Catatan Aktivis Dakwah (5) : Jenuh

Setelah sekian lama, tak kusambung catatan aktivis dakwah ini (terakhir kali posting 3 Mei 2013, tepatnya di sini)  Alhamdulillah di awal tahun 2014 ini bisa disambung lagi. Semoga bisa istiqomah dan bermanfaat 🙂

Jika kejenuhan menghampirimu, bukan karena terjalnya jalan dakwah yang kau tempuh. Bukan karena padatnya aktivitas dakwah yang kau jalani. Bukan karena tekanan dari sekitarmu yang begitu tinggi. Semata-mata karena kau kurang mendekatkan diri kepadaNya. Semata-mata karena Dia sedang rindu akan kedekatanmu denganNya – Mushonnifun Faiz S, 2013

Bisa dibilang jenuh adalah fitrahnya dari manusia. Ya, tiada manusia yang tak pernah merasakan kejenuhan dalam beraktivitas apapun. Sekalipun aktivitas itu menyenangkan, seperti bermain bola misalnya. Kita bahkan tahu, pemain sekaliber lionel messi, ronaldo, rooney pun juga pernah merasa jenuh dengan aktivitasnya. Bukan karena kekalahan yang mereka derita. Namun kemenangan berturut-turut, dan ketika mereka merasa semua impiannya pun tercapai, segala gelar sudah diraih, maka timbul satu titik di mana motivasi mereka stuck. Ya, itulah yang namanya titik jenuh.

Pun demikian dengan kita, para aktivis dakwah. Jangan kira para Nabi dan Rasul dulu tidak pernah mersakan kejenuhan. Tentu kita masih ingat, kisah Nabi Yunus yang meninggalkan ummatnya. Beliau jenuh dan marah karena ajaran Islam yang mulia tak diterima. Maka beliau pun meninggalkan begitu saja ummatnya. Sementara itu, pasca beliau tinggal, ummatnya justru bertaubat kepada Allah. Dan Maha Besar Allah, kala Nabi Yunus mendapatkan peringatan ditelan ikan nun. Sekali lagi, bahwa kejenuhan itu datang karena kita kurang mendekatkan diri kepadaNya. Di dalam perut ikan nun itulah, beliau berdzikir kepadaNya, “Laaailaahailla anta Subhanaka inni kuntu minaddholimiin” – Tidak ada Tuhan yang benar di sembah hanya Engkau ya Allah, mahasuci Engkau aku adalah orang yang membuat zalim atas diriku.”Maka Allah perkenankan permintaannya dan Allah lepaskan dia daripada kedukaan. Demikianlah Allah selamatkan orang yang beriman. Rasulullah bersabda:

“Nama tuhan yang mulia, siapa yang berdoa dengan nama itu akan diperkenankan doanya. Siapa yang meminta dengan nama itu, akan diberi apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus dalam perut ikan nun.”
Firman Allah : “Jika tidak karena dia (Nabi Yunus) daripada orang yang selalu mengucapkan tasbih, niscaya tidaklah ia dapat keluar dari perut ikan sampai hari kiamat.”

Dan Allah pun menjawab doanya, karena setelah kembali ke ummatnya, ternyata Nabi Yunus begitu dinanti kedatangannya. Mereka mengharapkan Nabi Yunus mau mengajarkan tentang islam yang lebih dalam. Allahu Akbar!  Sekali lagi, kejenuhan itu datang kala kita menjauh dariNya.
Lalu kira-kira hal apa saja yang menyebabkan kejenuhan itu terjadi ? Di sini saya mencoba membaginya dalam 4 aspek. Aspek tersebut antara lain :
  1. Aqidah
    Orientasi dakwah berubah menjadi keduniawian. Ini yang patut diwaspadai. Jika dakwah kita bukan karena Allah lagi, lantas bagaimana impact dari kegiatan dakwah kita? Padahal dakwah itu adalah ibadah. Ibadah harus dilakukan karenaNya. Bukan karena orang lain, karena mengejar uang. Nauzubillah. Maka ketika hal ini muncul, beristighfarlah, dan renungkan kembali niatmu di awal dulu saat ingin mewaqafkan diri dalam berdakwah.
  2. Ibadah
    Amal yaumiah yang semakin luntur. Bahwa tak bisa dipungkiri ibadah adalah nutrisi terbaik bagi para aktivis. Fenomena yang terjadi selama ini adalah para aktivis seringkali syuro’, menjadi kepanitiaan dalam acara-acara islami, namun tilawahnya hilang perlahan-lahan. Atau bahkan parahnya, mendahulukan syuro’ membahas kegiatan daripada waktu shalat. Naudzubillah. Padahal hakikat dari aktivitas dakwah adalah memperkuat implementasi kita terhadap ajaran islam. Tentunya dengan aktivitas itu mempunyai dasar. Apa itu ? Shalat, Tilawah, Puasa, dan amalan yaumiah lainnya. Maka kebanyakan kegiatan pun akhirnya membuat kita jenuh, dan perlahan dikhawatirkan lupa, bahwa kejenuhan itu datangnya dari Allah, maka tentu kita harus mendekatkan diri kepadaNya.
  3. Fikriyah
    Semangat menuntut ilmu dan aktivitas tarbawiyah yang menurun. Seringkali kita melihat kajian, atau aktivitas keilmuan justru sepi dengan para aktivis. Sementara ketika kegiatan kepanitiaan, banyak aktivis berkumpul. Allahu Akbar! Inilah paradigma yang harus dibenarkan. Keilmuan islam adalah harga mutlak merupakan dasar dari bertindak seorang aktivis. Pembinaan terkecil yang sering kita lakukan adalah mentoring. Seringkali mungkin mentoring kita belum istiqomah melakukannya, dan termasuk saya sendiri mungkin 🙁 . Namun yang perlu ditanamkan adalah kuatnya tindakan dakwah seseorang parameter penilaiannya juga sederhana. Adalah dari seberapa dalam dan luas keilmuan agama yang ia kuasai. Tentu kita tahu, para aktivis-aktivis yang terjun di dunia politik, ambil contoh saja Presiden Mesir Mohammad Mursyi, yang beliau hafid Al-Quran. Kita lihat kebijakan-kebijakan yang diambilnya pun luar biasa. Ya karena itu tadi, keilmuan islam yang kuat. So, bagi aktivis dakwah, jangan malas-malas untuk mengupgrade diri. Ingat! Bahwa hakikat menuntut ilmu adalah minal mahdi ilallahdi. Dari ayunan ibu, sampai ke liang lahat.
  4. Akhlak
    Adanya pergeseran akhlak islami. Yang paling simpelnya adalah hubungan dengan lawan jenis. Tak bisa dipungkiri ini selalu menjadi polemik para aktivis dari dahulu sampai sekarang. Sehingga muncullah istilah-istilah seperti pacaran islami, hubungan tanpa status, “yang penting kan nggak ngapa-ngapain”, dst. Ah, sepertinya masalah ini terlalu panjang jika dibahas di sini. Yang jelas, budaya-budaya zaman globalisasi seperti sekarang ini ternyata perlahan melunturkan nilai-nilai akhlaqul karimah. Dan inilah sebenarnya tantangan terberat para aktivis. Jika aktivis dakwahnya saja sudah tak karuan akhlak-nya, bagaimana dengan kader-kader yang dibinanya?

Ya, dan solusi dari semua permasalahan di atas hanyalah satu. Dekatkan dirimu padaNya. Paradigma mendekat kepadaNya tidaklah dipersempit dari ibadah harian saja. Bisa melalui mengikuti kajian, mentoring, atau kegiatan rutin lainnya. Istiqomah memang berat, namun itulah yang utama. Iman kita pun naik turun, maka perlu “upgrade” diri secara teratur.

Teruntuk kau para aktivis dakwah, jenuh adalah hal yang biasa karena itulah fitrah manusia.
Namun pantaskah kau berlarut-larut dalam kejenuhanmu? Sementara kau belum mempersembahkan kado terindah untuk agamamu.
Pantaskah kau berlarut-larut dalam kejenuhanmu? Sementara perjuanganmu tak sebanding dengan Muhammad Al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel.
Pantaskah kau berlarut-larut dalam kejenuhanmu? Sementara lihatlah adik-adik aktivismu sedang menanti pergerakanmu bersama mereka.
Serta pantaskah kau berlarut-larut dalam kejenuhanmu? Jika kita mengingat sampai akhir hayat pun Rasulullah menggaungkan ummati…ummati…ummati… yang merupakan objek dakwah beliau.
Semoga ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahwa setelah ini tidak ada lagi kata jenuh dalam berdakwah. Karena Surga pun tak pernah jenuh menanti kedatangan para aktivis dakwah. 🙂
Ruang Inspirasi
Rabu, 8 Januari 2013
07.03

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *