Dilematika Jembatan Selat Sunda: Antara Kebutuhan atau Hanya Sekedar Kebanggan

Jembatan Selat Sunda
Gambar: progresivenews.com

27 Mei 2011. Ya, pada tanggal itulah Presiden SBY meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau yang disingkat MP3EI. Secara garis besar, dalam MP3EI, Indonesia akan dibagi ke dalam beberapa koridor wilayah, dan akan dikembangkan sesuai dengan potensinya masing-masing. Pada koridor Sumatera terdapat salah satu perencanaan pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur baru, yaitu Jembatan Selat Sunda, yang menghubungkan antara pulau Jawa dan Sumatera, dengan panjang yang diperkirakan mencapai 30 km dengan ketinggian 60 meter di atas permukaan laut. Jembatan ini akan menjadi jembatan terpanjang kedua di dunia, setelah jembatan Shanghai di China.

Adanya kebijakan ini ternyata menimbulkan banyak pro kontra di masyarakat. Sebab, jembatan ini dinilai menyedot anggaran negara yang terlalu besar. Untuk membangun jembatan ini diperlukan anggaran sebesar Rp 200 Triliyun dan rencananya membutuhkan waktu pembangunan selama 10 tahun. Hal itu menimbulkan tanda tanya besar. Sebab, dalam MP3EI disebutkan Indonesia telah dibagi ke dalam 6 koridor pembangunan, dengan tujuan percepatan pembangunan yang dilakukan dapat merata di seluruh wilayah Indonesia. Namun, nyatanya dengan anggaran sebesar itu, maka akhirnya pembangunan infrastruktur hanya terpusat di Indonesia wilayah barat saja. Hal itu dapat menimbulkan kecemburuan sosial terutama bagi masyarakat Indonesia Timur. Sementara itu, kondisi infrastruktur di Indonesia Timur masih memprihatinkan.

Berdasarkan laporan dari World Economic Forum selama tahun 2012-2013 yang lalu, kualitas infrastruktur di Indonesia sangat memprihatinkan karena berada di urutan dua terbawah di atas Negara Filiphina. Indonesia berada di urutan 92, sementara Filiphina di posisi 98. Malaysia berada di posisi 29, sementara Singapura berada di posisi kedua. Hal itu sungguh memprihatinkan, mengingat potensi pembangunan infrastruktur di Indonesia begitu besar.

Bagi sebagian masyarakat awam, mereka kebanyakan setuju dengan pembangunan ini. Bagi mereka, adalah sebuah kebanggaan bila Indonesia memiliki jembatan ini. Sebab, kapan lagi Indonesia memiliki jembatan yang akan menjadi jembatan terpanjang kedua di dunia. Selain itu, dengan adanya jembatan selat sunda ini, akses perpindahan dari Sumatera ke Jawa bisa lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan menggunakan kapal laut. Jika konstruksi telah selesai, termasuk proses instalasi perlengkapan tambahan dan siap digunakan, Jembatan Selat Sunda akan menjadi simbol kebanggaan Bangsa Indonesia, bahwa bangsa ini bisa membangun sebuah suspension bridge dengan main span terpanjang di dunia.

Namun, hal itu berseberangan jika jembatan ini dikaji secara keilmuan. Dari segi keilmuan geologi, jembatan ini berada di daerah yang riskan bencana alam. Letak jembatan hanya berjarak 50 kilometer dari Gunung Krakatau yang notabene merupakan gunung teraktif di dunia. Tentunya dampak yang dikhawatirkan adalah getaran lempeng tektonik yang dapat menyebabkan jembatan ini retak bahkan runtuh.

Jika ditinjau dari lokasi, maka dikhawatirkan tiang-tiang pancang jembatan akan mengganggu kapal yang lewat. Apalagi pelayaran Selat Sunda termasuk pelayaran uang cukup padat di Indonesia. Sekalipun ketinggian jembatan ini mencapai 70 meter di atas permukaan laut, namun peluang tabrakan kapal cukup besar.

Sedangkan dari segi biaya anggaran Rp 200 Triliyun tentu masih belum cukup jika ditambah dengan anggaran perawatan jembatan tersebut. Jembatan sepanjang itu, tentu membutuhkan perawatan yang disiplin dan teratur. Mulai dari keamanan jalan, kebersihan, dan yang paling penting adalah pengawasan terhadap konstruksi jembatan. Pemasukan yang diperoleh tentunya dari biaya melewati jembatan juga belum tentu cukup. Berkaca dari Jembatan Suramadu yang panjangnya “hanya” 5.4 km saja, sampai sekarang pun tiap tahunnya masih merugi, karena tak sebanding dengan biaya perawatan konstruksi jembatan. Apalagi Jembatan Selat Sunda yang panjangnya mencapai 30 km. Sehingga bila jembatan ini dibangun, investor pasti melakukan konvensi lahan di sekitar Jembatan Selat Sunda dengan tujuan dibangun pusat perekonomian, seperti pasar, penginapan, atau lainnya. Dampaknya bisa memunculkan polemik dengan masyarakat yang dibebaskan lahannya. Apalagi, jika investor yang mengambil adalah investor China, maka tentu masyarakat Indonesia mungkin hanya kebagian menjadi “kacung” saja di tempat tersebut.

Dari pada membangun Jembatan Selat Sunda, lebih baik diarahkan pada pembanguann infrastruktur di Sumatera. Sebab, akses jalan di sana masih buruk. Selain itu, dana 200 Triliyun bisa dialihkan untuk membangun double track di berbagai pulau. Adanya double track tentu lebih terasa manfaatnya, serta juga lebih murah dan lebih cepat pembangunannya. Double track jika dibangun di sumatera, maka seluruh provinsi di sana dapat terhubung. Apalagi kondisi infrastruktur di Sumatera masih jauh dibandingkan dengan di Pulau Jawa.  Bandingkan dengan Jembatan Selat Sunda. Walaupun menghubungkan dua pulau, namun efek yang paling terasa manfaatnya hanyalah provinsi Banten dan Lampung saja.

Alternatif lainnya adalah membangun pelabuhan kapal Fery cepat. Sebab kondisi kapal Fery di Pelabuhan Merak saat ini, sekitar 30%-nya telah berusia tua yaitu di atas 30 tahun. Sehingga perlu dilakukan upgrading kapal. Sedangkan pelabuhan juga perlu ditambah kapasitasnya. Jika berkaca pada negara tetangga, yaitu negara sekecil Singapura saja telah memiliki Pelabuhan yang bernama “The Marina Bay Cruise Centre” dan mampu menampung kapal pesiar terbesar di dunia, seperti Royal Carribean. Dengan Indonesia yang luas lautnya adalah 2/3 wilayah Indonesia, tentu peluang Indonesia jauh lebih besar mengembangkan pelabuhan-pelabuhan seperti ini.

Maka, dapat disimpulkan bahwa Jembatan Selat Sunda adalah kebijakan yang tidak salah, namun untuk saat ini belum waktunya untuk direalisasikan. Sebab lebih banyak hal negatif daripada positifnya. Selain itu, dana sebesar Rp 200 Triliyun, akan lebih bermanfaat jika disalurkan untuk pembangunan infrastruktur untuk Indonesia Timur. Dan yang perlu diingat lagi, bahwa laut adalah jembatan terbaik yang telah disiapkan Tuhan untuk Indonesia, jadi mengapa tidak memanfaatkannya!

Tulisan ini dimuat di Website Mahasiswa-Indonesia:

http://www.mahasiswa-indonesia.com/2014/01/dilematika-jembatan-selat-sunda-antara.html

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *