Satu Kata : Jujur

Sepertinya kita sudah saling mengenal lama, namun entah mengapa kadang kawan-kawanku kesulitan akrab denganmu. Tak terkecuali diriku. Padahal sejak kecil kau begitu digaung-gaungkan, di agung-agungkan oleh orang tuaku, guruku, bahkan oleh pemimpin pemimpinku. Namun entah mengapa selalu ada gap yang memisahkan kita. Aku pun tak tahu sampai kapan gap itu selalu menghalangi kedekatan kita. Namun, jika aku mencoba membersihkan hatiku dari dosa-dosa kehidupan ini, maka izinkan aku berkata kepadamu : “Aku ingin kau bersatu dalam ragaku, dalam jiwaku, dan dalam tiap detak jantungku.” Namun kata-kata itu hilang tertiup angin malam yang semakin sendu membawaku dalam satu rasa yang berpadu. Jujur, aku rindu.

Hakikat jujur ia selalu berlawanan dengan usaha. Ya, karena jujur adalah sebuah kata yang lahir dari nurani terdalam manusia. Bicara cinta. Ketika kau berusaha menjauhinya, jujur kau selalu ingin dekat kepadanya. Seberapa kuat pun kau menahan rasa yang terpendam, jujur kau ingin selalu mengatakanya. Saat pertama kali mendengar namamu, jujur tak ada bayangan pasti tentangmu. Karena aku percaya dalam cinta tak ada yang namanya kejujuran. Ya, akal bulusku berkata bahwa cinta adalah kebohongan. Kau agung-agungkan dirimu di depannya, dengan dirimu yang sebenarnya biasa saja. Seringkali kita menjadi budak dari cinta yang kita inginkan, hingga kejujuran pun kita injak-injak dengan angkuh seenaknya.

Namun ternyata aku salah. Seiring dengan berjalannya waktu, maka jujur adalah nyawa dari cinta. Cinta yang setulusnya karenaNya. Ibarat roh suci yang senantiasa bersama ktia, maka jujur adalah cahayanya yang paling benderang. Sekalipun jujur terkadang menyakitkan, namun kini aku percaya jujur kan membuat cinta kita kan abadi. Jujur kan membuat hidup kita lebih berarti. Jujur kan membuatku mencintainya tanpa rasa apapun, murni dari lubuk hati yang dalam, bahwa cinta sejati adalah cinta tanpa karena.

Dan nanti ketika tiba waktunya kejujuran itu diungkapkan, aku percaya sayap-sayap malaikat langit bertebaran mendoakan pengakuanku. Aku percaya bahwa kejujuran bagai sesuatu yang didambakan, namun entah mengapa begitu sulitnya tuk direalisasikan. Aku percaya jujur itu adalah nilai-nilai luhur perjuangan dan keteladanan yang patut dipertahankan dan diperjuangkan. Dan aku percaya, akan ada cahaya yang keluar dari nuranimu, cahaya cinta illahi yang begitu hakiki kala aku mengatakan kejujuran ini padamu.

Maka izinkan aku kembali tenggelam dalam kejujuranku. Kejujuran akan keinginan mengenalmu, keluargamu, dan kawan-kawan terdekatmu lebih dalam. Kejujuran akan hasrat untuk menjadikanmu akan separuh agamaku. Kejujuranku akan keinginan tuk menjadikanmu madrasah bagi cahaya-cahaya yang kelak meneruskan perjuanganku. Dan kejujuranku akan dua jiwa yang sampai saat ini mungkin masih saling menunggu tuk bersatu.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *