Catatan Malming (4) : Adam dan Hawa, Pernikahan Termegah Sepanjang Peradaban (1)

Tersebutlah Adam, manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Ia diciptakan dari sari pati tanah, dan ditiupkannya ruh. Malaikat pun sempat menyangsikan keputusan Illahi Rabbi, tentang penciptaan makhluk baru yang dinamakan manusia. Maka jika Allah telah berkehendak, tentu Allah lebih tahu dari segala ciptaanNya. Malaikatpun tunduk, dan terciptalah sosok manusia yang rupawan lagi cerdas. Ia mampu menghafal semua ciptaan Allah. Ia mampu menangkap hal-hal dengan cepat apa yang diajarkan olehNya. Semesta pun bertasbih, Malaikatpun bersujud, dan ciptaan Allah yang lain pun tunduk kepadanya. Kecuali iblis laknatullah yang tak mau bersujud kepadanya, maka diusirlah iblis dari surga yang maha indah ciptaanNya.

Ah, betapa beruntungnya adam. Ia sempat merasakan keindahan surgaNya. Ia tinggal di dalamnya. Sungai-sungai nan indah, hamparan padang rumput yang luas, bangunan-bangunan tinggi nan menjulang berselimutkan emas, perak, intan, serta permata menjadi suatu hal yang tak biasa bagi manusia biasa seperti kita. Namun ah, lagi-lagi satu yang terlupakan. Adam pun merasa kesepian. Ia adalah manusia biasa seperti kita, ia makhluk sosial. Membutuhkan teman untuk bercengkerama. Ia pun mengelilingi surga yang luasnya tak karuan. Namun yang hanya kehampaan yang ia temukan. Tak satupun makhluk Allah sejenisnya yang hidup di sana. Maka tertidurlah seorang Adam di dalamnya.

Maha Suci Allah yang mencintai semua ciptaanNya. Kegundahan hati Adam telah diketahui oleh Allah. Maka selagi Adam As tidur, diambillah sepotong rusuknya, dan diciptakanlah sosok manusia baru yang cantik jelita saat ia masih tidur. Sosok itu bernama Siti Hawa.

Kala terjaga, Adam pun terkejut. Menemui sosok yang begitu rupawan nan jelita berada di sampingnya. Maka naluri lelakinya pun muncul. Ia pun secara spontan ingin menyalaminya untuk mengajak berkenalan. Namun, Allah SWT tiba-tiba melarangnya,“Hai Adam, jangan engkau jabat dia dulu Aku akan nikahkan saja engkau dengan dia.” Kemudian Adam berkata “Bahwa seluruhnya itu adalah anugerah dari Allah SWT juga, dan hamba-Mu menjunjung apa-apa (yang menjadi) perintah-Mu.”Lalu, Allah SWT memerintahkan para Malaikat, “Hai para Malaikat, bawalah oleh kamu baki yang berisi emas, perak, mutiara, intan, dan manikam yang indah-indah ke hadapan Adam dan Hawa. Bahwasanya Aku hendak menikahkan Adam dengan Hawa.” Kemudian Allah SWT mengucapkan prakata menjelang pernikahan Adam dan Hawa:

“Segala puji bagi Allah Ta’ala yang besar Keagungan-Nya. Bahwa sungguh, seluruhnya itu telah percaya terhadap-Ku. Dan segala puji-pujian bagi kekasih-Ku dan pesuruh-Ku telah bersaksi seluruh malaikat-Ku dan seluruh isi langit-Ku, dan seluruh malaikat yang menanggung ‘Arsy-Ku, bahwasanya telah Kunikahkan hamba-Ku Adam dan Hawa di atas langit-Ku dengan kudrat-Ku. Bahwa Adam a.s. mengucap tasbih terhadap Aku, dan membesarkan Aku, dan memuji terhadap Aku dengan kemuliaan ayat Kursi. Dan bersaksilah Aku bahwasanya Tiada Tuhan yang menjadikan segala sesuatu, hanya Aku juga yang Maha Kuasa. Bahwasanya Adam khalifah-Ku dan Hawa itu isterinya, dan berkenanlah ia (Hawa) untuk mengasihinya (Adam), dan mereka seluruhnya beribadah kepada-Ku. Dan telah membawa imanlah mereka itu terhadap Muhammad kekasih-Ku dan rasul-Ku yang Kubesarkan atas segala sesuatu.”

Pad hari itu pula, Allah SWT atas segala kuasa dan kehedendakNya, memerintahkan para bidadari-bidadari Surga untuk mendandani dan menghiasi Siti Hawa dengan perhiasan-perhiasan Surga. Allah pun memerintahkan kepada seluruh malaikat ciptaanNya, agar menjadi saksi pernikahan pertama seorang khalifahNya di alam jagad raya ini. Para malaikat pun berkumpul bersama di bawah sebuah pohon yang bernama “Syajarah Thuba”. Diriwayatkan bahwa pada akad pernikahan itu Allah SWT berfirman:

“Segala puji adalah kepunyaan-Ku, segala kebesaran adalah pakaian-Ku, segcla kemegahan adalah hiasan-Ku dan segala makhluk adalah hamba-Ku dan di bawah kekuasaan-Ku. Menjadi saksilah kamu hai para malaikat dan para penghuni langit dan sorga bahwa Aku menikahkan Hawa dengan Adam, kedua ciptaan-Ku dengan mahar, dan hendaklah keduanya bertahlil dan bertahmid kepada-Ku!”.

Laaailaahaillah! Alhamdulillahirabbil’alamiin. Maka usailah pernikahan pertama seorang khalifah di dunia ini. Pernikahan yang tentunya paling megah sepanjang sejarah peradaban. Pernikahan yang dinikahkan langsung oleh Allah, dipersiapkan oleh para Bidadari Surga, dan disaksikan oleh malaikat-malaikat ciptaanNya, dilangsungkan di sebuah tempat yang keindahannya tak terkira. Maka selesailah akad nikah itu, dan berdatanganlah para malaikat dan para bidadari menyebarkan mutiara-mutiara yaqut dan intan-intan permata kemilau kepada kedua pengantin agung tersebut. Selesai upacara akad, diantarlah Adam a.s mendapatkan isterinya di istana megah yang akan mereka diami.

Dan di sinilah sejarah pertama kali menuliskan tentang kemuculan mahar dalam pernikahan. Kala menemui Hawa di sebuah istana yang megah, ia pun menuntut maharnya ditunaikan. Sementara itu, Adam kebingungan. Ia pun menyadari ketika ia akan menerima maka haruslah ia memberi terlebih dahulu. Pergaulan antara lelaki dan wanita akan menjadi halal nan kekal jika sebuah mahar meneyertainya. Dalam kebuingungannya itu pun, Adam menyebut asma Allah, “Ilahi, Rabbi’ Apakah gerangan yang akan kuberikan kepadanya? Emaskah, intankah, perak atau permata?”.

“Bukan!” kata Tuhan. “Apakah hamba akan berpuasa atau solat atau bertasbih untuk-Mu sebagai maharnya?” tanya Adam a.s dengan penuh pengharapan. “Bukan!” tegas suara Ghaib. Adam diam, mententeramkan jiwanya. Kemudian bermohon : “Kalau begitu tunjukilah hamba-Mu jalan keluar!”.Allah SWT berfirman:

“Mahar Hawa ialah shalawat sepuluh kali atas Nabi-Ku, Nabi yang bakal Kubangkitkan yang membawa pernyataan dari sifat-sifat-Ku: Muhammad, cincin permata dari para anbiya’ dan penutup serta penghulu segala Rasul. Ucapkanlah sepuluh kali!”.

Maka legalah seorang Adam a.s. Ia pun merngucpkan dengan penuh takzim shalawat Nabi Muhammad sebanyak sepuluh kali. Allahuma Sholli ‘Alaa muhammad. Ya Allah, berikalnlah keselamatan kepada Nabi Muhammad. Suatu mahar yang bernilai spiritual, karena Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Hawa mendengarkannya dan menerimanya sebagai mahar. “Hai Adam, kini Aku halalkan Hawa bagimu”, perintah Allah, “dan dapatlah ia sebagai isterimu!”.Adam a.s bersyukur lalu memasuki isterinya dengan ucapan salam. Hawa menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang seimbang.

*Bersambung Minggu Depan*

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *