• Uncategorized
  • 0

Catatan Malming (5) : Memoar Masa Lalu

Memoar-memoar itu kembali terangkai dalam mozaik ingatanku. Bayang-bayang pertemuan masa lalu, seperti takdir tuhan yang tak pernah terbayang dalam sketsa hidupku. Karena kau adalah yang kedua bukanlah yang pertama. Masih terekam kuat bagaimana air mata itu tumpah membasahi seisi rumahku, sementara aku tenggelam dalam linangan itu. Ada kebanggaan namun kesedihan yang mendalam. Barangkali mereka berdua tak tahu perasaan yang tak menentu. Sementara Tuhan yang Maha Tahu sepertinya memiliki rencana yang terlihat tak menentu namun melangkah pasti menuju sebuah mimpiku yang nyaris tak berujung.

Hingga terjatuhlah aku dalam jurang itu. Siapa sangka jurang ini kelak yang menghantarkan aku kepadamu. Aku pun menjauh dari mereka berdua yang telah membersamaiku. Ntah mengapa aku muak. Muak akan cinta kasih Tuhan yang diluksikan melalui keputusannya hari ini. Namun setiap kali rasa ini muncul, ada satu hal yang terus menghantuiku yang justru semakin lama bertransformasi menjadi malaikat yang mengayomiku. Ialah doa mereka berdua yang telah memberikan kepercayaan tinggi untuk mimpi-mimpi yang telah kugantungkan setinggi langit ke tujuh. Berangkatlah aku menuju tempat yang katanya asal muasal peradaban dilahirkan. Berjuta inspirasi melayang, menunggu tuk ditangkap. Dan lagi-lagi mereka berdua, aku senyum itu tak mampu menipu, karena aku jauh telah mengenalmu dari dulu, dan kamu pun jauh lebih mengenalku dari aku tercipta dalam dirimu. Ah, guratan kecemasan itu tak mampu hilang dari wajahmu, dan hari ini kutuliskan dalam relung sanubariku, karena aku berjanji akan selalu kembali manakala kau memanggil, dan terus berjuang meraih mimpi-mimpiku yang telah kugantungkan setinggi asa.

Hari itu atas izinnya aku berangkat. Sendiri dalam langkah ini. Ah, untungnya aku tak merasa sendiri, karena Tuhan selalu menemani, dalam senang, sedih, selalu ada dalam diriku. Sampailah aku di gerbang di mana di dalamnya bangunan-bangunan bisu menjadi sarana mereka yang mencintaiMu dalam ilmu. Ada makhluk-makhluk sepertiku yang berlalu-lalang. Dan aku tenggelam di tengah lautan mereka yang sama-sama menyelesikan sebuah kewajiban. Aku pun tersibukkan mencari tempat singgah tuk beberapa tahun ke depan. Dan aku pun sibuk mengenali sekitarku. Beradaptasi dengan budaya yang ada, sembari mencari rancangan dan jalan hidup yang kan kutempuh.

Seperti lazimnya sunnatulah, tak afdhol jika tak ada rintangan. Dan itulah yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Menjadi sedih manakala satu persatu dari mereka hilang meninggalkanku. Dan aku tenggelam dalam kesedihan dan rasa kehilangan bertaburkan kesepian. Namun, ah, seperti kataku di atas, sketsa Tuhan memang begitu abstrak tak bisa ditebak. Dan muncullah sosok dirimu yang dari jauh aku tak pernah mengharapkanmu. Dari jauh pula aku tak mungkin layak mengenalmu. Mungkin hanya keajaiban Tuhan yang mampu mempertemukanku dan mempertemukanmu dalam sebuah majelisNya. Sayup-sayup hanya suaramu yang terdengar. Ah maafkan aku Tuhan kali ini, penyakit itu menyerangku, sedapat  mungkin kutundukkan pandanganku, kuburamkan pendengaranku, dan kutasbihkan namamu. Namun ah, dasar, rupanya kau punya seribu bayangan yang bergantian merasuk dalam pikiranku.

Dan hari itu menjadi saksi atas pertemuanku dan dirimu tuk pertama. Hai, kamu! Masih ingatkah saat itu ? 🙂

29 Maret 2014

11.15

Istana Peradabanku dan Peradabanmu – soon, Insya Allah :”

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *