Cerbung Ramadhan : 30 Hari Mencari Cinta (2)

“Gooooaaaal!!!!”Aku berteriak kegirangan manakala aku mencetak goal. Bukan aku, tapi pemainku di permainan PES. Ya, seperti biasanya, bosan dengan tugas kuliah, aku menghabiskan hari ini dengan bermain PS di rental dekat kos-ku. Bersama teman-teman sepermainanku Andi, Firdaus, dua anak kembar Toni dan Tono, serta Rony, kami menyewa beberapa Play Station dan TV-nya selama seharian penuh. Hari ini akan kubuang seluruh pikiranku mengenai tugas-tugas kuliah yang telah mengganggu liburanku. Hari ini murni have fun. Tidak ada lagi tekanan dari tugas-tugas itu, dari orang tua yang mencak-mencak saat tahu aku tidak bisa pulang karena begitu menumpuk tugasku, dan dari dosenku yang killer-nya setengah mati. Hari ini bebas se bebas-bebasnya.

Sementara tanganku memainkan stik PS, aku mengingat-ingat kalau hari ini adalah hari kedua puasa. Ya, tadi pagi aku belajar dari kejadian kemarin. Bangun jam 2 pagi, lalu bergegas cari warung dan TIDAK AKAN LAGI aku berkunjung ke warung kemarin. Daripada ketemu kakek-kakek sok tau itu, lebih baik aku mencari warung lain. Syukurlah, warung dekat kos-ku yang malam sebelumnya tutup, hari ini ntah kenapa buka semua. Aku senang. Selain tak perlu jauh-jauh, tak perlu ngebut, dan tidak mungkin aku ketemu kakek misterius itu tadi. Dan benarlah, ternyata hari itu memang aku tak bertemunya. Paling tidak tidak mengganggu hari bersenang-senangku hari ini.

Asap rokok memenuhi ruangan PS. Rasanya semakin membara panas surabaya siang ini. Ntah tidak seperti hari pertama berpuasa kemarin, cuaca begitu mendukung. Namun, hari ini entah udara begitu panas, membakar tenggorokanku. Berusaha kulupakan hal itu, maka aku kembali bersenang-senang. Memainkan stik ps yang sudah mulai memanas seharian ini karena kugunakan nonstop. Aku melirik jam, tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.45. Sayup-sayup terdengar azan zuhur berkumandang. Namun, aku lihat di depanku, bola menggelinding lincah. Ah, lebih seru ini, ntar aja shalatnya bareng-bareng sama lain. Aku lihat teman-temanku, masih asyik dengan permainannya masing-masing. Seakan tak mendengar azan berkumandang… Seakan acuh terhadap kanan kirinya. Ah, nanti saja lah, nanggung juga ini kalau ditingal mainnya, gumamku.

Setengah jam berlalu, dan tiba-tiba kepalaku pusing. Sepertinya mungkin karena udara di dalam sini terlalu pengap dan penuh asap rokok. Kuputuskan berhenti sejenak. Keluar dari rental, dan menghirup udara segar diluar. Sejenak ku berjalan-jalan. Hmmm, lumayan. Lalu ku kembali lagi untuk bermain. Namun, baru satu pertandingan, ternyata aku kalah telak, karena kepalaku kembali pusing lagi. Tono dan Toni, duo kembar itu menertawakanku yang kalah 10-0. Aku hanya garuk-garuk kepala sambil memegangi kepalaku yang makin pusing. “Kenapa mam, kau sakit? Dari tadi kepalamu kau pegangi dan kau pijat-pijat gitu ?”tanya Tono padaku. “Entahlah, rasanya cenat-cenut dari tadi,”jawabku. “Aku punya obat mujarab bro, buat pusingmu. Ingin cepat sembuh gak ?”Toni menimpali. “Heh, puasa kali broo… mana mungkin aku minum obatmu, kayaknya habis ini aku balik kos aja deh, mau tidur. Pusing banget nih kepala,”ujarku menimpali perkataan Toni. Toni dan Tono pun saling melirik dan mereka tersenyum penuh arti. “Tenang bro, obatnya nggak perlu diminum, atau di makan. Bisa mati malah kau kalau kau minum dan kau makan hahahaha…”ujar Tono. Aku pun menggaruk-nggaruk kepala tak mengerti. Dan aku terkesiap saat Toni menyodorkan obatnya kepadaku. “Rokok? Ah nggak mau. Bagaimana mungkin itu bisa mengobati. Lagian masa’ puasa-puasa gini ngerokok, Batal lah. Kalian tidak puasa?”tanyaku. “Sok tau kau mam, emang kamu sudah pernah nyobain? Eh, gak usah sok alim pula, puasa itu  asal nggak makan sama minum udah sah kali. Emang rokok ini kita makan hah ? Emang kita telan ? Emang kita minum ? Ngga mungkin kan ? Udah, coba aja dulu dijamin hilang.”ujar Tono. Aku menerimanya ragu-ragu. Seumur-umur belum pernah sekalipun aku merokok. Sekali lagi mereka berusaha meyakinkanku. Aku terdiam. Tiba-tiba teringat ayah, ibu, adikku. Bagaimana perasaan mereka kalau tahu bahwa aku merokok ? Aku pun terdiam sejenak. Berpikir, menimbang-nimbang.

“Udaaah.. coba aja. Rokok bukan untuk dilihat bro, tapi dihisap, dan rasakan sensasinya.. hahaha..”Andi tiba-tiba ikut menimpali. Aku pun dengan ragu-ragu menyobek bungkusnya. Masih baru rokok ini rupanya. Kuambil sebatang, dan kucium baunya. Hmm, enak memang. Kucium lagi… hmmm kelihatanna nikmat. Andi tertawa melihatku mencium berkali-kali. “Heh, rokok bukan untuk dicium kali. Kau kira itu cewek kau ? Hahahaha, “ujar Andi. Langsung kulempar batang rokok tadi ke arah Andi. Kena jidatnya tepat, ganti aku yang tertawa. Andi bersungut-sungut, tapi ia segera menyodorkan korek ke aku. Ia menyodorkannya seraya menyalakannya. Aku pun membakar rokokkku. Dan coba kuhirup. “Bismillahirrahmanirrahiim… Smoga pusingku cepat sembuh Ya Allah…”doaku sebelum merokok, dan tanpa sadar aku mengucapkannya terlalu keras. Dan tanpa sadar semua orang di rental ini mendengarku barusan. Tanpa sadar suasana begitu hening, dan tiba-tiba…..”HUAHAAHHAHAHAHHAAAA…”tawa seluruh pengunjung rental meledak. Aku sendiri bingung masksud mereka apa. “Dasar anak mudaa.. kau polos sekali soal rokok. Seumur-umur baru kutemui orang membaca bismillah sebelum merokok. Hebat kau… hahahahhaha,”kata penjaga rental mendekatiku. Pipiku pun memerah, dan kuputuskan keluar rental. Mencari kesegaran, sekaligus membuang rasa malu barusan.

Maka diluar, aku menghabiskan sebatang rokok. Ajaib, pusingku reda tiba-tiba. Namun, yah seperti kata ayah dan ibuku saat berpesan kepadaku dulu. Bahwa rokok adalah candu. Kuambil sebatang lagi, langsung kuhabiskan dalam sekejap. Saat mau mengambil yang ketiga, tiba-tiba hapeku berdering. Ada sms masuk. Kubuka sms itu dan terkesiap melihat isinya. “Assalamu’alaikum nak, kamu sudah merokok ya sekarang? Kakek begitu menyesal memberikan sapu tangan kemarin kalau begini ceritanya. Itu bukan sapu tangan biasa. Suatu saat kau akan mengerti. Oh ya, jam berapa sekarang ? Kau sudah shalat ? Ingat, ya, ini mungkin bisa saja ramadhan terakhirmu…”kata kakek itu dalam sms. Spontan aku melirik jam, dan alangkah kagetnya waktu menunjukkan pukul 14.30. Pontang-panting aku berlari ke musholla terdekat. Mati airnya. Sampaaah… masa’ siang bolong gini air pada mati semua. Kemudian ku berlari ke kos-ku yang tak jauh. Meninggalkan rental dan teman-temanku. Bergegas ku berwudhu, lalu shalat dengan kecepatan kilat. Tepat saat salam, azan ashar berkumandang. Aku tertunduk. Ada perasaan bersalah yang besar dalam diriku. Langsung kulanjutkan dnegan shalat ashar. Dan aku memutuskan kembali ke rental.

“Brooo ke mana saja kau? Ayo, ini turnamen tinggal kau dengan Andy yang belum main. Keburu habis nih sewanya,”tanya Rony kepadaku. Aku mengangguk lemah. Dan bermain dengan penuh tidak semangat. Kalah. “Kau ada masalah ? Rokok tadi ? Pusingmu udah hilang kan ?”tanya Rony. Aku hanya mengangguk pelan sambil tak bersemangat. “Ngak ada masalah, ntahlah,, moodku hilang untuk bermain bro,”jawabku datar. Sementara waktu akhirnya menunjukkan pukul 17.00. Masa sewa kami sudah habis hari ini. Aku dan teman-teman urunan membayar. Aku pun memutuskan balik kos duluan, sementara teman-temanku ingin buka bersama. Aku beralasan tak enak badan, padahal sebenarnya tidak.

Sepanjang perjalanan, aku hanya melamun. Merenungi nasib. Dan tiba-tiba entah kenapa aku memikirkan sms kakek misterius itu. Sapu tangan pun juga melintas dipikiranku. Sebenarnya, ada benarnya juga. Mau jadi apa aku, kalau ini ramadhan terakhir. Namun lagi-lagi kutepis anggapan itu. Itu kan hanya alat dia untuk menakut-nakutiku. Lagipula, hidup juga mesti have fun bukan? gumamku dalam hati. Maka, tak terasa aku sampai di kosku, tepat saat azan berkumandang. Aku berbuka. Sendirian.. Sambil tetap ada kecamuk dalam diri. Sambil tetap merenungi hari ini. Sebenarnya, merasa senangkah aku dengan kondisi saat ini? (cont’)

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *