Cerbung Ramadhan : 30 Hari Mencari Cinta (3)

Siluet matahari pagi ini membangunkanku. Perlahan-lahan kubuka mataku. Sinar matahari merasuk dari ventilasi kamarku, mengenai wajahku. Hingga aku terbangun. Aku lirik jam di hp-ku. Jam 6.30. Hmm, jam 6 rupanya? “APAAAAA??? JAM 6??? BRENGSEK, AKU GAK SAHUR!!!”umpatku. Lebih tersadar lagi, kalau aku belum shalat subuh. Bergegas aku ambil air wudhu, shalat cepat-cepat, lalu kulanjutkan dengan baca quran. Aku benar-benar tak mengerti. Semalam aku tenggelam dalam pikiranku. Tentang kejadian 2 hari yang lalu. Hari ini, hari ke-3 aku puasa, dan aku semakin merasakan kehampaan dari ibadahku ini. Aih, masa bodoh tenggelam dalam pikiran tak penting seperti ini. Toh aku sudah berusaha. Lagi-lagi nafsuku menepis anggapan tersebut.

Jam menunjukkan pukul 07.00. Aku masih malas-malas di atas kasur. Malas bergerak alias “mager” bahasa kerennya. Kutepuk dahiku pelan. Baru ingat, ntar jam 07.30 aku janji sama teman-teman sepermainanku. Kali ini bukan bermain PS lagi. Tapi mengerjakan tugas liburan ini bareng-bareng. Kami sudah bersepakat mengerjakan di perpustakaan kampus. Aku pun menyambar handuk di kursi kos-ku. Bergegas aku mandi, gosok gigi, keramas, lalu kupakai baju standar perkuliahan. Kumasukkan laptopku, serta gadget elektronikku ke dalam tas. Aku pun berangkat menuju perpustakaan kampus dengan motor butut kesayanganku. Ah terlalu panjang ceritanya bila kuceritakan bagaimana bisa aku mencintai motor yang sudah uzur sebenarnya ini. Yang jelas, ini adalah hadiah dari ayahku saat aku diterima di perguruan tinggi ini 2 tahun yang lalu.

Setiba di perpus, waktu masih pukul 07.20. Sementara, perpustakaan masih terlihat lengang. Pak Gimin, petugas administrasi kulihat masih terkantuk-kantuk. Kantin perpustakaan tutup dalam rangka bulan puasa seperti sekarang ini. Sementara aku menuju ke meja, tempat kami biasa mengerjakan tugas bersama-sama. Ternyata belum datang teman-teman. Aku menyalakan laptop sejenak, sambil memasangkan headphone, dan menunggu sambil memutar lagu-lagu nostalgia sejenak.

Tanpa terasa wakt menunjukkan pukul 08.00. Dan masih belum datang juga Andi, Toni, Tono, Rony, Firdaus. Aku mulai gusar menunggu. Aku sms mereka satu persatu tiada yang membalas. Aku telpon mereka tiada yang mengangkat. Jangan-jangan masih tidur lagi. Huh. Tak peduli sudah. Aku segera mengambil buku-buku referensi. Mengerjakan sendiri, tak peduli mereka, dan aku putuskan tak menunggu mereka. Kumulai mengerjakannya dengan serius…

Pukul 12.45. Tak terasa sudah sekitar 5 jam aku duduk di sini. Kepalaku pening. Tiba-tiba 5 sms masuk bersamaan. Bingung. Lalu kubaca, ternyata mereka semua semalam menginap di rumah Andy. Dan serempak kesiangan semua. Mreka bertanya masih di situ kah aku ? Kalau iya, mereka akan menyusul. Ini sms dari Andy .

A : Masih di situ bro ? Sorry… gw kesiangan

I : Iya, smpe bete aku nungguin kalian.

A : Sorry banget, semalam nonton film, smpe jam 3. Trus pada ketiduran smua abis sahur.

I : Payah lu. Yang lain juga belum datang ini pada ke mana ?

A : Yang lain nginep di rumah gw, lihat film bareng. Kamu sih gak ikut.

I : KALO AKU IKUT YA KESIANGAN JUGA NTAR!!! TUGAS WOYY TUGASSS!!!

A : ampun bos ._.v. iya habis ini kita ke sana

I : cepet!!!!!!

Maka aku keluar perpustakaan sejenak. Ku bakar rokok pemberian Andy kemarin. Masih ada, kusulut dia. Lumayan, ternyata memang rokok menghilangkan kepenatan dan kepeningan. Orang-orang yang lewat di sekitarku seakan melirikku yang dengan santai merokok di area kampus. Aku tak memedulikan itu, toh bukannya ini masa-masa liburan. Satu rokok, dua rokok, smpai tiga rokok dan kawan-kawanku tak datang juga. Bego smua. Gak kasian apa sama aku yang udah seharian di sini. Kuputuskan kembali. Jam menunjukkan pukul 14.15.

Kembali aku serius dan tenggelam mengerjakan tugas yang begitu banyak. Pukul 16.00 teleponku berdering. Deg, berdegup kencang aku. Ternyata ayahku menelpon. Langsung kuangkat.

A  : Assalamu’alaikum nak…

I : Wa’alaikum salam yah…

A : Gimana kabarmu ? Udah hampir seminggu kok gak ngabarin keluarga ?

I : Baik. Maaf, sibuk.

A : Nak, sesibuk apapun kamu mestinya ngabarin ke ayah, Adikmu juga. Kami semua memikirkan kamu di sini.

I : Yayayayaya…. nanti aku kabarin terus deh.

A : Oh ya, ayah mau ngabarin, besok kami mau ke surabaya. Sekalian mau mampir ke kosmu. Udah lama nggak ke situ. Ini adikmu juga kangen.

I : Oh kok ndadak ? Oke lah yah. Kosku masih berantakan nih hehehe…

A : Yaudah, keluarga mau datang mestinya tahu kan kos harus diapain?

I : Iya iya… ntar aku rapiin.

A : Oh ya ini adikmu mau bicara dengan kamu.

Pembicaraan terus berlanjut. Adikku yang paling bungsu ini masih kelas 1 SD. Aku ingat 6 tahun yang lalu, dia lahir prematur. Pertama kalinya ibu harus operasi. Dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku, aku kehilangan orang yang begitu kucintai. Ya. Ibu menghembuskan nafas terakirnya setelah mengalami pendarahan hebat pasca operasi. Aku ingat kata-kata terakhirnya, “Imam, sebagai anak pertama, kalau nanti ibu nggak ada , ibu titip ayahmu. Ibu titip adik-adikmu….”, ujar ibu. Aku pada waktu itu tak sanggup berkata apa-apa. Hanya terisak. Menyaksikan tubuh ibu terbaring lemah, dan kemudian sesaat setelah itu beliau meregang nyawa. Ayah berada di sebelahnya menggenggam tangan ibu kuat-kuat. Membantunya membaca kalimat-kalimat illahi. Sementara aku menangis di sebelah kirinya, menggenggam lengannya. “Asyhadu anlaa ilaaha illallah… wa asyhadu anna muhammadarrosuululllah…,”tiba-tiba ibu berseru kencang lalu hilanglah suaranya. Hilang pula nafasnya. Hilang detak jantungnya. Dan hilang pula kehidupannya. Beliau telah syahid. Beliau telah khusnul khotimah. Dan suara isakan ayah dan aku semakin keras. Malam, itu, tepat pukul 03.00. Waktu yang seharusnya ibu terjaga jam segini, menyeruakkan kepalanya di atas permadani sajadahnya.

Maka hari itu, ya hari itu ntah kenapa aku begitu membenci adikku yang satu ini. BENCI!!! Kenapa dia harus terlahir ??? Kenapa dia merenggut nyawa ibu ? Apa dosa ibu sehingga harus terlahir dia ? Adikku ini bertama Laila. Ayah sengaja memberinya, untuk mengenang ibu yang telah meninggal saat malam hari. Aku lirik adikku yang pada waktu itu terbaring lemah di dalam inkubator. Tubuhnya masih merah warnanya. Sejenak aku merasa kasihan, dan bersyukur aku terlahir dengan normal. Matanya tertutup, mulutnya terbuka melongo. Jarijemarinya masih begitu kecil. Ia tertidur pulas. Lucu sekali melihatnya. Sejenak aku merasa melunak.

L : Kaakakaaaak.. aku kangen bangeet.. Kak ? halo ? halo ? jawab kaaak…. *ujar adikku, dan itu pun membuyarkan lamunanku*

I : Oh yayayaya… halo ? iya aku kangen juga dek. *jawabku dengan tidak ikhlas*

L : Yaaah… kapan sih kakak pulang ? Aku sama ayah sendirian nih…

I : Nggak tau. *jawabku ketus*

L : Kok nggak tau ? Hufft… nanti kalau nggak pulang adik nangis lho.

I : Ya udah nangis aja siapa yang peduli. Dasar cengeng

L : huuuuh….

Tak terdengar lagi suara telpon. Yang ada tangisan di seberang. Terdengar pula suara ayah mendiamkan. “Cup…cup…cupp…, mungkin kakakmu lagi capek nak. Udah nggak usah dimasukin ke hati…”kata Ayah. “Huhuhuu…tapi kakak jahat… masa’ nggak tau kapan pulang. Masa’ bilang kalau laila cengeng. Huhuhuhuhuu…”, tangis Laila pada ayah. Rasain tuh. Gara-gara kau aku kehilangan ibu. Makan tuh tangismu. Aku menutup telepon. Kembali ku mengingat lamat-lamat detik-detik kematian ibu. Dan teleponku berdering kembali.

A : *Ehm*. Seharusnya kamu nggak begitu sama adikmu

I : Huh, ayah nggak pernah ngerti perasaanku yah. 6 tahun yang lalu!! 6 tahun yang lalu yah!! Ayah masih ingat kan ?

A : Sudahlah Imam, itu bukan salah adikmu. Sudah kehendak Allah bukan ?

I : Trus salah siapa ini ? Salah Allah ? Oke sekarang berarti aku menyalahkan Allah. Gak usah nyalahin adik. Aku minta maaf.

A : Bukan begitu sayang. Ini takdir. Kamu nggak kuasa menolaknya.

I : Ah ayah memang tak akan pernah mengerti!!!

A : *menghela nafas* ya sudah, semoga suatu saat kau akan mengerti. Oh ya sudah, pulsa ayah mau habis ini. Jangan lupa shalat, puasamu masih jalan kan ? Shalat malam juga. Dan ingat, jangan sekali-kali ngerokok ya. Ayah nggak mau kamu seperti ayah dulu. Ibu mu mungkin meninggal juga karena terlalu banyak menghirup asap rokok ayah… *suara ayah tiba-tiba tercekat

I : *terkesiap aku mendengar perkataan ayah barusan, seumur2 ayah baru mengatakn kalau dia dulu sebenarnya perokok berat. Ia merokok saat aku tak ada. Tak mau memberikan contoh kepadaku. Namun lihat, sekarang aku tak ada bedanya dengan ayah. Justru lebih parah. Shalat ? Aih, baru ingat aku tak shalat dhuhur, dan belum lagi shalat ashar. Puasa ? Masih laaah. Shalat malam ? hahaha.. aku lupa kapan terakhir melakukannya.* Iya yah. *jawabku penuh munafik.

A : Wassalamu’alaikum…

I : Wa’alaikum salaam. *tuut..tuutt*

 

Ingatanku kembali menerawang ke masa lalu. Ya, aku ingat. Usai melihat adik dengan penuh kebencian, saat itu aku kembali melihat ibu, justru kembali rasa benci itu muncul. Mungkin kalau aku kelewatan, bisa saja kulepas selang oksigen yang masuk di inkubator Laila. Biar sama-sama mati. Adil!. Namun tentu saja aku tak tega. Apalagi ibu berpesan kepadaku untuk menjaganya. Maka hari ini, aku telah berjanji kepada ibu. Walau perasaanku begitu berat. Walau kebencian itu kian membuncah. Namun hilang ntah ke mana saat melihat wajah ibu.

Pada waktu itu pula, Izrail membawa ibu ke langit. Suasana Ramadhan, membuat semesta selalu bertasbih semakin kencang pagi, siang dan malam. Pintu pintu tiap langit membuka lebar-lebar menyambut datangnya sosok wanita tangguh. Para penghuni langit berbisik-bisik mengharapkan mereka menjadi teman dari ibu. Arwah ibu melaju kencang menembus sampai langit ke-7 menuju Arsy Allah. Pada hari itu, ibu melihatku, ayahku, dari kejauhan. Ia terisak manakala melihatku dibakar api kebencian. Ia terisak manakala melihat Laila terbaring, begitu lucunya, masih labil kondisinya. Ia terisak manakala melihat suaminya menjadi lelaki yang kini sendirian, tak bisa menemaninya, merangkai mimpi-mimpi yang mereka susun saat pernikahan mereka dulu. Namun itulah ibu. Sekalipun jiwanya menangis, namun raganya tetap terseyum menampakkannya di depan suami dan anak-anaknya. Senyum teduh khas ibu. Senyum yang penuh makna. Senyum yang nantinya membuatku menemukan arti cinta sesungguhnya.

 

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *