Aku Masih Bingung Bagaimana Mencintaimu, Oh Muhammadku…

61365_154763371208083_100000232644401_433586_5223060_n

12 Rabiul Awal 1435 H
Sebuah catatan cinta yang mungkin takkan pernah sampai kepadamu
Rasulullah SAW

Aku merindukanmu l Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengan suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu

*petikan Puisi KH. A. Mustofa Bisri – Aku Merindukanmu, Oh Muhammadku

Di tengah mentari yang masih malu menampakkan sinarnya, aku merenung selepas dhuha. 1500 tahun yang lalu, lahirlah sosok yang menjadi panutan bagi ummat manusia sepanjang masa. Sosok yang begitu dinanti. Dinanti oleh para pecinta TauhidNya. Dinanti oleh para pemuka agama. Dinanti mereka yang merindukan sinar surga ketuhanan. Dan dinantikan oleh para ahli kitab pada masanya, Al Uswah Al Hasanah.

Dalam sebuah syair digambarkan sosok beliau yang bersama kita rindukan.

Ada tanda kenabian di punggungnya.
Ada awan yang senantiasa mengikutinya kala ia berjalan.
Dahinya bercahaya cemerlang, rambutnya bagai langit malam yang gelap.
Bagaikan huruf alif bentuk mancung hidungnya, bagikan huruf mim bulat mulutnya, bagaikan huruf nun lengkung alisnya.
Pendengarannya dapat mendengar geritan qalam di Lauh Mahfuzh, penglihatannya sampai ke langit tujuh.
Kedua telapak kakinya dicium unta, maka lenyaplah rasa sakit serta bala’ musibah yang diderita oleh unta itu,
Binatang biawak dan lainnya beriman kepadanya dan bersalam kepadanya pepohonan, berbicara dengannya batu-batuan, batang kurma meratap kepadanya bagaikan rintihan kesedihan seorang pecinta.
Kedua tangannya menatap menampakkan berkahnya pada makanan dan minuman.
Hatinya tidak lalai dan tidak pula tidur, tetapi senantiasa mengabdi dan ingat kepada Allah

Aku masih bingung bagaimana mencintaimu, Oh Muhammadku. Hari ini adalah hari kelahiranmu, namun entah mengapa tak kurasakan atmosfer perayaan maulidmu. Atau mungkin aku yang terlalu apatis tak mau mencari tahu. Atau mungkin masjid tempatku menulis ini tak mau tahu. Atau bahkan aku yang tak mau tahu kegiatan masjid di kampusku ini. 31 Januari adalah hari kelahiranku. Aku masih ingat, setiap tanggal itu aku entah berkumpul bersama keluargaku, atau teman-temanku. Kami berdoa, bersyukur bersama dan memanjatkan doa atas kelahiran sosok manusia yang masih hina di hadapanNya ini. Bahkan kadang aku diberi uang lebih, untuk mentraktir teman-temanku. Kami makan bersama, bercanda, tertawa, dan berbahagia atas semakin dekatnya diriku menuju liang lahat yang tersebut dalam firmanMu. Namun hari ini, aku tenggelam dalam perenunganku. Berapa banyak uang yang tlah kuhabiskan tuk merayakan kelahiranku, sementara nyaris tak sepeserpun uang yang kusisihkan tuk merayakan maulidmu. Sementara dalam setiap hari kelahiranmu, dengan bangga selalu kuagung-agungkan, “Aku Mencintaimu, Oh Muhammadku”. Oh, Tuhan… Apakah ini cinta, atau sekedar retorika belaka.

Aku masih bingung bagaimana mencintaimu, Oh Muhammadku. Dahulu masa-masa kecil kuhabiskan untuk mempelajari sunnah-sunnahmu. Shalat Sunnah, Puasa Sunnah, Bersiwak, shalat berjamaah, serta sunnah-sunnah lainnya seakan mengelontok dalam pikiranku. Ah, biarlah ketika dulu aku menganggapnya sebagai hal yang terlalu susah untuk dipelajari. Namun sekarang, aku mendapatkan suatu hal yang lebih susah. Betapa bersyukurnya diriku jika telah mempelajarinya. Namun sudah cukupkah hanya mempelajarinya? Ah, baru kusadar hari ini, bahwa sunnah adalah “amalan”. Ya, amalan. Jelaslah harus diamalkan. Dilaksanakan. Diimplementasikan. Namun kata amalan seakan menjadi rangkaian huruf yang usang. Manakala lebih kupilih sendiri dalam shalatku daripada berjaamah. Manakala lebih kupilih sepiring es teh manis di siang bolong daripada puasaku. Manakala lebih kupilih hangatnya selimutku daripada dinginnya sajadahMu. Oh Tuhan, sekali lagi apakah ini cinta, atau sekedar retorika belaka

Bila disakiti, beliau mengampuni dan tidak membalas dendam,
Bila dihina, beliau hanya diam dan tidak menjawab,
Allah mengangkatnya ke martabat yang lebih mulia / tinggi,
Dengan kendaraan yang tak pernah dipakai oleh siapa pun, sebelum dan sesudahnya.
Pada golongan malaikat, ketinggian derajatnya melebihi yang lain.
Maka ketika Nabi naik melalui dua alam dan berpisah dari dua alam, sampailah yang ke tempat ketinggian yang bagaikan jarak dua busur panah, maka Aku-lah yang menghibur dan berbicara kepadanya.

Aku masih bingung bagaimana mencintaimu, Oh Muhammadku. Dalam setiap sejarah yang kubaca, tertuliskan bahwa Allah, Malaikat, serta makhluk-makhlukNya senantiasa bershalawat untukmu. Sementara itu, lisanmu selalu berzikir menyebut nama Allah. Bahkan kala Kau tidur, hatimu tak pernah berhenti menyanyikan cinta untukNya. Degup jantungmu berdetak merdu mengiringi nyanyianmu. Pejamnya matamu menandakan bahwa jiwamu yang senantiasa terjaga mendengungkan asma-asma Allah dengan penuh cinta. Sementara lihatlah diriku, yang lebih sering mengeluarkan kata-kata busuk yang tak pantas terucapkan. Bahkan shalawat nabi pun tak lagi menjadi sebuah kebutuhan bahkan kebiasaan. Lalu pantaskah jika aku mengharpakan syafaatmu, oh Muhammadku? Pantaskah label “umat muhammad” melekat pada diriku? Lagi-lagi cinta yang begitu kuagungkan semakin jelas bahwa ini hanyalah retorika belaka.

Perhatikan, kota Aqiq telah nampak dan inilah
Qubah Nabi, gemerlapan cahayanya menyilaukan

Itulah qubah hijau dan nabi bermakam di dalamnya.
Seorang Nabi yang nur-nya menerangi kegelapan.

Dan sungguh jelas keridaan Allah, dan pertemuanpun telah dekat
Dan sungguh telah datang kegembiraan dari segala penjuru

Maka bisikkan ke dalam hati, tiada seorangpun kucondongkan rasa cinta.
Maka tiada satupun hari ini kepada kekasih, penghalangnya

Condongkanlah rasa cinta kepada kekasih di segala tujuan,
Maka sungguh memperoleh kesenangan dan lenyaplah kedukaan.

Aku masih bingung bagaimana mencintaimu, Oh Muhammadku. Tempat itu bernama Raudhah. Bagian terindah di dunia yang kan diangkat menuju langitMu kelak di hari kiamat. Konon hanya orang terpilih dan atas izinNya lah yang dapat memasuki di dalamnya. Di sana ada mimbar tinggi nan indah, beralaskan sajadah terindah. Di depannya ada pintu-pintu menuju tempatmu dimakamkan. Bersama Abu Bakar dan Umar, kedua pelita hatimu yang senantiasa menemani perjuanganmu dulu. Berulang-ulang kusebut tempat itu dalam doaku, namun ah, lagi-lagi cintaku kepadamu masih separuh. Manakala lebih kupilih kuhabiskan tabunganku tuk kesenangan yang fana. Lagi-lagi aku tenggelam dalam pertanyaanku, Apakah ini cinta, atau hanyalah retorika?

Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.
Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.
Dan langit penuh dengan cahaya serta bergemuruh suara malaikat
membaca tahlil, tamjid dan istighfar.
Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari
keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya
Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk, Iahirlah kekasih Allah Muhammad saw dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan p
urnama dalam kesempurnaannya.

Aku masih bingung bagimana mencintaimu, Oh Muhammadku. Dalam syair para sufi disebutkan langit pun berguncang menyambut kelahiranmu. Warna-warni cahaya membuat langit bergemuruh ditambah suara malaikat yang berdzikir kepadamu. Alam semesta ini menyuarakan kegembiraan menyambutmu. Namun lihatlah sekarang, di hari kelahiranmu. Semalam tak kurasakan guncangan langit seperti yang dulu terlukiskan, kalah oleh gemuruh mercon tahun baru yang lalu. Tak kusaksikan cahaya indah laksana malam tahun baru 14 hari yang lalu. Tak kudengar suara dzikir memenuhi jagad raya alam ini. Atau mungkin sebenarnya ada, namun aku telah buta dan tuli akan dosa-dosaku, aku pun tak tahu. Oh Muhammadku, layakkah ini disebut cinta, atau sekedar retorika belaka?

Ah, sudahlah. Cukup sudah tenggelam dalam kebingunganku. Cukup sudah tenggelam dalam retorika atau cinta. Karena aku tahu, tiada cinta yang sempurna kecuali cintaNya kepada kita. Tiada retorika belaka, karena dalam setiap langkah kita, semoga telah tersebut shalawat untuknya. Karena cinta yang aku inginkan padamu, oh Muhammadku, adalah cinta sederhana. Seperti sederahananya cintamu di akhir hayatmu, “Ummati…Ummati…Ummati…”

Maha Suci Allah yang telah mencipatakan Nur terindah sepanjang masa. Nur yang mampu membuat Nabi Adam martabatnya naik setinggi-tingginya. Nur yang mampu membuat Nabi Nuh selamat dari banjir besar dan membinaskan orang-orang yang mengkhianatinya. Nur yang mampu membuat Nabi Ibrahim menyampaikan hujjahnya dengan kalahkan para penyembah berhala dan binatang-binatang. Nur yang menjadi kekasih Allah, penerima firman Allah, dan yang senantiasa berbicara kepada Allah. Nur yang mampu membuat Nabi Isa membawa kabar akan kelahirannya. Nur yang telah dihias olehNya dengan ketenteraman, yang telah diberi mahkota kewibawaan, serta dikibarkan bendera kepemimpinan di atasnya. Ialah Nur Muhammad, Rasulullah SAW.

Dari seorang yang belum layak dikunjungi Muhammad dalam tidurnya

Mushonnifun Faiz Sugihartanto

(Semoga) Seorang Ummat Muhammad

Syair: Terjemah Maulid Diba’

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *