Merangkai Mozaik Rindu Yang Tercecer….(1)

20.37

Tak tahu esensi waktu itu apa. Yang pasti, itulah angka di mana aku memulai menuliskan anganku ke dalam pikiranku. Ya! Mozaik-mozaik kerinduanku akhir-akhir ini tercecer entah kenapa ke manapun aku melangkah. Saat aku berjalan ke kampus, rasa rindu pun muncul dengan sendirinya. Saat sendiri, saat bersama teman-teman, ataupun saat bermain, bersujud, bertasbih, mozaik-mozaik itu pun semakin tercecer. Ingin kumerangkainya menjadi sebuah rindu yang utuh. Namun hanya dua kata jawabannya : Tidak Bisa. Semakin kau rangkai semakin tercecer. Ntah apa penyebabnya aku tak tahu.

Kita mulai dari pagi. Pukul 03.30

Kala alarmku berbunyi, maka kuizinkan air wudhu membasahi diriku. Aku tenggelam dalam lezatnya qiyamu lail. Merangkai sebuah rindu yang tak berujung pada illahi rabbi. Sambil menunggu subuh tiba, usai berserah diri pada sang maha suci, kadang kuhabiskan melanjutkan membaca buku, atau buka timeline twitter, atau lainnya. 1 Mozaik kutemukan : Rindu Pada Tuhan.

04.18

Sahut-sahutan azan berkumandang. Kulangkahkan kaki menuju surau terdekat. Pujian-pujian khas masjid di pedesaan terdengar semakin kencang. Kulaksanakan Shalat Fajr. Kata hadis, ia lebih baik dari dunia dan seisinya. Tak terasa iqamah berkumandang. Maka kulaksanakan subuh berjamaah bersama mereka yang tua-tua. Ya, ntah kenapa pemandangan ini sungguh menyesakkan. Jika pendengaranku mampu menembus batas frekuensi suara yang ditetapkan oleh Tuhan, mungkin suara dengkuran manusia di manapun dapat kudengar. Maka rindu itu pun kembali menghinggapi. Perlahan mozaik itu tampak bercahaya, menerangi tempat bersujudku. Aku rindu pada pemuda-pemuda yang meramaikan masjid. Aku rindu pada wajah-wajah yang masih muda yang berjalan menuju surau. 1 Mozaik lagi menjadi jelas : Rindu Pada Pemuda

05.00

Seperti biasa, selalu kuusahakan tuk lantunkan zikir ma’tsurat. Ada nilai-nilai keutamaan di dalamnya. Dan lagi, suara dengkuran dari kamar seblah mengalahkan lantunan zikiriku. Tak terdengar lantunan quran dari speaker-speaker masjid. Yang ada, dari bawah kosku terdengar suara lagu dangdut yang semakin keras. Membuat pagi semakin semarak. Semarak yang membuatku hampa. Ya, lagi2 mozaik rindu itu kutemukan kembali. Sebulan yang lalu masjid-masjid masih berlomba – lomba untuk meramaikan cakrawala dengan gaung alunan tadarrusnya. Mozaik rindu itu bernama : Ramadhan

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

3 Responses

  1. Solo says:

    Akh, hati-hati dalam menulis, sungguh meluruskan niat itu tidak mudah akh.

  2. Tokoh aku itu bukan berarti aku sendiri lho bro, esensinya diperluas 🙂

  3. Insya Allah smoga diluruskan niatnya 🙂

Leave a Reply to Solo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *