Sepiring Nasi Rawon

image

Asap masih membumbung di atasnya. Kuperhatikan lamat-lamat kuahnya berwarna kecokelatan. Perpaduan kaldu daging sapi ditambah bumbu “kluwek”, begitu orang jawa menyebutnya menghasilkan warna kehitaman di kuahnya. Sementara di atasnya terapung bawang goreng yang semakin menggoda selera. Tak lupa daging yang ikut berwarna kecokelatan diletakkan di atasnya. Ditambah kecambah dan sambal sebagai pelengkap. Tak lupa sepotong tempe khas yang selalu ada di porsiku. Jadilah sepiring rawon yang begitu menggoda selera.

Namun belum cukup sampai di situ. Kakekku (aku biasa memanggilnya Abah) adalah orang yang paling tahu bahwa aku menyukai daging empal dan sambal kecap. Tak lupa beliau juga selalu menawarkan krupuk kepadaku. Bukan hanya satu. Empat sekaligus karena beliau tahu bahwa aku pasti menghabiskannya. Tak lupa beliau pesankan teh hangat untuk kami berdua sebagai minuman pelengkap sekaligus menurut beloau menyehatkan. Bismillah… kumulai sesendok santapan pertama bersama-sama dengannya. Alangkah nikmatnya kebersamaan ini. Malam-malamku di kampung halamanku selalu kuhabiskan bersama beliau ditemani makanan kesukaan kami berdua : Nasi Rawon. Namun… itu terjadi beberapa bulan yang lalu..  Sebelum beliau pergi meninggalkanku selama-lamanya. Kembali ke pangkuanNya… :'(

Sepiring rawon itu kini ada di hadapanku. Asapnya masih membumbung panas. Aromanya masih sedap. Dagingnya juga baru ditiriskan. Ada tempe yang juga masih hangat. Disampingnya ada teh yang juga mengeluarkan aroma sedapnya. Sementara aku termenung diam. Mataku berkaca-kaca selagi pikiranku terbang. Melayang ke masa lalu..

Masih terukir jelas dalam ingatanku. Jika kau bertanya warung nasi rawon se-Mojokerto, mungkin beliau adalah pakarnya. Insting tajamnya seolah selalu update dengan aneka jenis rawon yang baru buka. Mulai rawon pagi, rawon siang, rawon malam, atau bahkan rawon yang buka dari pagi sampai malam beliau seakan menghafalnya diluar kepala. Ntah bagaimana beliau mengingat dengan jelas. Beberapa warung bahkan beliau ceritakan nilai historisnya kepada cucu-cucunya. Seperti suatu siang, diajaklah aku dan adikku ke Warung Maduratna namanya. Ternyata, beliau telah kenal baik dengan pemiliknya. Beliau ceritakan perjuangan bapak pemilik warung itu dulu saat mendirikan warung itu hingga sebesar ini. Ada nilai2 perjuangan, doa dan semangat pantang menyerah yang rupanya berusaha beliau tanamkan kepadaku. Cerita itu terhenti manakala rawon itu datang. Aku pun menyantapnya dengan lahap. Terkadang kuperhatikan wajahnya yang smakin banyak kerutannya menandakan beliau semakin tua. Ah.. bahkan dulu pun saat kembali beraktivitas di malang ataupun surabaya setiap kusantap rawon selalu terbayang-bayang wajahnya. Hingga sekarang pun bayang-bayang itu justru semakin kuat.

Mungkin tak bisa kusebutkan satu persatu rawon mana yang pernah kukunjungi bersama beliau. Aku masih ingat suatu pagi bersama adikku diajaklah aku keluar jauh ke daerah yang namanya Mojoagung (kabupaten mojokerto). Seperti biasa beliau membawa pick up tua-nya. Beliau selalu membangga2kan kualitas mesinnya. Ya, itulah uniknya kakekku. Ia memiliki mobil2 tua dan ia rawat sendiri mesinnya. Ia paham betul akan kualitas mesin mobil. Pagi itu waktu masih menujukkan sekitar pukul 06.30. Sekitar pukul 07.00 kami sampai di warung rawon. Abah berkata bahwa warung ini adalah warung pagi, dan biasanya jam 10 sudah habis. Aku masuk ke dalamnya dam seperti biasa. Sepiring rawon, dengan teh hangat. Ada yang khas di warung ini ada sambal goreng tempe dan dagingnya yang disuwir namun bumbunya luar biasa rasanya. Dengan lahap kuhabiskan rawon tersebut. Abah waktu itu berkata bahwa warung ini termasuk warung baru beberapa bulan lamanya buka.

Aku juga masih ingat dulu saat liburan sekolah beliau mengajak seluruh cucu-cucunya ke sebuah warung rawon. Saking banyaknya jumlah kami, beliau membawa mobil mitsubishi colt tua kebanggaannya. Kalau aku menyebutnya “Quality Time with Grandpa”. Siang itu, kami menempuh perjalanan yang cukup jauh hampir satu jam lamanya. Beliau berkata ini rawon terunik yang pernah beliau temui, namun letaknya cukup jauh. Bayanganku, kita akan diajak ke restoran yang besar mungkin. Sesampai di sana ternyata dugaanku meleset. Ternyata hanyalah warung makan seperti biasa. Sederhana, namun cukup ramai.

Kami pun masuk ke dalamnya. Beliau memesankan kami semua nasi rawon. Aku sendiri masih penasaran dengan apa keunikannya. Ketika piring itu sampai di depanku sekilas tidak ada yang beda. Namun, ah! Aku menemukannya. Rawon ini benar-benar bening. Kuahnya tak berwarna kecokelatan atau pun kehitaman.  Namun rasanya benar-benar terasa bumbu “kluwek”nya. Smpat tak percaya bagaimana mungkin kluwek yang cokelat kehitaman ini bisa tidak berwarna. Ah, mungkin itu resep rahasia yang tak mungkin dibocorkan oleh bapak penjual itu.

Pengalaman lainnya adalah saat malam hari. Beliau pernah mengajakku ke pusat kota mojokerto. Dan diajaklah ke suatu warung lagi-lagi rawon. Dipesankannya seporsi untukku, dan seporsi untuknya. Rawon di sini selalu justru bukan empal yang disajikan, namun sepaket dengannya adalah paha ayam kampung goreng. Lagi-lagi aku merasakan ke-khasan bumbu yang meresap di dalamnya. Ah, soal rasa memang selera Abah nomor satu.

Sepiring rawon itu masih utuh di hadapanku. Asapnya telah tiada. Aromanya telah pudar. Dagingnya tak lagi berasap. Ada tempe yang tak lagi hangat. Disampingnya ada teh yang tlah kehilangan aromanya. Semua dingin. Sedingin jasadmu selepas pergi mwninggalkanku. Sedingin tatapanmu di saat saat  terakhirmu. Sementara aku mulai terisak. Mataku meneteskan air mata selagi pikiranku pun kembali di sini. Menengok kursi merah disampingku yang tak mungkin lagi kau duduki.

Meja makan tempatku biasa menghabiskan waktu bersamamu, Rumah Abah H. Zainuri
24 hari pasca kepergianmu,
26 Desember 2013
22.32

Ditemani segelas teh manis hangat kesukaanmu.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *