Karena Keteladanan Adalah Darah Juang Seorang Pemandu… :)

Suatu ketika saya pernah bertanya kepada adik-adik junior saya tentang karakteristik senior yang mereka sukai. Mereka menjawab orang yang bukan “omong doang” alias “OMDO” apabila disingkat. Tidak puas dengan jawaban itu saya pun bertanya kepada teman-teman saya yang lain. Jawabannya beragam, mulai dari harus ber-attitude yang baik, bisa dicontoh, mampu mengayomi juniornya, tidak sewenang-wenang, dan lainnya. Hingga akhirnya dapat saya ambil kesimpulan bahwa intinya sosok senior yang didambakan oleh teman-teman saya adalah mereka yang nyaris mendekati kata “sempurna” sebagai seorang manusia baik dari perkataan maupun perbuatannya. Mereka harus mampu menjadi sosok yang mampu dicontoh, dan bisa disebut sebagai teladan. Maka saya pun mencoba menarik benang merah walaupun kesannya agak dipaksakan, namun sosok pemandu teladan tentunya tidaklah jauh dari sosok senior yang diimpikan teman-teman karena para pemandu yang telah terpilih telah menjadi senior paling tidak mahasiswa tahun kedua.

Jika dicoba melebarkan sudut pandang menuju kondisi Indonesia saat ini, Indonesia sedang mengalami krisis moral dan karakter khususnya pada kaum pemudanya. Salah satu penyebabnya mereka saat ini lebih meniru para role model yang popular entah itu di televisi, media massa, majalah, atau pun lainnya. Hanya dengan bermodal “tampang” para role model itu tanpa sadar telah menanamkan nilai-nilai yang jauh dari karakter bangsa. Maka tak kaget saat sekarang pergerakan pemuda Indonesia menjadi seolah mati suri. Hal itu berawal dari lunturnya budaya pemuda Indonesia dalam membaca, menulis, diskusi, bahkan aksi . Bahkan di ITS sekarang ini sampai ada gerakan ITS Membaca dan gerakan ITS Menulis. Hal itu memang positif. Namun mengapa sampai muncul gerakan tersebut? Jelas karena dilatarbelakangi oleh menurunnya budaya membaca dan menulis di kalangan pemuda khususnya para mahasiswa, karena seandainya budaya tersebut tidak sedang dalam kondisi yang kritis maka tentu saja tidakk perlu di”gerakkan”.

Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya kita pelajari terlebih dahulu sebenarnya apakah makna dari kata teladan. Makna teladan adalah sesuatu atau perbuatan yang patut ditiru atau dicontoh. Dalam bahasa arab diistilahkan sebagai “uswatun hasanah” berarti contoh yang baik.

Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang paling ampuh dan efektif dalam membentuk peserta didik secara moral, spiritual, dan sosial. Seorang pemandu dapat dikatakan pula sebagai seorang pendidik sebab mereka meberikan ilmunya kepada para peserta pelatihan yang dipandunya. Maka tentu saja bagi para peserta pelatihan yang melihat langsung bagaimana pemandu memberikan materinya dalam pandangan mereka tentu pemandu disadari atau tidak tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru. Bahkan semua keteladanan itu melekat erat dalam jiwa raganya baik ucapan, perbuatan, hal yang bersifat fisik maupun batin. Maka tak heran usai menjalani LKMM entah itu pra-TD atau TD khususnya untuk mahasiswa baru, jika saja sebuah kuisioner dilempar pada mereka tentang sosok yang mereka idolakan atau kagumi, pasti di dalamnya terdapat nama-nama pemandu yang menjadi “artis dadakan” bagi para mahasiswa baru.

Apabila kita mencoba mencari landasan yuridisnya, maka dapat kita temukan dalam Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pada Bab III pasal (4) ayat (4) yang berbunyi:

“Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran”. Tentu sudah jelas bahkan untuk pendidikan khususnya bila dikerucutkan ke dunia kepemanduan yang berbasis keteladanan bukan lagi menjadi hal yang aneh karena telah disebutkan secara eksplisit dalam undang-undang.”

Lalu bagaimana metode menularkan jiwa keteladanan kepada para peserta pelatihan yang dapat dilakukan oleh para pemandu? Maka di sini saya mencoba mengambil metode yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam mendidik umatnya. Saya mengambil sosok beliau, karena dalam buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” sosok Rasulullah menempati posisi nomor satu, sehingga tidak diragukan lagi bahwa pengaruh dan keteladanan beliau terbaik sepanjang masa. Dalam hal ini saya bagi ke dalam dua metode yaitu metode yang memiliki pengaruh terhadap akal dan yang memiliki terhadap kejiwaan. Metode pertama adalah metode yang berpengaruh terhadap akal. Ini memiliki beberapa sub metode antara lain kisah, dialog dan rasionalisasi, pengalaman praktis, berbicara langsung, serta perumpamaan.

Sub metode yang pertama adalah kisah. Menurut para ahli psikologi cerita atau kisah memiliki pengaruh yang sangat besar bagi jiwa pendengarnya lantaran alur cerita selalu bertahap dari satu posisi ke posisi lainnya sehingga mampu mengikat emosi dan pikiran para pendengarnya, sampai pada suatu titik yang dinamakan titik klimaks atau titik penerang saat mereka mampu terinspirasi dan tumbuh rangsangan dalam diri mereka untuk melakukan hal – hal baik sesuai yang dikisahkan. Jika dikaitkan dengan dunia kepemanduan, seringkali mungkin para pemandu memutarkan video-video inspiratif, atau berkisah kepada para pesertanya sehingga hal tersebut mampu merangsang semangat para pesertanya.

Sub metode yang kedua adalah dialog dan rasionalisasi. Maksud sub metode ini adalah karena dilatarbelakangi oleh pemahaman tiap orang yang berbeda-beda. Sehingga perlu dilakukan diskusi dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman mereka yang sudah paham, dan memahamkan pemahaman mereka yang belum paham.

Sub metode yang ketiga adalah pengalaman praktis. Contoh simpelnya adalah saat pemandu membagi tips kepada pesertanya agar tidak mengantuk saat materi berdasarkan pengalaman pemandu tersebut. Saat memberikan ice breaking dan joke-joke segar juga merupakan salah satu bentuk implementasi dari pengalaman praktis. Sub meteode yang keempat adalah berbicara langsung. Jika meneladani bagaimana Rasulullah berbicara, maka beliau berbicara tidak “nyerocos” seperti kita kebanyakan, namun beliau berbicara perlahan-lahan dan menggunakan jeda dengan tujuan agar ummat beliau paham akan yang beliau sampaikan. Jika ditarik benang merah menuju dunia kepemanduan, maka kunci dari kepemanduan adalah pemandu menyampaikan materinya dengan perlahan-lahan agar para peserta dapat memahami akan materi-materi yang disampaikan.

Sub metode yang keempat adalah perumpamaan. Terkadang materi-materi yang diberikan begitu berat dan susah dicerna oleh para peserta pelatihan. Maka di sinilah pemandu harus pintar-pintar dalam membuat perumpamaan atau analogi dengan sesuatu yang sederhana hingga peserta mampu memahaminya.

Metode yang kedua adalah yang berpengaruh kepada kejiwaan. Ada tiga sub metode yang terdapat di dalamnya yaitu motivasi, ancaman, serta mengembangkan potensi dan bakat.

Sub metode yang pertama adalah motivasi. Melalui motivasi dari seorang pemandu diharapkan peserta dapat bangkit semangatnya dalam mengikuti pelatihan.

Sub metode yang kedua adalah ancaman. Hal ini dapat dilakukan oleh komisi disiplin dengan tujuan untuk mendidik bukan untuk sekedar marah-marah atau membentak. Namun di sini yang perlu digarisbawahi bahwa ancaman harus disampaikan dengan kata-kata yang baik. Seringkali komisi disiplin terlalu seperti “melampiaskan”, marah-marah tidak jelas, bahkan berkata-kata kotor yang itu tidak pantas. Padahal seharusnya motivasi dan ancaman berjalan selaras dengan tujuan meningkatkan performansi peserta. Sub metode yang ketiga adalah mengembangkan potensi dan bakat. Untuk metode ini, tentunya sangat sulit dilakukan dalam pelatihan karena sifat pelatihan tersebut adalah eventual. Namun, pemandu pun tetap bisas setidaknya menstimulus pesertanya. Tentu pemandu yang cerdas ia pasti mampu melihat potensi pesertanya dari cara bicaranya, gerak tubuhnya, dan dari jawaban-jawaban yang ia lontarkan. Maka pemandu pun dapat sekedar memotivasi mereka.

Dari uraian saya di atas dapat diambil kesimpulan bahwa keteladanan saat ini merupakan kebutuhan yang harus mengalir dalam darah kepemanduan agar menghasilkan output yang tidak hanya cerdas dari aspek akal namun juga perbuatan. Memang pemandu tidak menuntut orang yang sempurna dan pada hakikatnya tak ada manusia yang sempurna. Kepemanduan juga tidak menuntut orang untuk menjadi teladan yang baik. Namun keteladanan selalu “menuntut” agar dapat mengalir  dalam jiwa seorang  pemandu. Karena hakikat  kepemanduan adalah  keteladanan.

“Hakikat Pemandu adalah tiap nafasnya adalah kebaikan, perkataannya adalah panutan, gerak tangannya mengandung aura kebermanfaatan,  derap langkahnya adalah pengabdian, bahkan tiap detiknya menebar keteladanan” – MFS, 2013

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

2 Responses

  1. Zaky says:

    Kita kadang merasa lebih benar, lebih baik, lebih tinggi, dan lebih suci dibanding mereka yang kita nasihati. Hanya mengingatkan kemabli kepada diri ini:
    Jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak.
    Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.
    Jika kau merasaa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan.
    Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu. Mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangur dibakar riya’.

    -Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah-

Leave a Reply to Zaky Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *