Cerbung Ramadhan : 30 Hari Mencari Cinta (7)

Aku pun terdiam sejenak. Tak terasa air mataku meleleh mendengar cerita ayah barusan. Ternyata, ada sebuah rahasia besar yang betapa kuat ayah dan ibu menyimpannya kepadaku selama ini. Berarti sudah 19 tahun lebih ayah menyimpan rahasia ini dariku. Seandainya hal itu tak terjadi, mungkin aku saat ini memiliki seorang kakak perempuan yang cantik. Seandainya ia masih hidup, mungkin saat ini ia telah memiliki keluarga yang bahagia. Sebahagia guratan ibundaku saat mengasuh dirinya kala ia masih kecil.

Hujan deras sore itu perlahan reda. Menyisakan rintik-rintik kecil yang berjatuhan secara perlahan. Begitu pula tangisku pun mereda. Menyisakan bulir-bulir air mata yang masih ada di pipiku. Namun itu belum cukup menggambarkan kesenduan suasana hatiku. Aku berkecamuk. Diluputi rasa bersalah yang besar. Ingin segera kuremat-remat rokok yang tersisa di kamarku, lalu kulempar dan kubuang jauh-jauh. Ayah menghembuskan nafas, seraya berkata, “Sebenarnya, itu adalah bagian kecil rahasia yang kami simpan. Masih banyak rahasia-rahasia yang mungkin takkan kau ketahui,”ujar ayah kepadaku. Beliau menyeruput kopinya, seraya terdiam lama. Waktu berjalan terasa lambat. Langit masih terlihat bermuram durja. Sementara ayah, terlihat lebih tegar usai menceritakan semuanya.

“Kau tahu nak, ada serpihan rahasia tentang kehidupanmu, yang ingin kuceritakan kepadamu,”ujar ayah tiba-tiba memecah keheningan. “Ceritakanlah yah, agar aku dapat mengerti arti dari kehidupanku sekarang ini…”ujarku. Ayah hanya mengangguk-angguk pelan. “Kali ini, tentang kelahiranmu, tentang rindu ayah dan bunda akan sosok yang diucapkan kakakmu dalam mimpi ayah sesaat menjelang kakakmu meninggal,”kata ayah. Aku pun terdiam, menyimak cerita ayah. Sementara kudengar adikku di atas masih asyik dengan laptopnya.

“Pasca kakakmu dikuburkan, ayah dan ibu pada waktu itu masih belum bisa beranjak dari pusara kakakmu. Terutama ibumu. Tatapan matanya terlihat kosong. Ayah pun berusaha menghiburnya, menenangkannya, namun tak berhasil. Semangat hidupnya yang dulu menyala-nyala, kini telah pudar. Pada waktu itu, waktu sudah menjelang maghrib. Situasi pemakaman mulai sepi. Ayah mencoba mengajaknya pulang, namun ibumu masih enggan beranjak dari tempatnya. Air matanya telah habis, dan kering untuk melukiskan segala kesedihannya. Ibumu masih tak mengerti dengan takdir Tuhan. Bagaimana tidak, penantian kami selama 7 tahun, kebahagiaan kami selama 3 tahun, ternyata pada hari itu Allah mencabutnya dengan memanggil kakakmu. Dan kembali ayah merasa paling bersalah akan hal itu. Dan keajaiban kedua pun muncul kembali nak…”ujar ayah.

“Saat itulah, tepat 5 menit menjelang maghrib, pusara kakakmu bercahaya. Ayah pun spontan terkejut dan ketakutan. Sementara ibundamu pun hanya terkejut sebentar, lalu mengangguk takzim. Cahaya itu pun terbang dari pusara itu menuju ibumu. Masih setengah tak percaya, cahaya itu pun dapat berbicara kepada ayah dan ibunda, “Ibu, janganlah kau bersedih. Biarpun aku telah tiada, namun percayalah cintaku tetap ada, dan akan terus menghiasi hari-hari ibunda. Aku ingin melihat ibunda tersenyum, seperti saat dulu pertama kali menggendongku. Aku ingin melihat gurat bahagia wajah ibu, seperti dulu saat ibu menggodaku. Percayalah ibu, ayah, cepat atau lambat kita akan berkumpul di surgaNya. Bersama-sama mereguk indah nikmatNya. Selamat tinggal ayah dan ibu. Assalamu’alaikum…”ujar cahaya itu. Ia kemudian terbang ke angkasa. Seraya menghilang. Bersamaan dengan azan maghrib yang berkumandang.”

“Hari itu, ayah melihat ibumu tersenyum, walau masih tersisa guratan kesedihan di wajahnya. Senyum yang begitu ayah rindukan, setelah beberapa minggu ayah tak melihatnya lagi,”ujar ayahku kembali beliau berkaca-kaca.

Pada waktu itu pula, tanpa diketahui oleh ayah, oleh ibu, cahaya itu tadi terbang begitu tinggi. Menggetarkan tiap lapisan langit di angkasa. Para penghuni langit ke satu, sampai ke tujuh pun secara takzim mengucap salam pada cahaya itu. Begitu indah, begitu menyilaukan, bahkan membuat para penghuni berebut memilikinya. Namun cahaya itu begitu indah, begitu sempurna hingga tak ada yang berani mengusiknya. Cahaya itu terus naik tinggi ke atas. Ia terbang menuju langit ke-7 hingga mencapai arsy Allah SWT. Ia menghadap Tuhannya dengan penuh takzim. Seraya berkata, “Tuhan, berikanlah ayah dan ibuku pengganti diriku. Agar mereka tak lagi menangisiku. Agar mereka bisa bahagia seperti dahulu. Maka Tuhan pun mengabulkan permohonannya. Pada hari itu pula, Tuhan pun mengutus dari salah satu malaikatnya, tuk turun ke Bumi. Membawa cahaya kehidupan baru untuk rahim ibunda. Ia adalah Imam, putera kedua dari ayah dan ibunda yang saat itu tengah dirundung kesedihan.

Sementara itu, di dunia pasangan suami istri tesebut pun kembali menjalani kehidupan biasa. Malaikat tadi yang diutus pun mendapat perintah dari Tuhan-nya, untuk menunggu saat yang tepta untuk menaruh cahaya kehidupan itu. Cahaya itu pun lagi-lagi begitu indah. Membuat para penduduk langit terbelalak saat malaikat membawa ke bumiNya. Sementara malaikat menunggu perintah TuhanNya, sosok kakak dari Imam tadi, sedang bermain-main di sebuah taman yang indah. Ia masih kecil. Masih berumur 3 tahun. Sedang dimanja oleh bidadari-bidadari surga.

3 tahun berlalu, dan terasa cepat bagi pasangan suami istri itu. Dan tanpa terasa, pada malam itu, malaikat yang menunggu tadi mendapatkan perintah dari Tuhannya, tuk meniupkan cahaya itu ke dalam rahim sang Ibunda. Dan dimulailah cerita baru perjalanan mereka, saat ibunda itu dinyatakan positif mengandung seorang bayi. Maka bahagialah mereka, dan sang suami pun berjanji untuk menjaga komitmennya, agar tak terulang lagi seperti anak mereka yang pertama. Semesta pun bertasbih mengiringi peniupan itu. Allahu akbar, 10 tahun mereka berumah tangga, akhirnya mereka bersiap menyambut buah hati yang kedua…. (to be continued)

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *