Optimalisasi Peran Engineer dalam Rangka Transformasi Kepemimpinan Indonesia Menuju Kolaborasi Politik Demokrasi dan Teknokrasi

Jika kita mencoba membuka sejarah Indonesia di masa lampau, mulai dari masa orde lama hingga sekarang masa reformasi maka kita menemukan banyak sekali fakta menarik. Tentunya banyak perkembangan yang telah terjadi di Indonesia, khususnya dalam bidang teknologi dan perindustrian. Mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa perkembangan sejarah di Indonesia, dengan dinamika politik seperti itu mulai dari era Soekarno sampai SBY sekarang, peran engineer dalam kursi pemerintahan tidak begitu terlihat. Namun lupakah kita, bahwa presiden pertama kita adalah seorang yang bergelar Insinyur?  Ya, Ir. Soekarno, adalah seorang teknokrat lulusan ITB yang berkecimpung di dunia perpolitikan. Salah satu karyanya yang monumental adalah buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. Jika mencoba membacanya, maka nyaris kita tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menonjolkan seorang Soekarno yang notabene berlatar belakang engineer, namun kesan yang ditimbulkan adalah Soekarno seorang lulusan ilmu politik. Tetapi, jika menelusuri sejarah kehidupan beliau lebih lanjut, bahwa sejak muda, semangat engineer telah melekat dalam diri Soekarno. Hal itu ditunjukkan dengan karya-karya fenomenal beliau dengan arsitektur yang merupakan rancangan beliau sendiri, karena memang beliau adalah seorang insinyur lulusan arsitek.

Semasa ia menjadi presiden, kita mengenal sebuah kebijakan perpolitikan baru yang dalam pelaksanaannya adalah pembangunan besar-besaran di Indonesia. Politik beliau tersebut dikenal dengan “Politik Mercusuar”. Dampak dari politik ini memang pada masa itu, banyak proyek besar yang menelan anggaran negara hingga milyaran rupiah. Proyek tersebut antara lain pembangunan jalan, hotel mewah, Jembatan Semanggi, Monas, dan tahun 1962 diselenggarakanlah GANEFO (Games of The New Emerging Forces), sebuah pesta olahraga yang diperuntukkan negara-negara dalam golongan NEFO, sehingga membutuhkan pembangunan Gelanggang Olahraga Senayan. Gagasan tersebut memang bagus, namun Bung Karno pada masa itu lupa akan suatu hal. Yaitu dalam pengambilan keputusan tanpa melibatkan engineer-engineer yang ada di Indonesia juga melakukan perhitungan secara tidak cermat. Akibat yang ditimbulkan pada waktu itu, Indonesia mengalami krisis yang luar biasa. Sisi menariknya adalah banyak bangunan megah tersebut yang merupakan rancangan beliau sendiri, disamping juga beliau melakukan perancangan bangunan bersama teman-temannya sesama Insinyur. Seperti Hotel Indonesia, Wisma Nusantara, Rancangan skema Tata Ruang Kota Palangkaraya, dan lainnya.

Istilah teknokrasi sendiri mulai menggaung saat presiden Soeharto menjabat. Definisi teknokrasi sendiri adalah sebuah bentuk pemerintahan ketika pengambil kebijakan di negara berasal dari para pakar yang menguasai teknis bidang masing-masing seperti insinyur, ilmuwan, dan lainnya. Hal itu menjadi perbedaan yang mencolok antara zaman Soekarno dan Soeharto di mana dalam penyusunan model pembangunan menggunakan fungsi teknokrasi yang kental. Pada masa itu, golongan teknokrat terbagi menjadi dua, yaitu ekonom dan teknolog. Awalnya memang ekonom yang terlihat mendominasi, di mana dalam mengubah sistem perekonomian Indonesia yang mampu menghasilkan kebijakan REPELITA (Rancangan Pembangunan Lima Tahun). Memasuki tahun 1970-an ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan pesat, sehingga proses industrialisasi di Indonesia berjalan begitu cepat. Dan pada dekade 70-an itulah, seorang putra Indonesia di Jerman karirnya melejit sehingga namanya pun santer terdengar hingga Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Habibie. Maka, saat itulah Soeharto memanggil Habibie untuk kembali ke negara asalnya dalam rangka membangun perindustrian di Indonesia.

Saat dipanggil pulang, ternyata kondisi Habibie sudah mempunyai model pembangunan yang telah ia rancang berdasarkan pengalamannya saat di Jerman. Kemunculan seorang Habibie, menyebabkan peran teknolog atau engineer dalam pembangunan Indonesia tidak lagi dianggap sebelah mata. Inti yang diusung Habibie pada saat itu adalah akselerasi industri melalui peran aktif negara dalam penguasaan teknologi. Puncaknya pada 10 Agustus 1995, Indonesia menjadi perhatian dunia kala berhasil menerbangankan untuk pertama kalinya pesawat buatannya sendiri yang pada waktu itu dinilai paling unggul di kelasnya, yaitu N250. Hal itu sudah cukup menjadi bukti bahwa peran engineer dalam membangun Indonesia tidak bisa diremehkan, bahkan kebutuhan pemimpin masa depan Indonesia di era global seperti ini adalah mereka yang berlatar belakang engineer. Puncaknya adalah ketika Habibie diangkat menjadi presiden untuk menggantikan Soeharto, dan di masa jabatan yang singkat pun ia berhasil pada waktu itu menyelenggarakan PEMILU yang demokratis untuk pertama dalam sejarah Indonesia. Sebuah fakta unik mengingat latar belakang Habibie adalah murni ilmuwan, tidak seperti Soekarno yang memang telah berkecimpung di dunia politik sejak masa mudanya.

Setelah membaca sejarah di atas, tentunya muncul sebuah sebuah stigma berpikir bahwa peluang berkontribusi di ranah industri di Indonesia begitu besar. Apalagi kita sebagai lulusan Fakultas Teknologi Industri nanti tentu begitu luas kesempatan kita untuk berkontribusi. Sehinga dengan opportunity seperti itu, maka pola pikir yang terbentuk bukanlagi kita sebagai engineer. Namun adalah pola pikir “Mahapatih FTI”. Kata mahapatih sendiri jika di-breakdown terdiri dari dua kata yaitu berasal dari kata “Maha” dan “Patih”. Maha berarti besar, “Patih” berarti pemimpin. Hal itu menujukkan sebuah oportunitas seorang engineer bahwa ke depan akan lahir pemimpin-pemimpin dengan background engineer. Serta jika melihat kebutuhan negeri sekarang yang dalam taraf industrialisasi, maka peranan Fakultas Teknologi Industri ITS akan berperan dalam menghasilkan kebijakan-kebijakan strategis bagi Indonesia. Menyandang status sebagai fakultas terbesar di ITS, maka tentunya sangat luas bidang yang dapat dinaungi dalam bidang perindustrian. Maka dengan luasnya bidang perindustrian tersebut perlu dilakukan breakdown sebuah “ladang emas kontribusi FTI untuk negeri ini” ke dalam beberapa bagian.

Setidaknya ada 3 bidang yang menjadi ladang emas bagi pemimipin besar FTI kelak. Yang pertama adalah bidang energi. Sebagaimana yang kita tahu bahwa Indonesia memiliki potensi yang begitu besar di bidang energi. Menurut data dari kementerian ESDM, potensi energi terbarukan Indonesia bisa mencukupi kebutuhan energi Indonesia hingga 100 tahun mendatang. Namun, energi terbarukan di Indonesia masih belum digunakan secara maksimal. Hal itu ditunjukkan tingkat ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap bahan bakar yang bersumber dari cadangan energi fosil, yang diprediksi tidak lama lagi akan habis, dan kondisi sekarang yang mulai menipis. Bakan diprediksi pada tahun 2030 negara kita akan menjadi net importer energy yaitu negara yang benar-benar mengandalkan hasil impor tanpa memproduksi sendiri di negerinya. Apalagi pertumbuhan konsumsi energi Indonesia dalam 7 persen per tahun, sementara pertumbuhan konsumsi energi rata-rata di dunia adalah 2,6 persen per tahun. Tingginya konsumsi tersebut menyebabkan pengurasan yang tinggi terhadap cadangan sumber daya fosil, sehingga seharusnya pemimpin Indonesia saat ini membuat rencana strategis untuk Indonesia secara jangka panjang dalam rangka melakukan konversi energi secara besar-besaran menuju energi yang terbarukan. Solusi yang lain adalah diversifikasi energi, yaitu penganekaragaman pemakaian energi dengan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan seperti tenaga surya, angin, air, dan panas bumi. Tentu juga masih banyak potensi yang lainnya. Di Indonesia matahari bersinar dengan intensitas rata-rata yang tinggi, karena terletak di daerah khatulistiwa, dan ini tak terjadi di Eropa dan Amerika. Potensi geothermal Indonesia bahkan 40% dari seluruh potensi geothermal di dunia. Hal itu dikarenakan Indonesia merupakan negara dengan gunung api terbanyak di dunia. Energi angin dan ombak juga menempati posisi yang tertinggi di dunia secara kuantitas karena bentuk dari Indonesia sendiri adalah kepulauan. Dan yang tak kalah banyaknya adalah energi air. Indonesia adalah negara yang memiliki sungai dan air terjun yang sangat banyak. Pada negara Brazil, 46% kebutuhan negara telah di supplai oleh energi terbarukan. Maka tentu saja potensi Indonesia seharusnya jauh lebih besar dibadingkan dengan Brazil. Tinggal menunggu eksekusi saja dari pemerintah Indonesia apakah terbuai dengan semua potensi yang ada, atau segera mengambil langkah untuk mewujudkannya.

Bidang yang kedua adalah Teknologi. Transformasi kepempimpinan Indonesia dalam bidang ini pernah terjadi di masa Habibie masuk ke dalam tataran elit di Indonesia, yang melahirkan karya fenomenal yaitu pesawat N250 sebagai karya anak bangsa pertama kali dalam sejarah di bidang penerbangan. Hal itu menunjukkan potensi Indonesia begitu tinggi. Tidak hanya itu, kita juga sering mendengar teknologi kreatif lahir dari anak-anak Indonesia. Tidak usah jauh-jauh, ITS dengan mobil Solar Car-nya, Mobil Sapu Angin, telah cukup menjadi bukti bahwa potensi perkembangan teknologi di Indonesia begitu tinggi. Kita juga sering mendengar banyak anak-anak Indonesia yang justru berkarya di luar negeri menghasilkan suatu teknologi. Hal itu disebabkan rendahnya penghargaan serta royalti yang diberikan oleh pemerintah untuk rakyat Indonesia yang berpotensi tersebut. Sehingga menyebabkan banyak di antara mereka yang akhirnya memilih mempersembahkan karyanya untuk kemaslahatan negara lain. Tidak perlu mengecam lagi rasa nasionalis yang kurang pada mereka, yang ada justru kita harus mengevaluasi diri, bahwa sudahkah pemerintah Indonesia menjadi “rumah yang nyaman” bagi mereka untuk melakukan riset dan pengembangan tekonologi? Sudahkah Indonesia memberikan penghargaan tinggi bagi mereka yang berkontribusi? Semoga saja, kelak terlahir seorang mahapatih atau pemimpin besar yang memiliki wawasan yang seperti ini.

Yang ketiga tentu saja bidang Industri. Era globalisasi menuntut Indonesia mau tidak mau melakukan industrialisasi di berbagai aspek. Cadangan sumber daya alam Indonesia yang melimpah tentu saja telah menjadi nilai plus tersendiri bagi perindustrian di Indonesia karena seharusnya dapat meminimalisir impor bahan-bahan baku yang dapat meningkatkan biaya produksi. Selain itu, pada 2030 nanti, Indonesia akan memasuki era bonus demografi, di mana rakyat Indonesia akan “kejatuhan rezeki” berupa jumlah penduduk yang usia produktifnya akan menjadi tertinggi di dunia, yang mencapai 69% dari seluruh penduduk di Indonesia. Adanya potensi tersebut tentu dapat dimanfaatkan dalam rangka pengembangan sektor perindustrian di Indonesia, sehingga seharusnya Indonesia dapat meminimalisirkan tenaga asing dalam pengembagan industri di Indonesia terutama dalam mengatasi hal – hal atau permasalahan perindustrian yang  bersifat lebih  ke arah  teknis.

Melalui potensi yang telah disebutkan di atas, terlihat sekali bahwa potensi Indonesia begitu besar di bidang perindustrian. Namun sekarang masalahnya adalah pada puncak kepemimpinan. Sebuah harapan besar tentunya kelak dapat terlahir seorang Mahapatih FTI, seorang pemimpin besar dari FTI yang memiliki visi yang kuat memajukan Indoensia dengan memaksimalkan minimal tiga sektor di atas yaitu energi, teknologi, dan industri. Tentunya tidak hanya satu orang, namun kita mengharapkan lahirnya berpuluh-puluh bahkan beribu-ribu mahapatih FTI karena 1 orang pemuda saja menurut Bapak Ir. Soekarno dapat mengguncang dunia, bagaimana jika beribu-ribu mahapatih FTI yang memiliki visi yang sama dan kuat dapat masuk ke kalangan elit di negeri ini, untuk mengubah tatanan perpolitikan Indonesi menjadi kolaborasi demokrasi dan teknokrasi.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *