• Uncategorized
  • 1

Pagi :)

blinds-201173_640

Dan jika pagimu masih terasa hambar, sekalipun teh manis telah menemani, percayalah itu karena belum ada “Si Shalehah” yang menyajikannya dan mendampingi 🙂

Sinar kemerahan menyembul di ufuk timur pandanganku. Manakala mata jauh memandang ke arah sana, ada sinar mentari yang masih malu-malu. Sebagian dariku masih terlelap dalam rindu. Adapula mereka yang telah bangun mengejar rindu. Ada pula yang masih setengah sadar antara dua dunia rindu. Adapula yang terduduk dalam bisu. Ada pula yang telah bercucuran dalam rindu. Dinamisasi pagi yang hampir selalu kujumpai kapanpun, dimanapun, serta bersama siapapun.

Sementara aku, disibukkan oleh aktivitas rutin seorang perindu. Pukul 3 aku terbangun selalu tuk melepas rindu. Kepada rembulan yang selalu menemani dengan sinar kuningnya. Kepada mentari yang rela memantulkan sinarnya untuk tempat pijakanku. Udara pagi selalu berbisik tentangmu dan tentangku. Sementara lisanku selalu berbisik tentangmu dalam untaian doaku. Andaikan angin berembus dalam rindu, niscaya sampailah bisikan ini kepadamu. Namun, aku bukanlah Sulaiman sang penakluk angin. Maka ia hanya lewat lembut sedikit mengusik diriku.

Ah, pagi memang selalu punya cerita tersendiri. Suara ayam yang bersahut-sahutan, kicau burung yang merdu, embun pagi yang tak henti meneteskan tetes-tetes kerinduan. Barangkali di sana ada dirimu. Yang sedang berlarian mengejar mimpi-mimpimu. Ntah apakah namaku tertulis dalam resolusi mimpimu. Yang pasti telah kulukis dirimu dalam sketsa mimpi-mimpiku. Ah, barangkal butuh ratusan tahun tuk menghapus sketsa itu, sementara hanya sekejap mata saja kau terekam kuat dalam memoriku.

Kepada Fajar yang masih malu, kusampaikan salam terkasih kepadanya lewat untaian sinarmu. Mungkin sekarang dia berada di suatu tempat, di mana sinarmu terizinkan masuk ke pori-pori kulitnya. Sampaikanlah luka yang telah terpendam ini kepadanya, seperti dulu saat pertama aku mengenalnya.

Kepada mentari yang sinarnya belum menyilaukan, kutitipkan rindu ini dalam mozaik warna yang masih menyatu. Mungkin saat ini tanpa sadar dia sedang menikmati pesonamu, sedangkan kau terizinkan tuk membelainya dengan kehangatanmu.

Kepada burung-burung yang berkicau merdu, kualunkan senandung rindu ini kepadamu. Dan aku ingin kau terjemahkan ke dalam kicaumu yang merdu. Melodi – melodi rindu yang semakin abstrak tak menentu. Ah, aku percaya Tuhan mampu menerjemahkannya untukmu. Bahwasanya Dia yang Maha Tahu dan semoga Dia berbagi untukmu.

Kepada embun pagi yang kian lama kehilangan eksistensi diri, kuteteskan butir-butir doa ini kepadamu. Hingga terik sang surya membuatmu hilang menjadi zat yang lain,terbang menuju cakrawala yang membentang. Hingga mengangkasa menuju suatu tempat dimana Dzat Yang Maha Kuasa bersemayam. Lalu sampaikanlah doa yang kutitipkan itu kepadaNya.

Sekali lagi… Jika pagimu masih terasa hambar, sekalipun teh manis telah menenami. Percayalah itu karena belum ada “Si Shalehah” yang menemani 🙂 . Hai Pagi 🙂

30 Maret 2014

07.30

Graha Tirta, Sidoarjo

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

Leave a Reply to nanto de nanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *