Cerbung Ramadhan : 30 Hari Mencari Cinta (1)

Kukuruyuuuk…kukuruyuuukkkk,”suara kokok ayam pagi itu menyadarkanku dari kematian suriku. Aku mengkucek-kucek mataku yang masih merah. Aneka tugas – tugas kuliah membuat liburanku ini tak bisa kunikmati sepenuhnya. Maka, tetaplah hari-hariku tidur di atas jam 12 malam. Aku lihat jam, Hah ? Masih jam 3 pagi, ayam apaan tuh berkokok sepagi ini.  *plak*.. kutepuk ringan dahiku pelan-pelan. Baru sadar ini adalah hari pertama ramadhan. “Waktunya sahur ini,”gumamku. Maka bergegas aku ambil jaketku, kunci motor, dan keluar kos. Udara Surabaya pagi ini, begitu dingin, aneh. Jarang-jarang seperti ini.

Aku pun berlari-lari kecil menuruni tangga kos-ku. Menuju garasi, menyalakan motor, dan melesat cepat keluar. Rasa kantuk karena baru tidur dua jam, terlupakan oleh rasa laparku. Bergegas ku menuju warung terdekat. Tutup. Kukelilingi daerah kos-ku, sambil kuamati satu persatu warung – warung yang ada di situ. Sama. Tetap semua tutup. Tidak ada satupun yang terbuka. Sumpah serapah pun keluar dari mulutku. “Bedabah…nggak mau dapat rezeki ya kali orang-orang itu, masa’ sahur gini pada tutup semua tuh warung,”ujarku kesal.

Kupacu motorku semakin kencang. Ke tempat yang agak jauh. Suasana jalanan begitu lengang, sesekali kulihat satu dua motor atau mobil melaju kencang. Kulirik jam tanganku, dan alangkah kagetnya saat mengetahui bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 3.30 pagi. Sementara, perut masih belum terisi. Jarum speedometerku menunjuk ke angka 90 km/hour. Tak peduli. Yang penting aku harus segera menemukan makanan, apapun itu. Dari kejauhan, sekitar 100 meter di depanku tiba-tiba, aku lihat makhluk kecil melintas dengan santainya. Langsung aku rem mendadak motorku. “Ciiiiiiitttttttt…,”suara itu sampai memekakan telingaku. “Kurang ajar, hajigurrrrr… kucing hitam sialan!!!, umpatku lagi saat mengetahui itu hanyalah seekor kucing melintas di tengah jalan raya. Jantungku berdegup begitu kencang karena nyaris motor yang kukendarai jatuh bahkan sudah oleng.  Sementara kucing itu hanya menoleh ke arahku, malah terlihat bengong, sambil menggaruk-garuk telinganya, seraya berseru “Miauuuwww ?”

Dari kejauhan aku melihat sebuah tempat yang ramai di pinggir jalan. Ada cahaya lampu yang cukup terang. “Akhirnya, ada juga warung yang buka..,”aku berucap sambil mengusap-usap perutku yang sudah menjerit-jerit kelaparan. Bergegas kuparkir motorku. Warung tersebut cukup ramai. Banyak orang makan. Baru saja masuk, tiba-tiba suara radio di warung tersebut berbunyi,”Imsak kurang lima menit…. Imsak kurang lima menit,”. Maka bisa ditebak, semua orang di warung itu pun nyaris tersedak. Sementara aku sendiri berteriak ke ibu warung. Memesan apapun yang ada. “Maaf mas, ternyata semua habis. Itu tadi diborong sama bapak di sampingmu,”ujar ibu penjaga warung saat aku memesan makanan. Aku mendengus kesal, sementara bapak berkumis di sampingku senyum-senyum sendiri sambil cekikan. “Oh, ada mas, tapi tinggal mi instant saja satu bungkus. Mau tidak ?”ujar ibu penjaga warung tiba-tiba. Aku pun mengangguk pasrah. Fix lah, sahur pertamaku hari ini. Mi instant sisa berjualan plus teh hangat, yang juga ternyata hanya sisa setengah gelas -__-“.

Begitu mie matang, terburu-buru aku langsung memakannya. Panass.. oh my god.. masih panas ternyata. Rasanya lidahku terbakar. Spontan aku menyambar teh di sampingku. Celakanya, baru kusadari, kalau penjaga warung tadi lupa menambahkan air dingin pada tehku. Jadilah, lidahku serasa melepuh dan membesar karena seperti membengkak kepanasan. Sambil kukipas-kipasi diriku, aku tetap melanjutkan makan mie sambil menahan nyeri di lidahku. Aku minta es batu, dan celakanya ibu penjaga warung bilang es batu sudah habis. Wajahku pun seperti orang kesetanan, sambil menahan panas, namun tetap kupaksa kulanjutkan menghabiskan mie-ku. “Sudah berdoa sebelum makan belum nak ?”suara halus itu tiba-tiba muncul dari sampingku. Aku tersedak karena kaget, dan langsung menghabiskan teh ku. Eh, lupa lagi kalau teh masih panas. Langsung ku kipasi lidahku sambil menjulurkannya.  Radio sudah berbunyi”Imsaaak…Imsaaak…Imsaaak…”. Teh-ku pun habis, dan aku meminta air putih ke ibu warung. Bergegas aku habiskan air itu. “Pelan-pelan nak.. Tuhan tak menyukai orang yang terburu-buru…”suara halus itu pun muncul kembali. Kali ini aku tak tersedak. Bahkan sempat aku lirik ke sampingku. Aku lihat ada kakek-kakek dengan baju putih tersenyum kepadaku. Jenggotnya tergerai panjang berwarna putih pula. Di depannya ada gelas sisa kopinya yang sudah habis. Ia tersenyum padaku, dan aku pun entah kenapa merinding tiba-tiba.

Bergegas kubayar semuanya ke ibu warung. Sementara aku hendak pergi, kakek tersebut memanggilku. “Nak, namamu Imam kan ? Apakah kau sudah lupa denganku?”tanyanya. Aku tersentak kaget. Bagaimana kakek ini tahu namaku. Aku pun urung pulang. Duduk disampingnya, memperhatikan lamat-lamat wajahnya. Sepertinya aku pun tak asing, namun entah otak ini bekerja keras untuk mengingatnya, tetap saja aku tak ingat. “Sudahlah, tak apa bila kau lupa. Suatu saat nanti, kau pasti mengingatku. Bahkan mungkin kita bertemu kembali di lain waktu,”ujar kakek itu tersenyum padaku. Aku terus memandag wajah kakek itu. Berusaha mengingat sekeras-kerasnya. Namun semakin kumengingat, semakin kabur otakku. “Nak, sudahlah berhenti mengingat siapa diriku. Suatu saat Allah akan menjawabnya pasti. Aku hanya kasihan melihatmu. Makan terburu-buru, dan aku lihat kau doa. Kau tahu nak, bila seseorang lupa berdoa saat makannya, maka akan ada syetan ikut makan bersamanya. Kau tahu kan hal itu ?”kata kakek itu memulai pembicaraan. Aku terdiam, jengkel. Siapa sebenarnya orang ini, mau ikut campur saja urusanku. Kalau dia tidak terlihat berwibawa, mungkin sudah aku tinggalkan dari tadi.

“Nak, aku tahu tadi pagi kau ngebut ke sini, sumpah serapah, mengumpat, berkata kotor. Kau melakukannya kan ? Kau pun tak perlu bertanya-tanya, siapa diriku, bagaimana aku mengetahui. Justru aku harusnya bertanya kepadamu, kau lupa kalau ini bulan Ramadhan? Bulan yang suci, penuh makna, dan kau tadi pagi sudah mengotorinya dengan lisanmu yang tak terjaga. Bagaimana aku tidak prihatin melihat anak-anak cucuku generasimu kebanyakan saat ini berperangai seperti itu.”ujar kakek itu. Kulirik jam dinding, sudah pukul 04.10. Sepuluh menit lagi adzan subuh berkumandang. Sementara aku masih terpaku. Bingung. Hei, bagaimana kakek ini mengetahui kejadianku tadi pagi. Siapa sebenarnya orang ini? Aku semakin penasaran.

“Nak, daripada terdiam saja, sekarang aku bertanya. Jika ini ramadhanmu yang terakhir, maka pantaskah kau berbuat seperti itu? Jika selepas ramadhan kau ternyata telah dipanggil menghadapNya, maka tidakkah penyesalan menyesaki dadamu ? dan jika ternyata selepas ini ada malaikat maut mencabut nyawamu, sempatkah kau memohon ampun atas perkataanmu?”tanya kakek tersebut. Aku pun terkesiap mendengar pertanyaannya. Bukannya sadar, justru aku semakin jengkel. “Bah, siapa kau mau tau urusan hidupku. Bukan urusanmu kalau aku nanti mati, bahkan setelah ini mati. Siapa pula kau kek mengingatkanku, sok akrab denganku. Toh kalau aku habis ini mati, aku pun masih berpuasa. Bukankah kalau orang mati dalam kondisi puasa itu syahid ? Itu yang kupelajari. Dan itu udah cukup. Ah, sudah aku pulang saja. Capek mendengar tausiyah murahanmu kek!”ujarku. Tanganku beringsut mengabaikan kakek itu. Menyenggol gelas yang berisi air minum sisaku, dan tumpahlah air itu di mejaku. Ibu warung memarahiku. Susah-susah ia bersihkan sekarang aku kotori lagi. Aku meminta maaf, dan bergegas mengelapnya. Mengambil tisu di tempatnya. Kosong. Pinjam lap ibu warung, ternyata sudah ia cuci dan masih basah.

“Ambillah ini,”ujar kakek itu menyerahkan sapu tangan kepadaku. Tanpa mengucap terima kasih, aku mengambilnya, dan mengusap meja tersebut hingga bersih. Saat aku mengembalikannya, ia berkata,”Bawalah. Suatu saat, itu akan menuntunmu ke jawaban pertanyaan-pertanyaanku tadi. Ingat pesanku. Mungkin ini ramadhan terakhirmu nak. Manfaatkan sebaik-baiknya.”ujar kakek itu. Aku berjalan ketus. Tak peduli. Namun tetap kubawa sapu tangan tadi. Ah, paling nanti di kos buat lap meja. Lumayan lah. Bergegas, aku menyalakan motorku.

Manakala aku starter motorku, hp-ku berdering. Ada sms masuk. Aku buka, dan aku pun terkesiap membaca sms itu. Tanpa Nomor!!! Namun berisi pesan kakek itu tadi, “Jika ini Ramadhan terakhirmu, kau mau apa?”. Pesan singkat itu cukup menggetarkanku. Aku lihat ke warung tadi, kakek itu sudah tidak ada. Aku merinding. Segera kupacu motorku sekencang mungkin. Angka speedometer menunjukkan 120 km/hour. Tak peduli aku. Dari jauh aku lihat makhluk kecil lagi-lagi melintas. Kali ini aku tidak mengerem, tetap melaju kencang. Kucoba menghindarinya, dan ternyata berhasil!!! Suara azan subuh kudengar menggema di mana-mana. Jalanan pun makin sepi. Beberapa kali kulewati masjid yang jamaahnya membeludhak. Hari ini adalah hari pertamaku berpuasa di rantau. Motorku melaju semakin kencang membelah dinginnya udara pagi. Sedingin perasaanku terhadap peristiwa di warung tadi.

Sementara itu, dari tempat parkir motorku tadi, kakek itu berdiri takzim menyaksikan motorku melaju pesat. Di sampingnya, berdiri seseorang yang masih muda. Ia terisak memeluk kakeknya. Kakeknya pun merangkul bahunya. Berusaha menenangkannya. Tangisnya pun sedikit reda. Berusaha meyakinkannya dengan sapu tangan itu. Ya.. sapu tangan itu….

***

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *