Catatan Malming (3) : Bangun Cinta bukan Jatuh Cinta

Jika disuruh memilih antara jatuh cinta dan bangun cinta, maka ku kan memilih bangun cinta, tinggi kubangun setinggi menara-menaraNya di Surga

4 Januari 2014
Ini adalah malam minggu pertamaku
Di tahun gonjang ganjing negeriku
Isu politik mulai mengharu biru
Menyebabkan para krikus tak lagi bisa diam membisu
Hingga namamu tak lagi terngiang-ngiang di pikiranku
Ah, tak lagi musim itu yang namanya galau
Sebab namamu tak lagi menjadi pikiranku
Aku lagi dimabuk aura pemilu

Teruntuk bapak dan ibu calon pemimpin Indonesia. Aku tahu, mungkin saat ini kau lah orang yang paling merasa nasionalis dan tinggi rasa cintamu pada Indonesia. Aku tahu, saat ini kau berupaya menarik masyarakat ke dalam gelombang cinta yang kau buat. Aku tahu saat ini kau bersemangat menyuarakan perubahan yang dari dulu terlalu diagung-agungkan oleh pendahulu kita, walau realisasi nyaris tak ada. Aku tahu bahwa inspirasimu adalah dari pemimpin-pemimpin terdahulu. Dan terakhir smoga yang ini benar, bahwa aku tahu bahwa ambisimu begitu tinggi, namun tak lain ambisi mengabdi untuk negeri.

Namun bapak…
Namun ibu…
Tidakkah kamu tahu, bahwa nasionalismemu tak sebanding dengan pengorbanan dwitunggal soekarno hatta yang rela dibuang ke mana-mana. Tidakkah kamu tahu bahwa gelombang cintamu penuh intrik dan retorika belaka. Tidakkah kau sadar betapa cintamu mungkin seperti anak SMA, cinta monyet belaka, ujung-ujungnya putus juga. Tidakkah kau tahu bahwa suara perubahanmu tak ada bedanya dengan yang dulu. Tidakkah kau tahu bawa ambisimu ujung-ujungnya hanya prestise dan ambisi busuk tuk memenuhi pundi-pundimu dengan uang haram yang kau santap tiap hari. Tidakkah kau tahu bahwa tak penting mengetahui inspirasimu namun sejauh mana kau tebarkan inspirasimu Ah, rupanya pengetahuanmu pun hanya sok tahu dan masih banyak rasa ketidaktahuanmu.

Teruntuk bapak calon pemimpin dan ibu calon pemimpin.
Aku tahu bahwa kau sedang jatuh cinta. Cinta pada Indonesia yang sedang membara. Cinta akan nilai-nilai kejuangan para pendahulumu. Cinta kepada ideologismu yang ingin kau terapkan tuk tempat beranungumu. Kau pun jatuh cinta pada calon – calon rakyatmu. Setiap hari kau menyapa mereka, entah langsung ataupun tidak. Namun sayangnya kau “jatuh”. Hingga aku nyaris tak percaya apakah kau mampu tuk bangkit lagi?

Teruntuk bapak calon pemimpin dan ibu calon pemimpin.
Bukan saatnya lagi tuk jatuh cinta. Jatuh cinta pada Indonesia, maka kau akan tenggelam dalam bayang-bayang keindahannya. Jatuh cinta pada nilai-nilai kejuangan pendahulumu, maka kau akan jatuh akan nilai usang yang tak lagi relevan dengan perkembangnya zaman. Jatuh cinta pada ideologismu, maka kau akan terbutakan dan terbuntukan oleh mimpi-mimpi semu-mu yang tak berujung. Jatuh cinta pada rakyatmu terlalu dalam, maka kau lupa bahwa mereka pun kan membencimu. Ah, tidakkah kau sakit terus menerus dalam tenggelam dalam jatuhmu ?

Teruntuk bapak calon pemimpin dan ibu calon pemimpin.
Aku ingin cintamu tuk membangun. Membangun negeriku yang telah hancur oleh carut marut kawan-kawanmu. Membangun pertalian hati masyarakat Indonesia yang terpecah pecah. Membangun ideologimu yang penuh cinta tuk Indonesia. Membangun menara-menara cinta negeriku hinga mengantarmu menuju puncak surgaNya.

Ruang HMTI, 4 Januari 2014

11.37
Teruntuk calon pemimpin Indonesia yang kan bertarung

Berhentilah Jatuh Cinta! Bangunlah Cinta!

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *