Cerbung Ramadhan : 30 Hari Mencari Cinta (5)

Terdiam, dan diam-diaman. Itu reaksi kami berdua setelah ayah menemukan “benda keramat” itu. Sementara adikku acuh tak acuh dengan kondisi itu. Ia tetap memainkan laptopku. Suasana siang ini tiba-tiba mendung. Langit bermuram durja seakan merasakan perasaan yang sama dengan ayah di sampingku. Sementara aku hanya tertunduk, takut kena marah besar dari ayah. Aku lirik wajah ayah, terlihat merah padam menahan amarah.

“Sudah berapa lama kamu melakukan ini?”suara lantang ayah membuyarkan lamunanku tiba-tiba. “Engg.. eh.. baru ramadhan ini kok yah, belum ada sebulan. Seminggu aja belum ada,”jawabku. “Jangan BOHONG!!!”sentak ayah. Sementara adikku ikut terkaget, namun ia acuh. Ia melanjutkan bermain game-ku. “Benar ayah… aku tidak bohong. Demi Allah, suwer… sumpah!!”ujarku pelan. “Jangan BOHONG!!! Sudah bertahun-tahun aku menjadi ayahmu, sepertinya raut mukamu menunjukkan kau itu tak jujur!!!”kataku. “TIDAK!!! Ayah jangan sok tau!!! Mana mungkin aku bohong!!!”ujarku tak mau kalah.

Astaghfirullah, apa yang aku lakukan. Apa yang aku katakan barusan. Seumur-umur tak pernah aku mengatakan kejelekan, bahkan membentak sekalipun. Ya Allah… sebegitu parahnya kah aku ini? Hari ini aku mengecewakan ayahku dengan kebiasaan baruku. Hari ini aku membuat air matanya tertahan di matanya. Hari ini pula aku melihat hatinya tercabik-cabik. Oh ibu… maafkan anakmu ini. Mungkin sekarang ibu menangis di akhirat sana. Seandainya ibu ada di sini, mungkin ibu pun turut memarahiku. “Ctaaaaaar,” suara petir membelah langit. Aku lihat Ayah hanya terdiam. Memutuskan keluar kamarku. Tak enak dengan adikku yang masih terlalu kecil untuk mengerti hal ini. Aku hanya menghembuskan nafas perlahan. Mengikuti ayah, menuju halaman depan. Beliau duduk. Diam. Termenung melihat langit yang mendung.

Kuberanikan diri untuk mendekati beliau. “Maaf ayah…,”ujarku pelan. Tetap tak ada jawaban dari ayah. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Suaranya seakan tercekat di tenggorokannya. “Maaf yah.. tadi itu benar-benar diluar kontrolku…”ujarku dengan suara bergetar. Ayah pun tetap diam. Kali ini memalingkan wajahnya memandang ke arah yang berlawanan. Hufft.. aku mendesah.  “Seharusnya kamu tak melakukan ini nak, kamu seharusnya mengerti kondisi keluarga kita,”kata ayah tiba-tiba memecah keheningan. Aku pun memberanikan diri untuk menjawab, “Ayah, tahukah ayah. Sejelek-jeleknya rokok, ternyata dia cukup membantuku mengerjakan tugas-tugasku. Awal ini saat kemarin ramadhan. Aku memulainya. Kala aku pusing mengerjakan tugas, kawan-kawanku menawari. Nyatanya pusingku berkurang dan aku kembali bersemangat mengerjakan tugas. Bahkan aku optimis bisa pulang lebih cepat dari yang aku prediksikan.”jawabku dengan yakin. Raut muka beliau tiba-tiba berubah, seraya menyentakku,”Bedebah. Kau itu sudah besar. Sudah tau dampaknya. Sudah tahu bahayanya. Lalu kau coba? Hah? Tidakkah kau berpikir jangka panjang anak muda?”sentak ayah.

Aku terkejut. Seumur hidupku baru sekali ini ayahku membentakku. Aku hanya menunduk. “Kau tahu, ada sebuah rahasia yang tidak ketahui tentang keluarga ini.” Kata ayah tertunduk. Aku hanya terdiam. Dibelenggu penasaran yang tak berujung. Sementara saat akan bertanya aku masih terlalu takut. Mungkin lebih baik diam. Membiarkan ayah dalam diamnya. Sambil menunggu beliau bercerita.

Ayah tetap diam. Hanya memandang langit yang semakin kelam. Sementara aku terus dipenuhi rasa bersalah. “Mungkin sudah waktunya, kau mengetahui ini nak,”kata Ayah memecah lamunan rasa bersalahku. Aku hanya memandang ayah yang tetap tak mau memandang diriku. “Maukah kau mendengar cerita tentang ibumu nak? Ada suatu hal yang mungkin kamu tak pernah mengetahuinya, karena aku dan ibumu bersepakat untuk menyimpan rapat-rapat. Asalkan kamu berjanji tak menceritakan ke adikmu. Terlalu kecil dia untuk mengetahuinya. Semoga setelah ini kau tak lagi membenci ayahmu ini.” kata ayah. Aku lihat mata beliau berkaca-kaca saat berkata tadi. Sementara aku hanya mengangguk pelan. Suara petir memecah keheningan kami. “Semoga kau tidak membenci ayah setelah ini nak,”kata ayah dengan suara bergetar. Aku pun terdiam. Kulihat rintik-rintik hujan mendera bangunan tempatku bernaung. Kami tetap berada diluar, menikmati dinginnya hujan setelah hampir seharian terkena panasnya udara. “Boleh ayah bercerita sekarang?”tanya ayah kepadaku. Aku cepat2 memasukkan hp ke kantongku. Ada sms masuk barusan, namun aku mengabaikannya. Aku mengangguk pelan. Ayah pun menarik nafas panjang…. “Sebenarnya………………(to be continued)

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *