Ketika 2 Belahan Dunia Merasakan Ramadhan dengan “Beda Rasa”

indonesia for egypt

Bulan Ramadhan seharusnya menjadi penuh keberkahan bagi kita semua. Bagaimana tidak? Bulan Ramadhan adalah bulan yang digaungkan sebagai bulan penuh rahmat, bulan penuh berkah, atau gaung kebaikan yang lainnya. Maka tak salah, bila kehadiran Ramadhan begitu dinanti setiap tahunnya, sementara usai ramadhan, rasa rindu itu pun banyak bermunculan kembali. Namun, zaman saat ini, jikalau ramadhan digaungkan dengan bulan penuh kedamaian, masihkah hal itu relevan?

Mari kita lihat di Indonesia. Toleransi antar ummat beragama di Indonesia begitu digaungkan. Bahkan kita tahu, beberapa tempat peribadatan nonMuslim seperti gereja, juga turut merayakan ramadhan dengan beberapa acara, misalnya mereka memberikan takjil gratis, bahkan buka puasa bersama. Di jalanan para penjual takjil juga banyak dari kalangan nonMuslim. Mereka tak mau ketinggalan dalam merasakan “berkahnya” bulan Ramadhan. Saya bahkan pernah membaca berita, bahwa di dunia persepakbolaan, di eropa, para pemain sepakbola yang nonMuslim, bahkan ikut-ikutan berpuasa demi solidaritas tim-nya, atau ingin merasakan dan menghormati kawan di tim-nya yang berpuasa, dan ingin merasakan sensasi latihan dengan berpuasa. Maka inilah indahnya ramadhan. Rasa solidaritas antar ummat beragama pun tumbuh dengan sendirinya.

DSC00650Suasana Bakti Sosial dan Menjelang Buka Bersama di Panti Asuhan

Masih di Indonesia, tiap sore, speaker masjid berlomba-lomba mengencangkan suara pengajiannya, atau suara tadarrusnya. Dan lucunya, malah terdengar suara anak-anak yang masih kecil terkadang mengaji, terkadang berebut mic atau lainnya. Saat menghampiri ke masjid, kita melihat anak-anak kecil berlarian, berkejar-kejaran, justru mereka bergantian dengan yang mengaji. Giliran mereka usai mengaji, langsung berlarian dan kejar-kejaran. Waktu bedug maghrib tiba, mereka langsung menyerbu takjil yang disediakan. Terkadang berebut, bahkan sampai menangis. Namun usai ada yang mendamaikan kembali tertawa-tawa. Begitulah seterusnya. Tiada raut kecemasan di muka anak-anak itu. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Itulah di Indonesia. Ramadhan dirasakan sebagai perbedaan, yaitu Kedamaian dan Ketenteraman.

DSC00516 Suasana Pondok Ramadhan di salah satu sekolah SMA di Malang

Sekolah-sekolah pun tak mau ketinggalan. Mereka berlomba-lomba menyelenggarakan pesantren kilat, atau pondok Ramadhan, atau kegiatan sejenisnya. Para pelajar pun juga menyelenggarakan buka bersama dengan teman-teman sekelasnya. Mereka larut dalam indahnya ramadhan. Ada tali ukhuwah yang dapat merekatkan mereka di ramadhan ini. Mereka buka bersama,  tidur  bersama untuk malamnya bertahajjud bersama, serta aktivitas lainnya yang dapat meningkatkan tali persaudaraan.

Namun sekarang, bagaimana di belahan bumi lainnya? Mari kita terbang menuju Timur Tengah. Kita bahas Mesir. Berdasarkan berita dari teraspos, bahwa kondisi Mesir saat ini sungguh memprihatinkan. Mesir sedang mengalami transisi menuju demokrasi yang diidamkan pasca penggulingan Mohammad Morsi. Namun, Bulan Ramadhan pun tak mampu menghentikan kekacauan di Mesir. Bentrok antara militer dan pendukung Morsi, tak tertahankan bahkan menyebabkan banyak korban meninggal dalam bentrokan tersebut. Seakan mereka lupa dengan esensi puasa yang berarti menahan diri

Masih di Mesir, ketika negara lain sibuk dengan ibadahnya, sibuk dengan tadarrusnya di siang hari bulan Ramadhan, rakyat mesir sibuk dengan negaranya. Puluhan ribu penduduk Mesir berbaris di jalanan di Kairo menuntut pengembalian Morsi. Mereka justru “merayakan” Bulan Suci Ramadhan di Lapangan Tahrir, memperjuangan idealis mereka dengan benar.

Lalu bagaimana kondisi anak-anak di sana ? Sungguh mengenaskan. Tiada tawa, tiada canda, yang ada hanyalah rasa takut akan ancaman yang dapat datang sewaktu waktu. Kerusuhan telah merenggut masa kecil penuh kebahagiaan mereka. Tiada suara tawa di Masjid. Bahkan mereka terkadang harus kehilangan orang tuanya tanpa kabar. Hak Asasi Manusia yang diperjuangkan di dunia, seakan mereka merasakan tidak ada yang memperjuangkannya.

Yah, sedikit berita di atas, seharusnya membuat kita di Indonesia sini bersyukur dengan kondisi ini. Ketika kedamaian sedang kita rasakan di sini, kaum muslim di Mesir sedang merasakan getirnya kehidupan. Tentunya yang dapat kita perbuat di sini adalah turut menyumbangkan donasi kita bila kita mampu, atau cukuplah kita mendoakan agar kerusuhan segera berakhir, dan minimal mereka dapat merasakan indahnya Ramadhan yang kita rasakan di Negeri kita tercinta ini, Indonesia.

”banner-kontes-blog-teraspos”

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

  1. Fikrah Ryanda says:

    Mas, sbnernya gmn sih hukumnya mengencangkan bacaan saat mengaji, terlebih lewat pengeras suara. terus terang ad bbrp moment saat saya merasa terganggu dgn pengeras suara masjid, ap lagi klo mau ulangan. Ibu2 n para manula (dkt masjdi dkt rmh sya) yg tinggal d dekat masjid juga sering berkomentar bahwa waktu tidur mereka terganggu, ibu2 yg punya bayi juga begitu. Apa lagi klo khataman Qur’an bacaannya kaya d kejar2 cepet,n g jarang fales. mohon tolong beri penjelasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *