Jadikan Bunga itu Mekar Indah nan Merona

Hari Anak 2013, tiba-tiba mengingatkanku akan puisi yang dulu pernah kubaca:

Tatkala di alam arwah, bungamu dirancang oleh Tuhan

Sebaik-baik bentuk, sebaik-baik potensi

Dan….sebaik-baik kecerdasan……

Fi- ahsani taqwi-m

 

Karena itu,

Ketika lahir, Tuhan menitipkan kepadamu

Agar engkau merawatnya, dengan sentuhan kasih sayang

Agar ketika mekar, mereka rasakan indahnya kasih sayang Tuhan

 

Ketika bungamu masih lucu-lucunya

Tuhan menitipkan kepadamu, agar engkau mendidiknya, dengan sepenuh cinta

Agar ketika mekar, mereka rasakan indahnya cinta

Agar ketika mekar, tebarkan semerbak cinta sasama

 

Karena itu…..Bapak

Karena itu ….Ibu……

Sangat tidak dimaafkan, ketika bunga itu

dirancang Tuhan dengan penuh kasih

Tetapi engkau justru menyia-nyiakan

 

Sangat..sangat  tidak dimaafkan

Ketika bunga itu dicipta Tuhan dengan Kemabesaran cinta-Nya,

Lantas engaku sentuh dengan kekasaran

Lantas engkau kenalkan dengan rantai kekerasan…..

 

Dan… sangat…sangat…sangat tidak dimaafkan

Ketika engkau punya persoalan pribadi…persoalan keluarga..,

Lantas bungamu yang tidak berdosa itu

Engkau jadikan tumpahan-tumpahan  kekesalan

 

Tidakkah engkau tertarik taman surga nan indah?

Fasilitas itu…disediakan buat mereka yang peduli dengan tumbuh kembangnya bunga Tuhan

Dan…Taman itu dihibahkan

Buat mereka yang mau menyembulkan cinta emasnya

Kepada anak-anak usia emas

 

Tampaknya…

Sebagian pecinta bunga-bunga bermekaran itu

Kini berada di sini

Berada di sekitar kita

Berada di tempat ini

 

Siapakah dia?

Siapakah mereka?

Kita tanya kepada nurani kita
Kita tanya pada jiwa kita

Karena jawaban itu, tak pernah diberikan oleh rumput yang sedang bergoyang :p

*Puisi ini dulu saya bacakan pada waktu saya kelas V di MIN I Malang di depan Menteri Pendidikan Nasional Bapak  Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, saat berkunjung ke Kota Malang, tepatnya di Taman Krida Budaya Kota Malang dalam rangka Hari Anak Nasional pada tahun 2005 bertepatan juga dengan peluncuran PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Pada waktu itu, usai saya membaca, mata beliau berkaca-kaca, dan langsung memeluk dan menyalami saya usai membaca puisi.

Pesan dari puisi ini, adalah masih banyak kekerasan terhadap anak di Indonesia. Data dari Komisi Perlindungan Anak, pada tahun 2007 saja terdapat 40.398.625 pelanggaran hak anak. Jumlah itu jauh naik pada tahun sebelumnya yang ‘hanya’ 13.447.921 kasus. Itu berarti naik 300%.

Lebih naudzubillah lagi, pada tahun 2013 ini, data dari Komisi Perlindungan Anak menyebutkan bahwa pada semester pertama tahun 2013 ini, kekerasan anak dalam kategori seksual menempati urutan pertama di atas kategori fisik dan nonfisik. Hal ini pun menunjukkan bahwa moral bangsa kita ini sedang berada dalam taraf memprihatinkan. Apakah yang salah pemerintah ? Atau rakyat ? Saya rasa bukan saatnya lagi saling menyalahkan. Namun saling berbenah diri bersama-sama memperbaiki.

Pendidikan karakter kepada anak-anak zaman sekarang perlu lagi digalakkan. Karena apa? Karena mereka nantinya pun akan menjadi dewasa. Dan tentu akan memiliki anak, yang tentunya mereka mendidiknya pun berdasarkan apa yang mereka dapatkan saat kecil dahulu. Selain itu, bangsa ini pun sedang mengalami krisis karakter. Kasus narkoba, seks bebas, pelacuran yang merebak di kalangan kaum pemuda, semua itu tak lepas dari pola pembentukan karakter sejak dini.

Menurut para ahli psikologi, masa efektif dalam mendidik anak adalah masa kecilnya. Yaknik berkisar usia 6 – 12 tahun. Pada masa ini, anak menyerap begitu cepat informasi, dan langsung mengimplementasikannya. Maka, masa depan dari seorang anak, tentu bisa dilihat dari pola pengembangan karakternya pada saat usia dininya. Oleh karena itulah, kalau banyak yang menyebut masa remaja adalah masa kritis, saya sendiri kurang sependapat, karena masa kritis itu justru ada menurut saya saat anak mampu menyerap informasi begitu cepat, yaitu di antara usia 6 – 12 tahun.

Saya menjadi ingat akan perkataan kepala Sekolah saya saat MIN I Malang dulu, Bapak H. Sukri, S.Ag, waktu mengajari saya men-dalang (memainkan wayang kulit). Pada waktu itu, beliau mengajarkan ke saya menggunakan cerita tokoh punakawan, yaitu Petruk, Gareng, Semar, Bagung. Kata Kyai Haji Semar *beliau menyebut semar dengan sebutan Kyai*, ada 3 pola penyerapan informasi anak, yaitu niteni, niro’ake, lan nambahi.

Fase pertama, kata Romo Kyai Haji Semar, adalah Niteni (melihat). Pada fase ini, anak cenderung mengamati lingkungan sekitarnya. Dengan daya tangkap anak yang sungguh luar biasa, di mana fase ini mata dan telinga anak, berusaha menangkap dan merekam semua informasi sekitarnya di dalam otaknya yang bekerja secara aktif.

Fase kedua, adalah niroake (menirukan). Pada fase ini, anak akan “memutar hasil rekaman” dari fase sebelumnya yang telah terekam di otak. Maka, ketika seorang anak berada di lingkungan yang baik, ia akan cenderung menjadi baik, karena ia menirukan kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Sementara ketika ia berada di lingkungan buruk, ia cenderung menjadi buruk.

Fase ketiga adalah nambahi (menambahkan). Pada fase ini, anak akan berimprovisasi dari input yang ia dapatkan di fase pertama, dan hal yang ia lakukan di fase kedua. Yang baik akan semakin baik. Misalnya, ia berada di lingkungan orang yang suka membaca buku. Ia akan membaca lebih banyak buku daripada orang sekitarnya, karena rasa penasaran yang tinggi. Bahkan ia bisa saja menuliskan apa yang ia baca. Yang buruk akan semakin buruk. Misal, ia berada di lingkungan orang yang berkata kotor. Ketika ia sudah menirukan, ia dengan rasa ingin tahunya berupaya mencari “kosakata baru” untuk mengembangkan kemampuan berkata kotornya.

Maka kita sebagai mahasiswa, sudah sepatutnya kita sekarang tidak ada salahnya menyerap ilmu tentang parenting, bukankah kita nanti semua akan menjadi orang tua ? (Insya Allah iya 🙂 ). Atau mengajak anak-anak di sekitar kita untuk belajar bersama-sama bersenang bersama-sama. Atau bisa melalui aktifitas sosial lainnya. Niscaya mereka akan mekar menebar pesona aroma prestasi ke seluruh penjuru dunia.

Terakhir, izinkanlah saya menutup note saya ini dengan puisi. Persembahan terkecilku untuk anak-anak Indonesia, sebagai calon generasi penerus bangsa Indonesia :”)

Bunga-Bunga yang Siap Mekar

Kendati engkau masih di dalam kuncup rapat

Kau telah dinanti…

Dinanti oleh mereka yang terpesona oleh keindahan

Dinanti oleh pecinta aroma-aroma wewangian

 

Karena itu,

Ketika kuncupmu mulai mengelupas

Terimalah sentuhan kasih sayang orang tuamu

Rasakan indahnya didikan gurumu

Dan… nikmati fasilitas yang disediakan oleh pemimpinmu

 

Dengan sikap penuh penerimaan

Niscaya engkau jadi bunga-bunga bermekaran

Niscaya engkau tebar pesona keindahan

Dan, niscaya engkau tebar aroma wewangian

 

Bungaku, yang siap mekar

Di usia emasmu

Kau bagai mutiara-mutiara yang sarat kejujuran

Gebyar gemerlapmu bagikan kunang menjelang malam

Karena itu,

Nikmati usia emasmu dengan bermain dan belajar

Dan belajar sambil bermain

Karena yang engkau lakukan,

Miniatur kehidupanmu di surga Tuhan

Bungaku, bunga yang siap mekar

Taman-taman belajar dan bermain

Tlah disiapkan  pemimpin kita

Tlah disiapkan pemerintah kita

Dan, tlah disiapkan penyantun dan pemerhati kita

Kita nikmati semua,

Agar dapat memperindah warna warni kita

Agar memperwangi aroma-aroma kita

Kelak setelah mekar,

Kau akan terus tebarkan aroma-aroma khas kita

Agar bangsa-bangsa lain terpesona

Agar bangsa bangsa lain terpana

Kalau kau adalah bunga-bunga Indonesia nan indah

– Persembahan kecilku, untuk Anak Indonesia. Bersinarlah bak mentari demi Indonesia Jaya –

Mushonnifun Faiz, seseorang yang dulu pernah menjadi anak kecil, dan sekarang telah tumbuh menjadi “tetap saja kecil” (ceritanya malah curhat -____-” )
– Mahasiswa ITS Surabaya

23 July 2013 – Hari Anak Nasional
di ruang pengabdian’
20.20 – :3

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *