Catatan Malming (2) : Pemimpin dan Cinta

Rasanya janggal dan aneh jika dua kata ini disandingkan. Pemimpin dan Cinta. Mungkin karena hati seseorang yang menuliskan artikel ini sedang “random” (?) atau apalah. Inspirasi ini muncul begitu saja kala saya membuka timeline facebook saya barusan, dan melihat seorang teman saya men-share-kan artikel tentang kepemimpinan di malam minggu ini. Yah, ditemani suasana gazebo SI, langit yang mendung, hujan yang baru saja reda, maka malam ini semoga saya dan para pembaca sekalian bisa berlayar menuju dua dunia yang berbeda. Dunia Pemimpin dan Cinta. Namun, di sini, saya kan mencoba mempersatukan dua dunia tersebut. Dunia kepemimpinan dan dunia percintaan :3

Pemimpin. Ya itulah diri kita semua. Minimal kita telah mampu memimpin diri kita sendiri. Tiba-tiba saya teringat bahwa Allah SWT 14 abad yang lalu berfirman tentang peran dan fungsi manusia. Ya, tepatnya dalam Surat Al-Baqarah ayat 30 Allah SWT telah berfirman bahwa manusia diciptakan untuk menjadi Khalifah di muka bumi ini. Siapa lagi khalifah itu kalau bukan pemimpin. Serta siapa lagi pemimpin itu kalau bukan kita semua. Maka berbahagialah kita semua di sini yang ditakdirkan menjadi khalifah. So, sudahkah kita bisa mampu menjalankan amanah yang difirmankan oleh Allah dalam Quran-Nya ?

Lalu Cinta. Sepertinya terlalu panjang jika saya jelaskan di sini hakekat cinta. Ia begitu luas, luasnya tak terhingga. Ia begitu agung, se-agung sifat penciptaNya, karena Dia lah yang menciptakan rasa yang dinamakan cinta. Ia begitu mempesona, laksana tanda-tanda kekuasaannya. Ia terkadang menjadi abstrak, laksana ayat-ayat kauniahnya seperit alif lam mim, nuun, serta lainnya. Ia pun bisa menjadi menyakitkan laksana azab yang datang dariNya. Ia pun bisa menajadi peringatan jikalau dirimu terlalu tenggelam dariNya. Maka cinta, mencoba menarik benang merah antara 2 hal yang berbeda. Ia bisa menjadi jauh menjadi pahit laksana kopi, atau pun manis laksana gula.

Lalu sekarang pemimpin dan cinta. Seperti apakah benang merah di antara mereka? Ya, jikalau melihat arti mereka secara bahasa, begitu jauh keduanya. Namun secara makna, begitu lekat dan dekat. Mari kita simak kisah berikut ini, tentang sebuah bukti nyata Cinta Seorang Pemimpin.

Jika kita mengenal kebiasaan “blusukan” ala Dahlan Iskan, atau ala Jokowi, atau siapapun itu pemimpin-pemimpin bangsa kita di zaman sekarang, maka sebenarnya kebiasaan tersebut jaaauh telah ada di zaman Rasulullah dahulu. Ya, terutama saat para khalifah menjabat. Ambil saja salah satu contohnya Khalifah Umar bin Khottob. Beliau keluar bukan untuk sebagai ajang pencitraan diri, bukan untuk mencari-cari sensasi, melainkan sebagai representatif tanggung jawab umar kepada ummat yang ia pimpin.

Suatu ketika di malam hari, Umar bin Khottob seperti biasa sedang melalukan “blusukan”-nya. Saat beliau melewati sebuah kemah, beliau mendengar seorang wanita sedang merintih. Kemudian saat beliau dekati, terdapat seorang lelaki sedang duduk di samping tenda. Setelah ditanya, lelaki itu mengaku berasal dari daerah yang jauh, sedang istrinya di dalam tenda sedang berjuang menahan sakit, karena hendak melahirkan, dan mereka sedang sendirian, kebingungan karena tak menemukan bantuan. Kemudian, Umar ra. segera beranjak pergi, pulang menemui istrinya, seraya beliau pun berkata kepada istrinya, “Maukah kamu pahala besar yang sudah Allah giring kepadamu?” kata Umar pada Ummu Kultsum. Lalu Ummu Kultsum pun menjawab, “Apa itu?” Kemudian berkatalah Umar, “Ada seorang wanita yang hendak melahirkan. Masalahnya di sana tak ada seorang pun yang mampu membantunya.”
“Ya, aku mau,” jawab Ummu Kultsum tanpa berpikir panjang. Mereka berdua pun beranjak pergi, menuju sebuah perkemahan badui, sambil membawa makanan.

Sampai di tempat, Ummu Kultsum segera masuk tenda, menemui wanita badui yang hendak melahirkan. Sedang Umar mengumpulkan kayu bakar dan memasak makanan. Maka terheran-heranlah lelaki badui itu. Seolah-olah Allah telah mengirimkan kepadanya seorang penolong malam itu. Dan ketika istrinya telah melahirkan, Ummu Kultsum berteriak memanggil Umar , “Wahai Amirul Mukminin, kabarkanlah kepada temanmu itu bahwa anaknya laki-laki.”

Maka terkagetlah lelaki tersebut, bahwa ternyata orang yang ada di depannya adalah Amirul Mukminin, seorang lelaki setiap derap langkahnya membuat syetan berlari ketakutan. Umar pun menenangkan lelaki badui itu, lalu memberikan makanan kepada Ummu Kultsum agar menyuapi wanita badui tersebut.

Kemudian Umar mengambil makanan lagi dan diberikan kepada lelaki badui. “Makanlah, karena kamu sudah menahan kantuk semalaman.”

Begitulah Umar radhiyallahu ‘anhu melewati malam-malamnya. Mata selalu terjaga, demi kemakmuran rakyatnya. Sehingga banyak sekali kebijakan-kebijakan pemerintahannya yang kemudian diubah, setelah mendapat inspirasi dari perjalanan malamnya. Mulai dari perubahan masa pengiriman pasukan perang, yang awalnya tanpa ada batas waktu dan berubah menjadi empat bulan. Kemudian pemberian santunan negara, yang awalnya hanya untuk bayi yang telah selesai masa penyusuan, lalu diganti menjadi diberikan kepada setiap bayi yang lahir. Dan masih banyak lagi.

Allahu akbar, begitu dekat makna pemimpin dengan kata cinta. Pemimpin adalah kita semua ini. Jika berkaca, kita semua dilahirkan ke dunia ini dengan segenap cinta dari kedua orang tua kita. Maka alangkah beruntungnya kita semua bila ditakdirkan menjadi sosok yang dicintai dan didambakan oleh ummat yang kita pimpin. Namun, sekali lagi pepatah mengatakan, tiada asap bila tak ada api yang dipicu. Tidak ada cinta dari ummat jika kita tak pernah sepenuh hati mencintai mereka.

Mengambil sudut pandang yang lain, bahwa seorang pemimpin pun tak pernah terlepas dari rasa cinta dari sekelilingnya. Membaca berbagai sejarah akan sosok pemimpin yang hebat, selalu ada seorang yang mencintainya karena Tuhannya yang senantiasa menjadi pendamping bagi sosok sang pemimpin. Kala kita mengingat Rasulullah SAW, ada sosok Khadijah yang menguatkannya dalam setiap gerak gerik dakwahnya. Khadijahlah yang menyelimuti Rasulullah kala pucat pasi menerima wahyu pertama dari Allah. Khadijah pula yang memperjuangkan islam dengan hartanya. Dari sosok Muhammad SAW dan Khadijah ra. kita belajar, bahwa cinta mereka berdua terlekatkan dalam tali perjuangan menegakkan agama Allah.

Adapun sosok yang lain seperti Muhammad Mursyi. Dalam gelap dan pengapnya penjara yang ia huni, awal november yang lalu beliau mendapatkan tamu spesial, ialah Istrinya sendiri beserta keluarganya. Ia pun menyampaikan kepada istrinya agar tetap berjuang bersama rakyat Mesir menegakkan panji-panji kebenaran yang mulai pudar. Sosok presiden seperti Muhammad Mursyi begitu teguh menjaga ikatan kekeluargaannya. Hingga bisa kita bayangkan berapa lama seorang istri Muhammad Mursyi tak merasakan indahnya dunia bersama suaminya. Namun, ikatan cinta mereka tetap kuat. Dan kembali kita belajar, dalam perjuangan kepemimpinan, ikatan cinta tak sepenuhnya terkuatkan oleh pertemuan. Namun jalinan itu dikuatkan oleh satu kata : PENGORBANAN.

Dari timur tengah menuju ke Indonesia. Maka sosok pemimpin yang kita ingat, tentu kisah cinta antara pak presiden Habibie dan Ainun. Begitu kuatnya ikatan mereka, sehingga kala Bu Ainun pergi meninggalkan dunia tuk selama-lamanya, maka satu statement dari Habibie, bahwa “Manunggaling Jiwa dan Raga”. Bersatunya jiwa dan raga meraka, karena sesungguhnya mereka tak pernah terpisahkan. Begitulah keyakinan dari seorang habibie. Di tengah kesibukannya mengembangkan teknologi dan mimpi-mimpinya terhadap Indonesia yang kan mengembangkan industri dirgantara, dalam tiap malamnya, Bu Ainun selalu tetap mengigatkan agar menjaga kondisi, minum obat teratur. Hampir setiap hari Bu Ainun tanpa pernah bosan dan jemu mengingatkan sosok Habibie yang mungkin sedikit “bandel” dalam menjaga kondisinya. Namun, Bu Ainun tak pernah lelah tuk mengingatkan, karena ia percaya ikatan cinta mereka dikuatkan karena rasa “ISTIQOMAH”

Pemimpin dan Cinta. Kedua hal yang jika saling melengkapi kan hasilkan sesuatu yang penuh prestasi. Kedua hal yang takkan bisa terpisahkan dengan pasti. Teruntuk para pemimpin, dan calon pemimpin, jadilah pemimpin yang menebarkan cinta agar cinta yang kau tebarkan bereaksi dan beraksi kepadamu dengan hal-hal yang positif. Namun jangan lupa, tetaplah kau membutuhkan cinta dari keluargamu, kalangan terdekatmu, anak-anakmu, serta ayah dan bundamu. Seberapun kau menebar cinta pada ummatmu, namun jika kau lupa akan cinta pada keluargamu, maka kau takkan pernah merasakan ikatan kuat antara dua kata : “Pemimpin” dan “Cinta”

Dengan penuh cinta, Gazebo SI, 16 November 2013, 22.06
– @faizalmushonnif –

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *