Cerbung Ramadhan : 30 Hari Mencari Cinta (4)

Hari ke-4 ramadhan. Hari ini aku terbangun lebih pagi. Maklum, hari ini, ayah dan adikku akan datang menyambangiku. Kamar kos-ku seakan kapal pecah. Baju berserakan, tak tahu mana yang bersih habis aku cuci mana yang kotor habis aku pakai. Buku-buku berceceran di lantai. Cucian piring bekas makanku seminggu yang lalu masih ada, sampai banyak lalat mengerubunginya. Kasurku entah spreinya hilang ke mana. Sandal, sepatu semuanya tinggal satu, entah ke mana pasangannya. Alat tulisku berserakan di sekitar kamar. Hanya kasurku saja yang bersih, tanpa sprei, tanpa sarung guling dan bantal karena entah lepas dan jatuh bercampur dengan baju bersih. Aku garuk-garuk kepala melihat kamarku yang seperti habis kena gempa. Oh my god…. Musti mulai dari mana ini?

Kuputuskan memulai dari buku-bukuku. Kupisahkan dari aneka macam yang bercampur. Ada bolpoin, pensil, plastik bekas snack, penghapus, selotip, bahkan ada sendok makan yang kucari-cari sejak seminggu yang lalu. Rupanya belum kucuci. Sampai bekas nasinya mengerak di sendok tersebut. Bahkan aku menemukan kaus kaki di sela-sela bukuku. Mameeen -__________-” sejak kapan aku memakai kaus kakiku buat pembatas buku. Aku pisahkan buku-bukuku. Kupisahkan berdasarkan kategori. Ada yang buku kuliah dan non kuliah. Sekitar 15 menit selesai kupisahkan. Niatku memasukkan lemari. Begitu kubuka lemari bukuku yang terkunci, buku-buku didalamnya berhamburan menimpaku. -_____-“. Kubereskan. Rupanya itu buku-buku yang mau kusumbangkan sebulan silam, namun aku lupa menaruhnya. Ternyata ada di lemari terkunci ini. Maka langsung kurapikan, kubungkus kardus kusendirikan di luar buku-buku yang akan kusumbangkan itu. Besok akan kutitipkan temanku yang punya koneksi ke sekolah anak jalanan, pikirku. Sementara itu aku terus menata buku-buku. Selesai. Sekitar 1 jam kemudian selesai.

Selanjutnya baju. Dengan teliti kupisahkan baju bersih dan baju kotor yang bercampur. Beberapa yang bersih malah terpaksa kucuci kembali karena terkena bau dari baju yang kotor. Kulipati satu persatu.. lalu kusetrika pelan-pelan. Hampir 2 jam aku membutuhkan untuk membersihkannya. Akhirnya rapi juga. Dan kumasukkan ke dalam lemari bajuku. Selesai. Dan tiba-tiba telepon berdering. 

A : Assalmu’alaikum mam, ayah baru nyampai tol surabaya nih. Mungkin 30 menitan lagi nyampe

I : Whattt ???? Cepat banget. Eh, keliru. Wa’alaikum salam… eh oh.. eh iya ayah… jangan keburu-buru nyetirnya juga. hehehe..

A : kamu ditelepon orang tua kok kayak ngomong sama teman sendiri

I : Iya yah, maaf…

A : Yaudah… ayah cuman ngabarin aja bentar.

I : Oke yah, hati-hati di jalan.

A : Wassalamu’alaikum

I : Wa’alaikum salam.

Sontak aku terkejut. Baru buku dan baju. Sementara kasurku masih semerawut, debu masih di mana-mana, belum juga aku pel lantai ini. Langsung aku bekerja ekstra cepat. Kasur ku beri sprei, dan bantal ku kasih sarung bantal. Aku mengambil sulak, kubersihkan segala perabot di kamarku. Lalu kusapu kotorannya keluar semua. Kemudian aku mengisi ember penuh dengan air di kamar mandi, lalu aku beri cairan pel, kemudian aku pel kamarku. Dalam sekejap, sekitar 20 menit semua selesai. Ajaib. Setidaknya terlihat rapi walau tempat belajarku terlihat sedikit berantakan. Kuputuskan mandi sejenak. GEBYARR…GEBYURRR… suara percikan air terdengar menggema di kamar mandi. Aku harus cepat. 5 menit lagi seharusnya ayah sudah datang. Dan benar saja, baru keluar dari kamar mandi, pintuku sudah diketuk. “Assalamu’alaikum….,”terdengar suara ayah.

Buru-buru aku berpakaian secepat-cepatnya. Tak sampai semenit aku sudah berpakaian lengkap. “Wa’alaikum salam…,”kubuka pintu lalu kusambut ayah dengan pelukan hangat. Ada adikku ikut. Huh, anak ini lagi. Ia merajuk memelukku. Aku pun memeluknya. Biarpun ada rasa benci, namun tak bisa dipungkiri ada rasa rindu kepada dirinya. Akan kecerewetannya, keusilannya, dan yang bikin rumah ramai.

Maka langsung adikku bertanya macam-macam. Mulai dari kuliah, aktivitas sehari-hari, dan lainnya. Aku berusaha sabar menjawabnya. “Gimana kak, kuliahnya lancar?”tanyanya. “Iya, alhamdulillah lancar,”jawabku. “Trus gurunya galak nggak?”tanya dia. “Nggak kok. Nggak kayak waktu sekolah dulu gurunya. Beda lah dik,”jawabku. “oooo beda ya, ada pelajara apa aja kak di kuliah itu?”tanyanya. “Oo banyak dek, ada kalkulus, fisika, dan lainnya…”jawabku mulai tak sabar. “ooowalaah… itu ngapain kak pelajarannya?”tanyanya. Sebelum ia melanjutkan, ayah memberiku isyarat ingin bicara empat mata. Maka aku pun menyalakan laptop. Aku nyalakan game terbaruku. Kuajari adikku main sebentar, dan akhirnya ia sibuk main dan tak lagi bertanya padaku. Yak, sudah. akhirnya perhatiannya teralihkan. Sementara ayah mengajakku keluar sejenak untuk bicara.

“Bagaimana tugas-tugas kuliahmu? Ada masalah?”tanya ayah. “Tidak yah. Masalahnya cuman satu yah, sebenarnya. Banyak banget. Aku smpai belum bisa pulang hingga sekarang. Harus sering cari referensi buku-buku kuliah di perpustakaan,”jawabku. “Syukurlah kalau begitu, Ayah begitu khawatir kau ada kesulitan.”kata Ayah. “Tenang saja ayah, Insya Allah tidak ada. Kebetulan di sini aku kan nggak sendirian. Banyak juga teman-temanku yang belum pulang, jadi kami sering mengerjakan bersama,”ujarku.

Maka perbincangan pun terus kami lanjutkan. Ayah lebih banyak bertanya mengenai kondisiku, kondisi lingkungan kampus, serta aktivitasku. Begitu pula aku pun bertanya mengenai kegiatan sehari-hari ayah. Suasana pembicaraan begitu hangat kali ini. Inilah suatu titik di mana aku rindu dengan kehangatan kata-kata ayahku. Inspiratif. Begitulah beliau menurutku. Beliaulah yang pernah membangkitkanku dengan kata-kata motivasinya di kala aku sedang down entah itu karena masalah organisasi, atau masalah nilai, dan lainnya. Beliau pula yang mengajarkan cara berpikir bijak dalam menyikapi suatu permasalahan.

Pernah suatu ketika nilaiku benar-benar hancur saat dahulu SMA. Padatnya aktivitas organisasi membuatku sering pulang malam. Ayah tak pernah marah, tak pernah memprotesku. Hanya membesarkan hatiku saja. Saat itu, entah aku merasa ingin keluar saja dari organisasi yang kuikuti. Fokus belajar, mengejar mimpi-mimpi yang dulu telah kurajut bersama ayah dan ibu. Ya, ibu. Ibu dahulu yang telah menanamkan nilai rajin dalam diriku, sehingga prestasiku sejak duduk di bangku SD patut diperhitungkan. Namun semua itu hilang saat SMA. Saat ibu telah tiada. Saat kehidupan organisasiku dimulai. Maka semester 4, aku masih ingat adalah puncak dari kehancuran nilai-nilaiku. Aku sendiri tak sanggup melihat raporku dipenuhi spidol merah.

Waktu itu, aku masih ingat ayah dengan wajah dingin menerima raporku dari wali kelasku. Kemudian beliau mengajakku pulang tanpa banyak bicara. Di rumah, beliau tetap dingin, tanpa ekspresi, dan tanpa bicara. Sementara aku, diam seribu bahasa. Tak tahu harus berkata apa. Saat ayah mendekatiku, maka pecahlah tangisku. Memohon maaf, meminta ampun, dan berjanji tuk akan lebih baik lagi. Ayah hanya mengangguk takzim, sambil berkata, “Nak, kau masih muda. Maka, jangan takut dengan kegagalanmu. Pepatah mengatakan, habiskan semua jatah kegagalan yang diberikan Tuhan di masa mudamu. Karena apa nak ? Karena nanti saat tua, kau tinggal memetik jatah keberhasilan yang telah dipersiapkan Tuhanmu,”. Dan kini, sosok itu berada di depanku. Beliau pun mengeluarkan petuah-petuah bijak. Bagai siraman air yang sejuk di panasnya Surabaya siang ini.

“Kakaaak… game elloool…”teriak adikku dari dalam kamarku. Kulirik jam di dinding, tak terasa sudah hampir 3 jam lamanya aku berbincang dengan ayahku. Aku dan beliau kembali ke kamar. “Iya dek, sebentar…”jawabku dari luar. Ku menuju laptop. Begitupun ayah, sambil membelai rambut adikku yang panjang. Ia tersenyum manis manakala aku berhasil membenarkannya. “Makasih kakak…”, ujarnya sambil mencium pipiku. Aku tersenyum. Tuhaaan…. apakah aku punya alasan untuk membencinya? Seakan ia memang dilahirkan tanpa dosa, walaupun ibu tiada karena dirinya.

“Eh, ini apa?”tanya ayah dari belakang. Aku pun menoleh ke belakang, dan kemudian terkesiap. Ayah menemukan sesuatu yang seharusnya tak beliau ketahui. Sesuatu yang membuatku akhir-akhir ini bersemangat mengerjakan tugas. Sesuatu yang mampu mengobati rasa sakitku. Sesuatu yang selama ini “diharamkan” oleh ayah dan selalu beliau mengingatkanku setiap menelpon. Wajahku pucat pasi, merasa malu dan tidak tahu harus berkata apa. Sementara kulihat, wajah teduh ayah berubah menjadi merah padam. Sorot matanya jelas tajam mengarahkan sudut pandangnya ke diriku. Sementara aku, terdiam kaku. Tak sanggup lagi berkata-kata. Sosok yang dingin itu, kini telah berubah menjadi panas membara, seakan dibakar amarah. Ya, sesuatu itu bernama asbak dan puntung rokok.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *