Merangkai Mozaik Rindu Yang Tercecer…(2)

05.30

Sinar matahari mulai menampakkan pesonanya. Ada pesona langit yang menyemburat mencerahkan langit yang sebelumnya gelap. Sementara itu dinginnya malam mulai menghilang beralih menjadi kesejukan. Paru-paruku terekembang kempis, meronta-ronta ingin berisikan udara segar. Kugunakan sepatuku, bersiap dengan kostum olahragaku. Kutanggalkan kos-ku dan beranjak ke stadion di kampusku. Sudah cukup banyak orang di sana yang sampai dan berolahraga sesuka mereka. Ntah jogging, berlari, senam ringan, atau lainnya. Namun ada yang cukup janggal dengan pemandangan yang kusaksikan. Ya, mereka yang mendominasi justru kaum berusia lanjut. Lucunya di stadion sebuah universitas yang mempunyai 20rb pemuda, justru stadion di dominasi oleh mereka yang sudah tua. Sementara mereka yang muda, masih tertidur dengan pulasnya. Maka kutemukan kembali ceceran mozaik rindu itu : Rindu kebersamaan dengan para pemuda.

07.00

Lagi-lagi kuliah pagi. Kampus TI telah terlihat ramai. Inilah awal diriku menjalani semester 3. Tak terasa kini aku berada di tingkat kedua, sudah memiliki adik tingkat :3 . Ah seperti biasa, minggu pertama perkuliahan jarang berjalan penuh keefektifan. Walaupun katanya jurusan Teknik Industri dikenal mempelajari efektifitas dan efisiensi namun sulit kutemukan penerapan hal ini di minggu awal perkuliahan. Ketika bertanya ke sekretariat jawabnya sama : Ntah ada kesalahan teknis, atau pun masih awal, baru liburan atau lainnya. Di sinilah terkadang profesionalitas dipertanyakan, sementara sisi kekeluargaaan terlalu dominan sehingga ada rasa sungkan untuk meng”intervensi” terlalu jauh. Ah lagi – lagi kutemukan serpihan mozai rinduku : Rindu pada Profesionalitas dengan Basis Kekeluargaan.

10.00

Kuliah usai, maka kulangkahkan kakiku menuju surau terdekat. Hening dan sepi, di sebelahnya ada kantin yang ramai. Kubasuh diriku dengan air wudhu, menuju sajadah, tempat menyeruakkan kepala ini serendah kaki, dan hal itu cukup jadi bukti bahwa sebenarnya diriku adalah seorang yang rendah nan hina di hadapanNya. Mentari masih sekitar 60 derajat di atas kepala, maka Dhuha pun kusegerakan. Kanan kiriku pun terasa lengang, terkadang angin nakal berembus membuat mata terpejam. Ah, ini tak seperti biasanya. Aku masih ingat kala SMA dulu surau selalu dipenuhi kawan kawan seperjuangan. Ya, masa-masa menuju ujian kelulusan adalah masa-masa kritis. Bahkan dapat terkatakan sebagia masa-masa terdekat seorang hamba kepada Tuhannya. Namun, ah… lagi-lagi kumenemukan definisi yang salah akan ibadah, yang seharusnya istiqomah telah berubah menjadi eventual belaka, walaupun tak jarang aku pun melakukannya. Astaghfirullah… Ampunilah hambaMu ini Ya Allah. Sementara disebelah surau tempatku berpijak, ada kantin yang jauh lebih ramai dipenuhi manusia-manusiaNya. Seandainya aku menjadi sebuah Musholla, maka ia pasti menemukan ceceran mozaik rindu itu : Rindu akan mereka yang shalat di dalamnya….

12.00

Tepat hari ini mentari berada dalam posisi 90 derajat begitu panas dan membakar kepala. Segarnya air wudhu usai shalat dhuhur pun serasa langsung menguap dan kembali tak terasa. Rasanya suhu udara ini begitu tinggi hingga membuat darah dalam tubuh ini mendidih. Aku berjalan kaki menuju gedung kuliahku. Letaknya cukup jauh dari parkiran motorku. Ya, terasa jauh karena panas yang membakar. Ah, dasar Surabaya. Panasnya terkadang tak kenal toleransi. Anganku perlahan terbang ke Malang, tempat tinggalku dahulu. Ya, dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, maklumlah jika udara Malang begitu sejuk. Dan kini terhitung sudah beberapa bulan aku tak pulang, menghirup segarnya udara Malang.  Ya kembali lagi ceceran mozaik itu kutemukan…. Rindu Kampung halaman…

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *