• Uncategorized
  • 0

Refleksi Awal Tahun : 1435 Hijriah!!!

1459732_3593514891872_1034105445_nBerpindah. Satu kata yang begitu singkat namun betapa dalam maknanya. Ya, Itulah makna dari Hijrah. Bila kita menilik 1435 tahun yang lalu, tepat pada waktu itulah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah beserta para sahabatnya, ketika kondisi Makkah tidak lagi memungkinkan untuk nyaman ditinggali.

Hakikat hijrah bagi Rasulullah SAW adalah berpindah dari lingkungan yang tak baik menuju ke lingkungan yang sehat, baik, ramah, dan mendukung perkembangan nilai-nilai keislaman. Maka dapat dikatakan momen hijrah adalah momen kebangkitan spiritualitas yang baru. Ya, karena itulah Khalifah Umar bin Khottob menetapkan Hijrahnya Nabi Muhammad sebagai tonggak sejarah yang luar biasa besar bahkan sampai-sampai dijadikan acuan perhitungan tahun. Karena apa ? Karena momen ini adalah momen semangat baru, dan sungguh pas bila dijadikan awal perhitungan tahun.

Namun kin, hijrah jika dikaitkan dengan relevansi zaman sekarang tentu berbeda dengan zaman dahulu. Secara nilai-nilai mungkin tetap sama, namun implementasinya jauh berbeda. Pada masa Rasulullah SAW hijrah lebih menyentuh ke arah dimensi -dimensi lahiriah dan batiniah. Namun hijrah di masa kini lebih bermakna batiniah dan spiritualistik. Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan setiap manusia memiliki mobilitas dan aktivitas yang begitu padat tanpa batasan ruang dan waktu lagi. Dengan demikian hijrah merupakan perpindahan dari sikap, sifat, serta tindakan yang tercela menuju kepada sikap, sifat dan tindakan yang lebih mulia, dari kehidupan yang belum baik menuju kepada kehidupan yang lebih baik, maka itulah inti dari hijrah di masa modern.

Lalu sekarang sudahkah kita bertekad menjadi lebih baik dari sebelumnya ? Mencoba mengingat hadis Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda, “Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari). Lalu sudahkah kita menjadi orang yang beruntung? Konon, di antara bahan ‘penyesalan’ orang-orang saleh di hari kiamat yaitu adanya waktu kosong dalam kehidupan mereka. Tentu saja, bukan untuk bermaksiat Namun, betapa beruntungnya seandainya mereka memanfaatkan seluruh hidup untuk kepentingan ibadah, jelas ‘penyesalan’ itu menjadi wajar. Lalu apalagi bagi mereka yang memanfaatkan untuk hal-hal keburukan dan kemaksiatan? Nauzubillah.. bahkan mereka ingin dikembalikan sehari saja ke dunia dalam keadaan bertaubat, begitu dalam suatu riwayat tlah disebutkan.

Jika kita berkaca kepada Rasulullah, maka betapa beliau memiliki efisiensi tingkat tinggi dalam memanfaatkan waktu-waktunya. Bayangkan!!!  Sepanjang sembilan tahun di Madinah, kaum Quraisy melancarkan tak kurang dari 62 kali gempuran besar dan kecil. 27 ghazwah, pertempuran menghadapi mereka yang dipimpinnya langsung. 35 kali sariyah, yang dipimpin para kader sahabat. Artinya, bila di rata-rata mungkin hanya 1-1.5 bulan saja pasukan muslim beristirahat. Namun ditengah kesibukan tersebut, Rasulullah tetaplah seorang suami dan ayah yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Sebagaimana kita mengetahui beliau pernah berlomba lari dengan Siti Aisyah. Selain itu beliau pun meluangkan waktunya untuk rakyat-rakyat jelata, turun dari rumah ke rumah, menyusun strategi perang, membentuk struktur tata kelola pemerintahan, dan lainnya. Allahu Akbar, betapa waktu beliau bermanfaat bagi ummat-ummatnya.

Maka marilah sobat, di tahun baru hijriah ini, seringkali kita mungkin mengeluhkan 24 jam itu kurang dalam sehari. SALAH! Yang ada 24 jam itu kurang “efektif” dalam kau manfaatkan dalam sehari. Dengan waktu 24 jam sehari, Rasulullah bisa memanfaatkannya tuk segala hal yang bermanfaat. Lalu sekalipun kita tidaklah sesempurna beliau, jika kita mengaku mencintai Rasulullah, bukankah tidak mungkin kita meniru perilaku beliau ? 🙂

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *