Catatan Aktivis Dakwah (6) : Ketika Engkau Ragu

Saat hatimu ragu dan galau tentang masa depanmu, ingatlah keberhasilan masa lalumu.
Masih ada waktu untuk mengulangi keberhasilanmu.
Yakinlah dengan hakmu untuk berhasil.
Berfokuslah pada yang mungkin, bukan yang tidak mungkin.
Apa pun keinginanmu, mungkinkan!
Lebih sibuklah hari ini dengan hal-hal yang berguna.
Just do it!
– Mario Teguh

Sebagai manusia biasa tentunya kita semua pernah merasakan suatu muara yang tak berujung pada sebuah tujuan. Laksana embun dingin yang memburamkan kaca mobil. Atau kabut tebal yang menyelimuti jalanan. Muara tak berujung itu ntah apapun kau menyebutnya namun bagiku adalah satu kata : Keraguan.

Apalagi kita, para Nabi dan Rasul Allah pun pernah mengalami keraguan. Barangkali kita beranggapan Nabi dan Rasul Tuhan pun takkan tenggelam dalam keraguan karena kedekatan beliau semua dengan Allah, hingga petunjuk Tuhan pun turun hanya tinggal menunggu waktu. Namun tidakkah kita tahu akan ikhtiar beliau. Tentunya kita ingat hukum fisika semasa SMP dulu. Tentang korelasi Gaya Aksi dan Reaksi. Begitu pun kita dan Tuhan. Tidak mungkin Tuhan memberikan reaksi manakala kita tak melakukan berjuta aksi. Ibarat saat kita ingin menaklukkan hati seseorang dalam cinta, maka berbagai akan kita lakukan. Lalu bagaimana usaha kita  jika kita ingin mendapatkan restu dan petunjuk Tuhan ?

Sejenak kita perlu mengingat sejarah. Bung Karno terkenal dengan salah satu ungkapannya “JAS MERAH” – Jangan Pernah Melupakan Sejarah. Mari kita kembali ingat sosok Nabi Nuh yang terkenal denan bahtera maha besarnya. Kala hujan deras hingga membuat banjir yang maha besar, dari atas kapalnya beliau melihat sosok anaknya yang sedang berenang. Maka timbullah keraguan dalam dirinya. Antara naluri kebapakannya atau aqidahnya yang beliau pilih. Dalam Surat Hud ayat 42-43 dilukiskan tentang peristiwa ini:

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Usai banjir surut pun, Nabi Nuh pun tenggelam dalam kesedihan. Maka, berdoalah beliau kepada Allah

Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. QS Hud : 45

Namun, lagi-lagi Allah memupus keragu-raguannya dengan firmanNya yang berbunyi:

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.

Dan kisah di atas tak hanya sekali terjadi pada Nabi dan RasulNya, namun sekali lagi Allah menghapus keraguan mereka. Lalu mengapa terkesan sedemikian mudahnya Allah menghapus keraguan mereka? Merujuk pada firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Maka terjawablah sudah mengapa para Nabi dan Rasul Allah secepat kilat mendapatkan jawaban atas keragu-raguannya. Ialah semata-mata karena kedekatan mereka kepada Allah SWT.

Kembali lagi ke masalah keragu-raguan. Seorang muslim membangun keyakinan dalam hatinya ketika berbuat. Maka ia kokohkan ilmunya, pikirannya, dan visi hidupnya ketika ia akan segera melakukan suatu aktivitas. Namun bayang-bayang keraguan itu terkadang justru sulit tuk sirna. Terkadang kita pun bingung mengapa tenggelam dalam kebingungan dan keraguan. Padahal jelas Allah SWT dalam Quran telah menjabarkan dengan jelas, tepatnya dalam QS At-Taubah : 45

Sesungguhnya yang akan meminta idzin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.

Maka pertanyaannya sekarang, sudahkah kita beriman dan bertaqwa kepadaNya? Kadar keimanan kita tentu tak kita ketahui bagaimana parameter keberhasilannya. Bagaimana parameter perncapaiannya. Yang kita tahu hanyalah usaha kita, karen sungguh parameter itu telah tergenggam erat oleh panji-panji keputusanNya. Lalu apakah kita berhenti dalam level keimanan itu saja, sementara kita sendiri tak tahu level kita di mana. Jika barometer pengukuran kita adalah Rasulullah, sejenak kita perlu merenung, bahwa kita masih terlalu rendah jauh di bawah beliau.

Sebuah kaidah Fiqih berbunyi “Al-yaqiinu laa yuzaalu bisy-syak”. Artinya adalah keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan. Kaidah ini merupakan kaidah yang dibangun dari firman Allah dalam Al-Qur’an serta sabda-sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa kita diperintahkan meninggalkan keraguan. Maka tinggalkanlah keraguan sesegera mungkin. Karena Tuhan pun tak pernah ragu menurunkan nikmat bahkan azab bagi hamba-hambaNya. Sebagai karunia, ujian, peringatan, atau bahkan sebagai azab. Semoga saja kita terhindar dari sifat ragu atas izinNya.

Jikalau rasa ragu masih menghantuimu
Maka sadarlah
Mungkin hatimu masih belum sepenuh hati mencinta illahi rabbi
Jika rasa ragu masih membayangi setiap langkahmu
Maka bergeraklah
Menempelkan dahi, ujung hidung, telapak tangan, lutut dan ujung kakimu
Ke hamparan permadani sajadah
Sembari memohon dengan khusyu’ dan tulus akan keragu-raguanmu
Jika rasa ragu tak lagi mampu terusir dalam dirimu
Maka bertaubatlah
Mungkin amal burukmu yang membuatnya terikat dalam sanubarimu
Dan jika rasa ragu tak lagi mengganggumu
Maka bersyukurlah
Karena Tuhan tak pernah bosan memberikan kenikmatan kepada hamba-hambaNya

– Inspirasi Faiz-

Markas Muda BEM ITS, 26 Maret 2014

(masih) dihantui bayang-bayang keraguan

08.29

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *