9 April 2014

1972440_10201584460845320_366800427_nUntuk ratusan wajahmu yang terpampang begitu besar di pinggir jalan
Untuk tagline-mu yang terus kau agung-agungkan
Untuk janji janji manis yang terus kau naungkan
Untuk ribuan duit yang kau boroskan
Untuk api semangat perubahan yang terus kau gaungkan

Salam kenal bapak
Salam kenal ibu
Aku tak tahu mengapa tiba-tiba kau sebar ratusan wajahmu di pusat kota
Bahkan di pelosok pun lagi-lagi aku menemui wajahmu
Dihiasi angka kecil di pojok kanan atas, ataupun kiri atas, atau di sisi sisi lainnya
Disertai dengan sepatah dua kata yang sepertinya bosan terus menerus berada di sisimu
Tidakkah kau berpikir kiranya masyarakat risih melihat wajahmu
Sementara orang seganteng Nabi Yusuf saja belum pernah aku mendengar wasiatnya tuk memampang lukisan wajahnya
Apalagi maaf, dengan wajah-wajah lugumu

Kadang-kadang dengan usil kau comot tokoh-tokoh bangsaku
Kau sejajarkan wajahmu dengan wajah mereka yang begitu agung
Padahal kau pun tak mengenal mereka dekat, bahkan mungkin belum
Namun tanpa rasa dosa sedikit pun kau comot wajah mereka tuk kau jadikan alat popularitasmu
Ah, tunggu, bukankah kita belum berkenalan?
Oke saya perkenalkan dulu diri saya bapak
Saya perkenalkan dulu diri saya ibu

Aku adalah masa lalumu
Semoga saja iya dan kau pernah merasakan masa-masa seperti kami
Dan semoga kau tak lupa atau pura-pura lupa dengan masa lalumu itu

Aku itu…
Manusia yang terperangkap dalam idealisme tinggi akan bangsa ini
Generasi yang katanya kian apatis dari waktu ke waktu
Generasi yang katanya kian luntur pergerakannya tak seperti dahulu
Generasi yang sejarahnya selalu membawa perubahan-perubahan kecil di sekitarnya
Yah, mungkin aku adalah orang yang berpemikiran kolot jaman dulu yang tersisa
Aku tau tak banyak orang-orang sepertiku
Tapi biarlah aku bertahan dalam pemikiranku yang seperti ini
Bukankah Tuhan menciptakan dinamisasi di dunia ini
Ah tak perlu risau seharusnya diriku jika seperti ini

Lalu siapakah engkau bapak?
Siapakah engkau ibu?
Engkau meminta kami agar mencontrengmu
Dan tentu saja aku siap! Tentu sangat siap untuk mencontrengmu nanti
Namun lagi-lagi siapakah engkau ibu ?
Siapakah engkau bapak?
Kau belum mengenaliku, apalagi aku juga belum mengenalimu

Aku pun tak paham dengan paradigma berpikir beberapa orang darimu
Tiba-tiba saja kau muncul mengemis suara dari kami
Padahal aku tahu beberapa darimu telah populer
Sebagai tokoh, artis, bintang film.
dan kau pandai berakting dalam duniamu, tentu bayaranmu sudah tak ternilai
Lalu dalam satu dua hari kau berubah haluan menjadi pengemis suara seperti mereka
Ah, apakah jangan-jangan kau akting ?
Atau kau anggap negara ini sebuah sandiwara seperti film yang kau perankan
Atau kau anggap ini adalah skenario yang disutradarai Tuhan yang akan kau bintangi?
Sekali lagi, kali ini aku menjadi tidak mengenalimu.

Maafkan aku bapak
Maafkan aku ibu
seandainya nanti di hari penentuan itu aku tidak mencontrengmu
Karena aku belum bisa memilih
Karena aku belum mengenalmu
Karena aku belum mampu untuk mempertanggungjawabkan pilihanku
Maafkan sekali lagi bapak
Maafkan sekali lagi ibu
Serta…
Maafkan aku indonesiaku

*plak*
Ah, tiba-tiba kata-kata ini justru menamparku
Paradigma macam apa ini
Sementara aku terperangkap dalam idealisme yang tak berujung

Berani-beraninya aku minta maaf pada negaraku
Padahal idealisme yang kujunjung bukanlah idealisme para pendahuluku
Sementara nun jauh di alam baka sana mereka sudah pasti syahdu
Melihat generasi di bawahnya tenggelam pada ketidaktahuan
Melihat sistem yang telah ia perjuangkan dulu amburadul tak karuan
Melihat pemikiran-pemikiran sepertiku tadi justru berkembang menjadi hakikat baru pergerakan

Kali ini justru aku minta maaf padamu bapak
aku minta maaf padamu ibu
Karena aku percaya kata mereka yang bijak
Bahwa “Amanah Tak Akan Salah dalam Memilih Tuannya”
Karena aku salah…
Jika memang kau menjalani karena ingin berakting dalam skenario yang tersutradarai Tuhan
Bukankah Tuhan Maha Adil bahwa tak sembarang orang yang mampu menembus ‘casting’ ini?
Bukankah Tuhan Maha Tahu segalanya?

Ah lagi-lagi bapak
Lagi-lagi Ibu
Aku minta maaf
Aku kembali ingat orang bijak berkata
“Tak patut kau salahkan lingkunganmu jika ada yang salah dalam dirimu. Siapa yang salah? DIRIMU!”
Mungkin aku yang kurang mencari tahu
Mungkin aku yang terus terperangkap dalam pemikiran bodohku
Atau mungkin aku yang terus mengeluhkan usahamu

Ah sudahlah,
Kutebus kesalahanku nanti
Dengan memilihmu
Sambil memohon petunjuk dari Tuhan yang Maha Tahu
Dan berusaha mengorek-ngorek tentang dirimu
Bismillah
Siap Memilihmu
9 April 2014

Surabaya, 21 Maret 2014
22.30
Mushonnifun Faiz Sugihartanto
Staff Departemen Sosial Masyarakat Himpunan Mahasiswa Teknik Industri ITS
Staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *