Mahasiswa Indonesia vs Harga BBM

Kajian Kenaikan BBM, Golongan Pendukung dan Golongan Penolak.

HIDUP MAHASISWA!!! HIDUP RAKYAT INDONESIA!!! Entah berapa kali sudah kata-kata tersebut terlontar dari lisan para mahasiswa Indonesia di seluruh pelosok negeri kemarin Senin 17 Juni 2013. Ya, apalagi kalau bukan karena keputusan pemerintah menaikkan BBM. Maka, berbagai aksi simpatik, bahkan ada yang sampai anarkis dilakukan para Mahasiswa untuk menuntut agar BBM tidak lagi dinaikkan. Namun ada pula mahasiswa yang tetap setuju dengan dinaikkannya BBM. Maka di sini, saya akan mencoba membahas dasar-dasar dari pendapat kedua pihak tersebut dan mencoba mengkaitkannya dengan apa yang dinamakan peran fungsi mahasiswa Indonesia pada khususnya.

Golongan pertama adalah pihak yang menolak kenaikan BBM. Sebagaimana kita ketahui, hampir sebagian besar mahasiswa Indonesia mengambil sikap seperti ini. BEM UI, KM ITB, BEM KM UGM, BEM ITS, BEM UB, beberapa contoh dari eksekutif mahasiswa yang mengambil sikap penolakan terhadap kenaikan BBM. Misalnya ITS. Berdasarkan naskah komprehensif kajian BEM ITS, setidaknya BEM ITS meninjau dari tiga aspek. Yaitu aspek ekonomi makro, kesejahteraan sosial, dan aspek hukum. Aspek yang pertama adalah ekonomi makro. Menurut UU. No. 19 tahun 2013, bahwa APBN 2013 diperoleh dari tiga hal. Salah satunya adalah perpajakan. Namun, kondisi perpajakan di Indonesia tidak sesuai yang diproyeksikan di APBN 2013, sebesar Rp1.033 triliyun, namun hanya diperoleh Rp512 triliyun atau 50%-nya saja. Menurut perkiraan International Monetary Fund, potensi pajak yang hilang mencapai 40%. Maka jika pemerintah berkata APBN jebol karena subsidi BBM yang tinggi, seharusnya berkacalah pada sumber pemasukan Negara lainnya. Aspek kedua adalah kesejahteraan sosial. Solusi kenaikan BBM dari pemerintah adalah dengan adanya BLSM sebesar Rp150.000 per bulan selama 5 bulan saja. Namun ternyata anggaran itu hanya Rp 12.09 triliyun dan itu hanya membantu 50% rakyat miskin di Indonesia. Sedang sisanya terkatung-katung tidak jelas. Yang mencengangkan, malah pemerintah baru saja mengucurkan dana Rp38.1 triliyun ke IMF untuk mendaftar suara keanggotaan ke lembaga tersebut. Hal itu sangat miris, mengingat kondisi di Indonesia masih sangat riskan,sementara pemerintah lebih memilih “peningkatan citra” di dunia Internasional. Aspek yang ketiga adalah aspek hukum. Amanat konstitusi secara tak langsung dilukai oleh pemerintah. UUD 1945 pasal 33 ayat 3 berbunyi, “Bumi dan air kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Pertanyaanya sekarang apakah rakyat semakin makmur ?

Kajian lainnya, dari BEM Universitas Gajahmada pun menolak kenaikan BBM. Menurut kajian ini, bahwa kenaikan BBM hanyalah usaha IMF untuk “menggiring” Indonesia ke dalam pasar neoliberalisme. Mereka pun mempertanyakan bagaiaman bisa Pertamina saat ini hanya menguasai 20% ladang minyak di Indonesia, sedakngkan sisanya sebesar 80% dikuasai asing. Dengan pencabutan subsidi BBM, maka harga BBM Nasional akan naik, dan akan terjadi persaingan ketat antara Pertamina dan perusahaan asing yang menguasai sektor perminyakan di Indonesia. Ini adalah akal licik dari IMF yang mengedepankan persaingan bebas, sehingga harga BBM dari pertamina akan sejajar dengan perusahaan asing. Adanya kejadian seolah IMF “mengontrol” perekonomian Indonesia, telah jelas melanggar konstitusi UUD 1945 Ayat 33. Bahwa penguasaan cabang produksi yang penting bagi Negara dikuasai oleh Negara. Sedangkan adanya proses liberisasi, nyatanya membuat untuk meniadakan subsidi BBM dengan dalih agar rakyat Indonesia lebih mandiri, ternyata justru malah makin mempermudah perusahaan-perusahaan asing untuk masuk ke Indonesia dan berkompetisi secara bebas dengan PERTAMINA terutama di sektor migas atau minyak dan gas.

Adapun solusi yang ditawarkan dari golongan yang meminta BBM diturunkan antara lain tentunya turunkan harga BBM. Selain itu, pemerintah seharusnya pemerintah lebih pandai dalam membangun prioritas pemangkasan APBN, karena seharusnya yang dipangkas adalah beban bunga obligasi BLBI, biaya birokrasi / pejabat, dan praktek korupsi. Selain itu pemerintah harus serius membangun infrastruktur transportasi publik untuk menekan kendaraan bermotor yang jumlahnya terus meroket. Pengembangan energi alternatif sebagai wujud diversifikasi energi juga wajib berpihak untuk mengganti semua energi fosil yang akan habis, misalnya penggunaan bahan bakar gas atau lainnya.

Golongan yang kedua adalah mereka yang mendukung kenaikan BBM. Menariknya, di sini justru mereka yang berkompeten di bidang Ekonomi yang mendukung kebijakan pemerintah Indonesia ini. Pergerakan mahasiswa Indonesia yang mendukung ini salah satunya diprakarsai oleh FMEI (Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia) yang beranggotakan BEM Fakultas Ekonomi UI, UGM, IPB, UNS, UB, dan UNPAD. Hasil dari kajian FMEI menyatakan bahwa dengan kenaikan BBM otomatis akan menurunkan beban Negara terhadap keinginan rakyat Indonesia yang minta terus “dimanja”. Dengan begitu, beban subsidi APBN dalam 5 tahun terakhir dapat perlahan dihapuskan secara permanen.

BEM FE-UI juga mencoba mengkaji tentang kenaikan BBM ini. Hasilnya, berdasarkan data yang mereka dapat tentang sasaran subsisdi BBM, data dari SUSENAS menunjukkan bahwa 40% masyarakat menengah ke bawah hanya mendapat manfaat sebesar 13.92%, malah justru golongan orang paling kaya di Indoensia mendapat manfaat sebesar 48.4%. Selain itu, subsidi pemerintah terus membengkak akibat fluktuasi harga minyak dunia, serta konsumsi dalam negeri yang terus meningkat. Apalagi BBM sekarang nyaris menjadi kebutuhan primer, sehingga berapa pun harganya, masyarakat pasti akan membeli BBM. Hal itu secara tak langsung menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia otomatis meningkat, sebab mereka akan berupaya lebih keras memenuhinya.

Maka solusi yang ditawarkan oleh golongan kedua ini adalah melakukan pembatasan subsidi BBM, dengan menaikkan harga BBM dari Rp4500/liter menjadi Rp6000/liter. Sehingga dapat menghemat anggaran Negara sebesar Rp30 triliyun, sebagian digunakan untuk meredam gejolak jangka pendek, sisanya dapat untuk pengembangan sistem transportasi di Indonesia. Untuk jangka pendek, dapat digunakan BLT. Namun itu hanya dilakukan sementara, maksimal 1 tahun. Sebab, masyarakat akan dimanja oleh uang Cuma-Cuma secara terus menerus apabila BLT dilakukan terus menerus. Dengan catatan, pemberian dirancang dengan baik dan tepat sasaran. Sedangkan untuk jangka panjang, investasi dalam pembangunan sarana transportasi dari anggaran itu tadi segera direalisasikan. Sehingga, ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya fluktuasi harga minyak bumi di dunia lagi.

Peran Fungsi Mahasiswa dalam Menanggapi Isu BBM.

Sebagaimana yang kita tahu bahwa peran fungsi mahasiswa ada empat yaitu agent of change, moral force, iron stock, serta social control. Maka menanggapai isu BBM ini, seharusnya mahasiswa di Indonesia mampu membuka mata, melakukan aksinya atau sekedar menyuarakan pendapatnya tentang kenaikan BBM ini. Maka, secara tak langsun peran fungsi mahasiswa dapat terlaksanakan. Dalam hal ini saya rasa tidak semua peran fungsi mahasiswa yang terkait dengan masalah ini, sehingga akan saya bahas beberapa saja yang benar-benar terkaii dengan isu kenaikan BBM ini.

Sebagai agent of change atau agen perubahan. Mereka yang setuju dengan kenaikan BBM, maka mereka seharusnya mereka mencoba merubah paradigma masyarakat yang tidak setuju akan hal ini. Sedangkan mereka yang tak setuju tentu akan melancarkan aksinya untuk terus mem-“push” pemerintah agar membatalkan kenaikan BBM. Keduanya tidak salah karena mereka telah berupaya menjadi agent of change. Berubah sesuai idealis mereka sendiri, tanpa terpengaruh dari lainnya.

Sebagai iron stock, atau generasi penerus. Maka kedua golongan tadi tentunya harus diberi wadah dalam menyalurkan aspirasinya. Sebab, merekalah yang masih peduli dengan bangsanya, terlepas bagaimana pun aksi yang mereka lakukan, selama menjunjung tinggi ketertiban, keamanan, dan kondusivitas, saya rasa tidak. Justru di tangan mahasiswa yang berani menyuarakan pendapatnya lah bangsa ini ke depannya menggantungkan harapan kepada mereka. Sehingga tidak pantas apabila mahasiswa selalu di cap dengan aksi-aksi anarkis, karena tidak semua mahasiswa seperti itu.

Maka teruntuk para mahasiswa Indonesia yang telah menyuarakan pendapatnya, melakukan aksinya, dan mengkritisi kebijakan pemerintah saat ini, teruslah memperjuangkan pendapat masing-masing walaupun kau berbeda. Lakukan dengan damai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat serta kedewasaan sebagai mahasiswa. Namun yang perlu diingat luruskanlah niat masing-masing untuk memperjuangkan kebenaran. Bukan pencitraan, bukan karena “title” sebagai seorang mahasiswa, atau kepentingan-kepentingan lain. Pergerakan mahasiswa dilakukan untuk membela kebenaran. Dan kebenaran itu pun mungkin relatif di mata masing-masing orang. Yang salah adalah ketika seorang mahasiswa apatis, tidak mau tahu dengan kondisi bangsanya, dan hanya memikirkan kepentingan sendiri. Sebab, menilik sejarah pergerakan mahasiswa, bangsa ini pun lahir dengan kemerdekaannya, reformasi pun datang semua tak lepas dari peluh keringat para mahasiswa pendahulu kita. Maka izinkan saya mengakhiri essay ini dengan salam hangat kebanggan mahasiswa Indonesia, dan diharapkan menjadi penyemangat. HIDUP MAHASISWA!!! HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *