aktivis Dakwah #4 : Dakwah is Your CAREER, NOT Your JOB

Seharusnya catatan edisi ke-4 ini terbit kemarin. Namun, karena kesibukan *ups* akhirnya baru bisa menerbitkan hari ini. Kalau di tanya inspirasi menulis catatan kali ini, maka saya terinspirasi dari Buku Rene Suhardono : Your Job is Not Your Career. Begitu menarik buku ini dalam menjelaskan antara passion kita dengan pekerjaan kita belum tentu berbanding lurus. Maka, pada postingan kali ini izinkan saya menarik benang merah antara Buku Rene Suhardono dengan Dakwah.

Dalam bukunya, Rene menjelaskan bahwa pekerjaan tidak sama dengan karir. Mengapa ? Banyak orang yang tersesat dalam hidupnya. Karir didefinisikan seabagai sesuatu yang kita lakukan dan itu sesuai dengan passion kita. Sementara pekerjaan adalah sesuatu yang kita dapatkan, kita dari situ mendapatkan gaji ataupun penghasilan, namun pertanyaannya apakah pekerjaan itu sudah sesuai dengan mimpi kita ?

Banyak orang yang akhirnya mimpinya terkubur karena semata-mata gaji yang didapatkannya dari pekerjaan yang telah dilakukannya. Misalnya, saat ia masih muda, dengan darah mudanya yang berapi-api ia memiliki mimpi untuk membuat gerakan untuk bangsa ini, berkontribusi untuk daerahnya, atau idealisme-idealisme yang lainnya. Dengan potensi yang ada sebagai seorang aktivis pergerakan kampus, bukan mustahil mimpi-mimpinya akan terwujudkan. Namun apa yang terjadi selepas ia lulus kuliah ? Kala ia diterima di perusahaan dengan gaji yang besar maka ia menjadi lupa akan mimpi-mimpinya dulu. Seringkali pekerjaan memang bisa membutakan karir seseorang.

Namun, ada juga orang yang karirnya telah sesuai dengan pekerjaannya. Itulah orang-orang yang telah menemukan apa yang dinamakan passion-nya. Misalnya sejak muda ia telah bercita-cita untuk bekerja di perusahaan asing. Maka ia pun memperkuat bahasa inggrisnya, memperkuat kemampuannya, dan mempelajari aspek-aspek yang mendukung lainnya.
Hasilnya, ia dapat mencapai passion-nya.

Namun, menemukan passion dalam kehidupan tidaklah mudah. Seorang Rene Suhardono, dalam bukunya menyebutkan bahwa ia membutuhkan waktu sekitar 9 tahun untuk menemukan passion-nya. Lalu bagaimana dengan kita semua ? 🙂

Make “Dakwah” as Your Career

Mengapa di sini saya mengatakan jadikan dakwah sebagai karir ? Ya seperti penjelasan di atas. Karir tidak semata-mata karena uang. Namun karena hal itu telah sesuai dengan passion-mu. Lalu apakah dakwah yang kita lakukan nantinya karena semata-mata uang ? Tentu saja tidak. Terlalu rendah esensi dari dakwah apabila engkau bertujuan hanya semata-mata untuk uang belaka. Sebab dakwah sendiri telah diperintahkan oleh Allah dalam Quran Surah An-Nahl ayat 125 yang artinya :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl, 16:125)
Betapa agungnya nilai dakwah itu sendiri. Nilai-nilai keislaman berusaha ditanamkan dengan metode hikmah dan pengajaran yang baik. Maksudnya di sini, adalah dakwah secara perlahan-lahan, serta tidak tergesa-gesa dalam melakukan dakwah. Dakwah yang dilakukan secara perlahan-lahan dan mendalam serta dari hati ke hati, bukan secara frontal dan men-judge. Hal itu telah “mengkhianati” esensi dakwah itu sendiri. Karena pada hakikatnya dakwah itu mengajak.

Kembali lagi ke topik, kita lihat apakah Rasulullah SAW pernah digaji dalam menyerukan agama Allah ? Tentu tidak. Tujuan beliau adalah semata-mata tegaknya syariah Allah di dunia ini. Karena dakwah adalah karir dari Rasulullah. Maka betapa agungnya derajat kita di sisi Allah saat kita berkarir seperti manusia terbaik sepanjang masa, ialah Rasulullah SAW. Dalam surat Al-An’am ayat 90 disebutkan :

“Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (al-Quran)” – Quran Surah Al-An’am ayat 90

Maksudnya itulah para anbiya atau para nabi dan rasul utusan Allah. Mereka tidak sedikitpun meminta imbalan. Itu karena mereka menjadikan dakwahnya sebagai karir mereka. Bukan untuk pekerjaan mereka.

Lalu bagaimana zaman sekarang bila ada orang yang mendapatkan uang dari dakwahnya ? Apakah itu merupakan “jual-beli” dakwah ? Tentunya harus diperhatikan kembali niat orang tersebut dalam melakukan dakwah. Apakah semata-mata karena uang atau karena Allah ? Jika karena Allah, maka imbalan atau uang yang ia dapatkan semata-mata itu merupakan rezeki dan pertolongan dari Allah. Ingat Quran Surah Muhammad ayat 7 :
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa yang mau menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu, serta meneguhkan kedudukanmu – Quran Surah Muhammad ayat 7
Maka itulah kemuliaan orang yang berdakwah. Kita melihat Rasulullah sebagai pendakwah pun rezekinya dicukupkan oleh Allah. Bahkan rezekinya diinfaqkan untuk berjuang di jalan Allah. Lalu bagaimana bila masih ada yang beranggapan bahwa dakwah haya semata-mata hanya karena uang ? Quran Surah Hud ayat 29 menjelaskannya :
Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah – Quran Surah Hud ayat 29
Menurut Imam Al-Razi,  ayat ini menjelaskan bahawa seolah-olah Nabi s.a.w berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya jika kamu semua mengharapkan sesuatu yang zahir dan pasti maka ketahuilah bahwa kamu akan mendapatiku miskin, dan jika kamu menyangka kesibukanku menyampaikan dakwah ini untuk mendapatkan harta-harta kamu sekalian, maka yakinlah bahwa sangkaan kamu itu salah, sesungguhnya aku tidak menyampaikan risalah ini untuk mendapatkan sebarang ganjaran.”
Maka jelaslah kedudukan para pendakwah di mata Allah. Ia bukan untuk mencari uang, penghasilan atau lainnya. Semata-mata itu hanyalah untuk mencari keridhaan dan ganjaran dari Allah SWT. Semata-mata itu untuk membuktikan kecintaan kita kepada agama Allah, ialah Islam.
Teruntuk para aktivis dakwah, maka tempatkanlah dakwahmu sebagai karirmu, bukan pekerjaanmu. Sebab, ganjaran Allah SWT telah dijanjikan melalui firmanNya. Karena karir sebagai seorang pendakwah jauh lebih mulia daripada pekerjaan sebagai pendakwah. Rintislah karirmu selama itu bermanfaat dan sisipkan nilai-nilai dakwah dalam setiap langkahmu. 🙂

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

8 Responses

Leave a Reply to Nur Chariroh '14 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *