Cerbung Ramadhan : 30 Hari Mencari Cinta (6)


“Sebenarnya, ada rentetan peristiwa yang tak kau ketahui semenjak ibu meninggal,”kata ayah mengawali ceritanya. Rintik hujan semakin deras, sementara suara petir dari tadi berkali-kali bersahutan. “Selama ini, kau anggap dirimu adalah anak pertama kan? Itu salah…Sebenarnya, kau memiliki kakak. Namun ia harus lenyap dari dunia ini… Semua ini gara-gara aku… ya gara-gara aku,”ayah tercekat manakala mengatakan itu. Air matanya menetes. Ia tiba-tiba menangis sesenggukan. Tangisnya deras, sederas hujan yang menerpa sore ini. Aku pegang tangannya, aku genggam erat-erat berusaha menenangkannya. Dingin. Sedingin udara sore yang kelam ini.

“20 tahun yang lalu, tepat setahun sebelum kelahiranmu, ibumu melahirkan sosok yang telah kami nanti selama 7 tahun. Yah, kau tahu kan, kami baru memiliki anak ketika usia pernikahan kami menginjak 7 tahun. Mungkin bagimu 7 tahun adalah waktu yang cepat kala kau menginjak bangku sekolah, namun bagi kami 7 tahun itu adalah hari-hari penuh perjuangan, kala kami berlum dikaruniai buah hati,”ayah berhenti sejenak. Memintaku membuatkan kopi hangat. Bergegas ku menuju dapur, membuatkan kopi pahit khas kesukaan ayah. Ntah aku selalu siap sedia di kos sewaktu-waktu ayah datang. Tak sia-sia aku selalu siap sedia di sini. Bergegas ku kembali, dan menyajikan kopi tersebut ke ayah.

“Pada waktu itu, bayi yang seharusnya menjadi kakakmu, terlahir dalam kondisi yang jauh berbeda dengan adikmu. Ia kuat, sehat, juga gemuk. Ibumu pun dalam kondisi fisik dan psikologis yang baik. Maka, usai melahirkannya, ibumu pun menangis bahagia, begitu pun ayah. Penantian kami selama 7 tahun tidak sia-sia. Pada waktu itu kami sampai harus berobat ke banyak dokter, sampai pengobatan alternatif agar ibumu bisa memiliki anak. Tak lupa kami selalu ikhtiar kepada Allah, agar dikaruniai seorang anak. Maka lahirlah seorang bayi yang seharusnya dulu menjadi kakakmu.”ujar ayah.

Aku terdiam. Masih penasaran dengan kelanjutan cerita ayah. “Maka hari-hari setelah itu berjalan bahagia. Kerinduan kami, kepada sosok yang meramaikan rumah ini selama tujuh tahun, akhirnya terbayar sudah dengan kelahiran kakakmu. Ia lahir dalam kondisi yang begitu baik. Kami merawatnya dengan sepenuh cinta. Ayah masih ingat, lelah dan letih ayah setelah seharian bekerja, malamnya serasa hilang ketika mendengar tangis kakakmu, tawa kakakmu, bahkan dengkuran lucu darinya. Sementara ibumu, ketika 7 tahun mukanya selalu dipenuhi gurat kesepian, kesedihan, pada waktu itu terlihat begitu cerah, begitu ceria, seperti dulu saat ayah menikahinya.” Ayah tiba-tiba terdiam. Tercekat, menahan air mata yang membasahi pipinya.

“Namun, di sinilah, ayah melakukan dosa besar. Kebahagiaan kami, hanya bertahan 3 tahun, lantaran kakakmu suatu hari tiba-tiba sakit. Ia sulit bernafas. Badannya terkena panas tinggi. Siang dan malam ia terus menangis. Kami berupaya membawa ke dokter. Ia sembuh hanya beberapa hari, lalu penyakit itu kambuh lagi. Bahkan lebih parah. Ia bahkan sempat tak sadarkan diri. Kami pun membawanya ke rumah sakit. Dokter di sana berusaha menolongnya. Namun, ternyata… kami mendapat jawaban jauh lebih menyakitkan. Kakakmu divonis menderita kanker paru-paru stadium IV. Bahkan kami ditunjukkan foto paru-parunya yang tampak menghitam. Aku dan Ibu menangis, saat mendengar dokter bahwa usia kakakmu hanya tinggal beberapa hari….”kata ayah semakin terisak. Sementara aku sendiri, tak terasa mataku mulai berair… Menetes….

“Malam itu pula dokter mengatakan, bahwa penyebabnya adalah kakakmu terlalu banyak menghirup asap rokok. Maka terpukullah aku sebagai ayah. Ayah dulu memang perokok berat. Bahkan tak jarang ayah membawa ibu dan adikmu ke tempat kerja ayah yang dipenuhi asap rokok. Namun, ayah tak pernah berpikir akan sampai begitu penyebabnya. Sementara ibumu, raut kebahagiaan itu pun pudar seketika. Gurat-gurat wajahnya pun kembali suram. Ayah tentu merasa paling bersalah. Walau sudah berulangkali meminta maaf, namun ibumu tetap memaafkan, walau ayah tahu tak sepenuhnya ia memaafkan. Justru ia yang meminta maaf karena tak pernah bisa menghentikan kebiasaan ayah merokok..”ujar ayah terisak.

“Maka hari-hari kami pun habis di rumah sakit untuk selalu menemaninya. Kebersamaan saat-saat terakhir. Ayah bahkan sampai izin tak bekerja demi menemani kakakmu. Karena ayahlah yang paling merasa bersalah. Dan pada suatu malam, tepat hariĀ  ke-4 kakakmu di rumah sakit, usai ayah melaksanakan shalat tahajjud dengan ibumu, entah tiba-tiba ayah merasa mengantuk. Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Ayah pun memutuskan tidur di samping kakakmu, sambil duduk. Dan malam itu, ayah bermimipi. Melihat istana yang begitu besar tinggi menjulang. Terbuat dari marmer yang berkilauan. Di bawahnya mengalir sungai-sungai yang begitu sejuk dari kejauhan ayah melihatnya. Di sekelilingnya ada taman bunga yang begitu indah, seperti ayah belum pernah melihatnya seumur hidup. Ada gerbang yang tertutup di depannya…”ujar ayah. Ia meminum kopiku sejenak. Takut keburu dingin.

“Tiba-tiba, gerbang tersebut terbuka. Seorang anak kecil berpakaian putih, dengan peci yang masih kebesaran, berlari-lari kecil menuju ayah. Ternyata ia kakakmu. Ia tertawa saat sampai di depan ayah. Dan ia minta digendong. Ketika ayah gendong itulah, keajaiban terjadi. Tiba-tiba, kakakmu bercahaya begitu luar biasa indahnya. Dan ajaibnya ia berkata sesuatu kepada ayah. “Ayah, aku izin pamit ayah. Terima kasih atas kasih sayang ayah 3 tahun terakhir kemarin. Terima kasih untuk ibu yang telah mencurahkan lebih dari separuh waktunya untukku. Maaf ayah, mungkin 7 tahun penantian ayah, harus berakhir smpai di sini. Tapi ayah, aku akan selalu merindukan ayah….,”ujar kakakmu. Lalu ayah bertanya, “Sayang, kamu mau ke mana? Tidakkah kamu kasihan dengan ayah dan ibumu di sini?”tanyaku. “Ayah, aku kasihan. Tapi seharusnya ayah kasihan padaku yang ayah paksa menghirup asap rokok dari ayah. Berhentilah yah. Insya Allah, ayah akan mendapat penggantiku beberapa tahun kelak. Smoga dia tidak mengalami nasib yang sama denganku. Tadi aku bertemu Tuhan ayah. Dan aku telah berkata pada Tuhan, untuk mengampuni dosa ayah. Dan ternyata Tuhan mengkabulkan doaku yah… Alhamdulillah… Hanya itu ayah yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu, walau pasti itu tak sebanding. Selamat tinggal ayah… Aku mencintai ayah karena Allah. Begitu pula, aku mencintai ibu karena Allah…”ujar kakakmu. Perlahan-lahan, cahaya yang keluar tadi, berubah menjadi sosok bersayap. Ia membawa tubuh kakakmu menuju gerbang itu. Gerbang itu terbuka mereka masuk, lalu tertutup secara otomatis. Ayah melihat kakakmu memakai baju putih yang begitu indah, putih selaksa air di samudera. Ayah pun berteriak,”Tidaaaaak!!!! Jangan tinggalkan ayah dan ibu naak………”.

“Seketika itu aku terbangun. Kemudian, kulihat ibundamu menangis di sampingmu. Alat pacu jantung dinyalakan, membantu kakakmu. Namun, tetap saja, alat pendeteksi detak jantung menunjukkan garis lurusnya. Upaya keras dokter sepertinya tetap sia-sia belaka. Kakakmu tepat tiada saat azan Shubuh berkumandang…..Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun…

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *