• Uncategorized
  • 0

Hujan Di Bulan Juni :)


Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu*

Karena tak kusangka terjerumus ke dunia ini. Dunia yang sebenarnya jauh tak terimpikan di masa lalu. Sempat kuratapi resolusi-resolusi yang tertempel rapi di kamar tidurku. Dan di sana, tertulis jelas hingga membuat pandanganku tertuju kepadamu sebelum jiwaku berpaling dari ragaku, setiap hari dan setiap waktu. Namun laksana hujan, Tuhan pun merahasiakan rintik rinduNya padaku. Sampai suatu hari mungkin aku menemukan dirimu. Muncul tiba-tiba laksana hujan yang turun.  Hingga perasaanku jatuh laksana rintik hujan yang membisu. Berjuta kali aku jatuh dan kembali menguap terbang mengangkasa hanya untukmu. Sementara kau di pucuk pohon itu. Kau yang agung, sementara aku memilih jatuh berkali-kali untukmu. Dan kau sendiri di atas sana, aku pun sendiri di bawah ini.

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu*

Masih dalam malu, kali ini aku semakin kuat menjatuhkan butir-butir perasaanku. Visi yang sama tuk menolong agamaNya. Misi yang sama untuk menyempurnakan setengah ini. Barangkali kau pun ragu-ragu dan aku pun ragu-ragu. Tenggelam dalam retorika yang tak pasti. Kata-kata itu pun akhirnya jatuh darimu, sehingga aku pun semakin ragu. Kujatuhkan pula kata itu, namun nihil reaksimu. Hingga hujan pun turun menghapus mozaik keabstraksian itu.  Kembali aku dalam ragu, di tengah rintik-rintik hujan yang membisu. Sementara nun jauh di sana mungkin kau sedang dipinggir jendela, menyaksikan jejak-jejak keraguanku yang semakin kabur tak menentu.

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu*

Namun sejarah tak pernah lelah dalam mencatat. Entah memori khusus tentangmu selalu hadir dalam sketsa pikiranku. Sementara aku dibekap 2 pilihan antara perjuangan dan pengorbanan. Dan inilah jalan yang kupilih ialah sebuah perjuangan. Sementara kau di sana tanpa sadar telah menyerap abstraksi-abstraksi itu. Ah mungkin Tuhan pun merahasiakan rintik rinduku rindumu, rindu kita. Tak lelah Dia menghapus jejakku jejakmu. Lalu menuangkannya ke dalam memoar-memoar masa lalu. Mungkin inilah caraNya mempersiapkan sebuah waktu di mana kita menyeleseikannya. Antara aku dan dirimu, kita.

Belum Bulat

30 Maret 2014

20.00

*Puisi : Sapardi Djoko Damono*
– Intrpretasi Puisi –

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *