Aku dan Organisasiku: Sebuah Pergerakan dan Pengabdianku

Seorang bijak pernah berkata, “Aku telah memilih pergerakan sebagai jalan hidupku, maka aku siap menanggung resikonya.” Hal itulah yang menjadi semangatku, dan menjadi motivasiku di kala sedang jenuh dalam kegiatan organisasi. Sebelumnya izinkan aku memperkenalkan diriku. Namaku Mushonnifun Faiz Sugihartanto, orang lain biasa memanggilku Faiz. Aku terlahir di Malang, 31 Januari 1994. Latar belakang keluargaku memang tak bisa dilepaskan dari keorganisasian, terutama ayahku. Pada masa kuliah dulu ayahku tergabung dalam organisasi kepemudaan islam serta organisasi kejurnalistikan. Maka tidak heran jika kedua hal tersebut menurun kepadaku sampai saat ini. Hobiku sama dengan beliau. Berkecimpung di organisasi dan juga menulis.

Awal aku mengenal organisasi adalah saat SMP saat aku bersekolah di MTsN I Malang. Waktu itu, aku tergabung dalam Remaja Masjid Al-Fajr, sebuah organisasi kerohanian di sekolahku. Tahun pertama aku langsug diamanahkan menjadi Koordinator bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia. Pada waktu itu program yang kuusung bersama teman-teman, kesempatan mengemangkan siswa-siswi MTsN I terutama dalam public speaking. Maka langkah konkritnya, kami meminta delegasi tiap kelas untuk dapat mengisi kultum singkat pasca Shalat Dhuhur di hari Kamis. Amanah itu berlanjut di tahun kedua, ketika secara teman-teman menunjukku sebagai Ketua Umum. Pada masa itu, untuk pertama kalinya, kami mencoba menyelenggarakan perlombaan se-sekolah. Beberapa ranah yang diambil oleh OSIS, bersama kepengurusan REMAS Al-Fajr 2007/2008 kami minta, dan pada bidang kerohanian beberapa bekerja sama dengan OSIS. Hasilnya walaupun masih banyak evaluasi, namun setidaknya itu dapat menjadi inisasi awal untuk REMAS ke depannya agar lebih hidup dan kontributif.

Karir organisasiku berlanjut di SMAN 3 Malang. Performansiku saat masa-masa ospek yang bagus, membuatku dan beberapa temanku yang lain disarankan untuk masuk ke dalam OSIS, dan pada waktu itu peluangku begitu besar, karena pada waktu itu, aku ingin ditarik ke dalam Sie. 1 OSIS yang merupakan Pengembangan Kerohanian. Namun, seperti kata orang bijak, bahwa hidup adalah pilihan. Tawaran tersebut tidak aku pilih, dan aku lebih memilih bergabung di Sie. Kerohanian Islam, yang menurutku jauh lebih menantang dikarenakan pada waktu itu kondisi SKI sedang mati suri, karena banyak proker-prokernya yang tak dilakukan, serta SKI oleh sebagian besar warga SMANTI dapat dipandang sebelah mata. Tahun pertama langsung aku mendapatkan amanah sebagai Wakil Departemen Syiar, yang fokusannya adalah penyelenggaraan kajian rutin. Masalah yang dihadapinya adalah sama, yaitu tingkat sustainabilitas atau keistiqomahan anggota SKI dalam menghadiri kajian rutin sebagai sarana meng-upgrade diri masih rendah. Oleh karena itu, pada waktu itu saya bersama teman-teman mencoba mendatangkan pembicara yang lebih atraktif. Hasilnya memang terlihat antusiasme teman-teman meningkat. Namun kembali lagi ke masalah awal, ketika yang datang dari waktu ke waktu kian sedikit bahkan hanya orang-orang itu saja. Maka itu menjadi PR terbesar bagi angkatanku yang akan memegang kepengurusan selanjutnya. Pada tahun kedua, aku mendapatkan amanah yang jauh lebih berat, yaitu menjadi Ketua Umum SKI SMAN 3 Malang. Pada masa itu, banyak tantangan yang harus diseleseikan. Salah satu tantangan terbesar SKI saat itu, matinya dua even besar SKI selama dua periode kepengurusan SKI yaitu PKIS (Pekan Kajian Islam SMANTI) yang merupakan even terbesar karena mengadakan talkshow dengan tokoh penulis terkenal, seperti Habiburrahman El-Shirazy yang dulu pernah didatangkan. Yang kedua adalah even KISI (Kompetisi Intelegensi dan Seni Islami) yang merupakan perlombaan keislaman untuk anak-anak SMA se-Malang Raya. Pada tahun itu pula, masih banyak PR-PR kepengurusan yang lalu yang belum terseleseikan. Maka, saya bersama teman-teman pengurus inti pada waktu itu bertekad untuk membangkitkan kembali gaung keislaman di SMANTI. Di bidang syiar, sistem kajian mencoba mengadaptasi sistem mentoring di perkuliahan. Sehingga, pengisi materi bukanlagi bergantung pemateri, namun kakak-kakak seniornya sendiri yang mendapatkan kisi-kisi materi setiap minggunya dari Departemen Syiar. Sehingga controlling terhadap kajian lebih mudah, karena dilakukan oleh banyak orang. Pada bidang HUMAS, kami mencoba membangkitakan kembali BDI tugu, sebuah organisasi gabungan antara SKI di SMA tugu, yaitu SMA 1 dan SMA 4 Malang. Pada bidang sarana prasarana, dibentuk SOP tersendiri dalam melakukan perawatan musholla, mulai bersih-bersih sebulan sekali, piket, sampai yang lainnya. Pada bidang Media dilakukan penerbitan bulletin SKI untuk pertama kalinya secara colorful setelah di tahun-tahun sebelumnya masih hitam putih. Juga membangkitkan website SKI yang telah lama mati. Pada bidang keputrian juga dilakukan inovasi, seperti merekatkan anggotanya dengan lebih sering melakukan internalisasi sambil disisipkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Terakhir tentunya kebangkitan dua even besar tadi. Pada kepengurusan kami, PKIS diubah namanya menjadi Bhawikarsu Islamic Expo, langkah untuk branding dengan membawa semangat baru perubahan. Dan Alhamdulillah, pada waktu itu, berhasil mendatangkan penulis Asma Nadia, dan untuk membrandingkan even ini agar dapat menjadi even yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya, kami dari panitia melakukan langkah yang cukup berani, yaitu menggratiskan dan peserta yang datang mendapatkan sertifikat. Walaupun masih banyak evaluasi, namun hasilnya ternyata luar biasa mendapatkan antusiasme dari warga SMANTI karena even yang telah mati suri ini dapat dibangkitkan kembali. Even yang kedua adalah KISI, di mana pada waktu pelaksaannya itu memang masih banyak terdapat evaluasi, dan beberapa perlombaan minim jumlah peserta. Namun, setidaknya hal itu dapat menjadi bekal bagi para junior yang memegang kepengurusan selanjutnya.

Memasuki dunia perkuliahan, saya mendapatkan semangat baru dari mentor saya. Memang, masa kecilku dibesarkan di kalangan keluarga yang memegang kuat prinsip keagamaan, dan ketika SMP dan SMA saya berkecimpung di dunia keorganisasian islam. Maka jika ditanya tentang motivasi lain saya dalam berorganisasi sejujurnya ingin berdakwah, dan berusaha menyelipkan nilai-nilai keagamaan dalam setiap langkahku. Sebab ketika kuliah inilah saya mendapatkan pencerahan dari mentor saya, bahwa dakwah sendiri terdapat 3 lini yang dapat dipilih, yaitu dakwah siasi, dakwah ilmi, dan dakwah da’awi. Dakwah ilmi adalah dakwah ketika kita menjadi ekspert di bidang keilmuan dengan tujuan mengembangakan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat. Dakwah da’awi adalah ketika kita terjun dalam aktivitas keislaman berupa organisasi-organisasi islam seperti menyelenggarakan acara-acara keislaman. Sedangkan yang ketiga inilah lini dakwah yang saya pilih, yaitu dakwah siasi atau perpolitikan keorganisasian. Di mana saya memutuskan untuk terjun ke dalam organiasi yang bukan bersifat kerohanian, namun tentu saja di dalam lubuk hati saya bertujuan untuk berdakwah. Ketika kuliah ini pula saya mendapatkan banyak pengetahuan tentang sejarah pergerakan mahasiswa.

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa inisiasi pergerakan mahasiswa di mulai saat tanggal 20 Mei 1908 ketika Budi Utomo pertama kali didirikan. Pada saat itulah mulai timbul kesadaran pemuda Indonesia, bahwa perjuangan dalam merebut kemerdekaan bisa melalui organisasi, sekalipun organisasi itu bukan bersifat politik. Budi Utomo sendiri merupakan organisasi nonprofit dan nonpolitik, namun ternyata dapat mengilhami semangat perjuangan para pemuda Indonesia di masa itu, sehingga berdirilah organisasi-organisasi yang lainnya yang turut menjadi batu loncatan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia pada saat itu yang telah dijajah selama ratusan tahun oleh Belanda. Menariknya para pemuda Indonesia zaman dahulu mengabdikan dirinya dalam organisasi. Mereka tidak dibayar, tidak pula mendapatkan penghargaan kebanyakan sampai sekarang, hanya mungkin namanya yang dikenang.  Maka ketika saya mencoba membaca karya-karya Soe Hoek GIE, Ir. Soekarno, Tan Malaka,  saya menjadi terinspirasi oleh mereka, bahwa pergerakan mahasiwa yang saat ini mulai luntur harus kembali di bangkitkan. Dan jalan yang saya pilih akhirnya adalah organisasi.

Pada perkuliahan ini, aku mendapatkan amanah di tiga organisasi, yaitu Staff Sosma HMTI ITS, Staff Kaderisasi MSI Ulul Ilmi ITS, dan Staff HMTI ITS. Ketika ditanya tentang alasanku untuk mengikutinya, selain mencari pengalaman juga untuk mengabdi. Pada Sosma HMTI ITS aku mendapatkan proker Merger KASTRAT. Sebuah proker yang menurut saya cukup berat, karena untuk membudayakan iklim diskusi mengenai isu-isu strategis. Melihat KASTRAT HMTI yang beberapa tahun terakhir kondisinya mati, maka kami berupaya membrandingkan kembali dengan inovasi-inovasi yang ada. Inovasi tersebut antara lain adanya Kultweet #KASTRAT_HMTI. Saya mencoba mengajak menulis kepada teman-teman staf departemen SOSMA dengan memberikan jatah kepada mereka untuk mebuat kultweet. Selain kultweet juga ada mading dan artikel yang ditulis oleh teman-teman staf SOSMA. Tujuannya tentu saja, untuk membudayakan menulis, karena menurut saya pergerakan mahasiswa di era global ini yang paling cocok adalah di bidang literasi. Selain itu, terselenggarakannya KASTRAT HMTI tentang LCGC kemarin Alhamdulillah antusiasmenya dari warga TI cukup TI, karena pengagitasiannya telah dilakukan jauh-jauh hari. Serta setahu saya, di antara semua HMJ di FTI baru HMTI saja yang telah melaksanakan kajian ini yang telah dibagi oleh BEM ITS karena ranah FTI kebagian isu LCGC dan Energi. Hasil kajian tersebut juga disebar di ranah HMJ se-FTI, BEM FTI, dan BEM ITS. Harapannya dapat mengagitasi jurusan lainnya serta BEM FTI agar segera melakukan kajian isu sesuai dengan bidang keprofesian masing-masing. Mimpi besar saya di tahun ketiga dan tahun keempat nantinya adalah tetap berkontribusi di organisasi manapun yang di mana amanah nanti memanggil saya. Karena saya percaya sebuah perkataan bijak bahwa amanah tidak akan salah dalam memilih tuannya. Saya pun percaya bahwa tidak selamanya ambisi itu buruk, karena seorang senior saya pernah berkata, bahwa ambisi itu boleh, asalkan ambisi untuk mengabdi. Organisasi bagi saya adalah ranah pengabdian terbaik, karena organisasi itu adalah miniatur dari negara ini. Banyak orang-orang besar terlahir dari organisasi-organisasi mahasiswa. Dalam mindset saya tertanam kuat, bahwa waktu di organisasi adalah singkat, maka tiada waktu seharusnya untuk kita menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya sepakat jika Dahlan Iskan mempunyai motto Kerja! Kerja! Kerja! Oleh sebab itu, organisasi bagiku adalah representasi pergerakan mahasiswa yang di zaman sekarang ini. Di dalam organisasi kita bisa menyisipkan bidang pergerakan yang lain, seperti bidang literasi, pengabdian masyarakat, serta bidang strategis lainnya. Budaya membaca, menulis, berdiskusi dan beraksi yang begitu dijunjung tinggi oleh mahasiswa zaman dahulu yang kini mulai luntur, juga dapat dibangkitkan melalui organisasi. Karena bagi saya organisasi adalah sebagai pengabdian kita kepada agama kita, bangsa dan negara. Terakhir, kembali lagi ke dalam lubuk hati kita. Bahwa dalam berorganisasi niatkan secara lurus, tulus untuk mengabdi. Karena saya yakin, Tuhan memiliki romantisme tersendiri dalam membalas kebaikan hamba-hambaNya yang berorganisasi. Maka izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah kata bijak dari KH. Rahmat Abdullah yang dapat menjadi sebuah motivasi perjuangan para aktivis organisasi. “Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Kapankah dikau boleh berhenti? Ketika dirimu telah mencapai ke dalam surgaNya yang hakiki.”

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *