Resensi Buku : Bilik Bilik Cinta Muhammad

bilik cinta muhammad Judul Buku : Bilik – Bilik Cinta Muhammad

Penulis         :  Dr. Nizar Abazhah

Penerbit       :  Zaman

Tahun Terbit : 2010

 

 

 

 

 

 

Karena sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik… – QS. Al-Ahzab : 21

Maha Suci Allah yang telah menciptakan Rasul-Nya. Yang cahayanya telah ada sejak sebelum Adam diciptakan. Dialah Rasul kemanusiaan. Dia pula teldan hidup yang penuh ketakwaan dan kebahagiaan bagi seluruh ummat manusia. Dialah manusia yang mendapatkan jaminan dariNya untuk masuk ke dalam surgaNya. Dia pula pemimpin revolusioner yang mampu membawa kedamaian, menghadirkan agama yang diridhai Allah, agama yang menuntun kita kepada cahaya kebenaran, ialah agama Islam.

Lalu jika bicara tentang keteladanan yang beliau teladankan, maka dalam berumahtanggapun patut kiranya kita jadikan acuan. Karena rumah adalah tempat awal kita berpijak untuk membangun sebuah peradaban besar nantinya. Maka tentunya hubungan harmonis antara suami dan istri, ayah ibunda dan anak-anak menjadi harga mutlak jika ingin membangun keseimbangan.

Dari seorang baginda Nabi Muhammad SAW kita belajar bagaimana memberikan rasa kasih sayang kepada istri-istrinya. Pun beliau selalu berusaha bertindak adil dan bijak dalam menyikapi kadang kecemburuan istri-istrinya, atau permasalahan mereka. Bahkan tidak ragu-ragu beliau bertindak tegas jika istri-istrinya melakukan suatu hal yang melanggar syariat islam. Hal itu digambarkan salah satunya antara beliau dengan Saudah bint Zam’ah al-Amiriyyah. Beliau merupakan istri kedua beliau usai wafatnya Khadijah. Dinikahinya Saudah bukan karena keinginan beliau sebenarnya, namun karena permintaan dari teman Saudah yang bernama Khaulah binti Hakim, karena melihat Rasulullah yang masih bersedih kehilangan Siti Khadijah. Sementara Saudah, seorang janda yang juga ditinggal oleh suaminya, Sakran, bahkan Saudah telah merasakan pahit getirnya pulang pergi hijrah ke Habasyah.

Namun suatu ketika, usai Perang Badar, Saudah justru merasa sedih atas terbunuhnya beberapa orang Musyrik Makkah. Padahal mereka adalah penentang Allah dan RasulNya. Ia merasa tak kuasa melihat saudara iparnya, Suhail bin Umar terbelenggu lehernya. Maka sontak ia berkata, “Mau ke mana Abu Yazid? Apakah kalian akna menyerah dan mengulurkan tangan begitu saja? Jangan! Kalian harus mati terhormat!”. Sementara itu tanpa sadar, Saudah mengucapkannya di depan Nabi. Rasulullah pun tak bertindak reaktif. Beliau hanya bertanya, “Saudah, apakah engkau membela Allah dan RAsulNya”. Rasulullah pun melemparkan pertanyaan retoris yang akhirnya membuat Saudah tersadar akan ucapnnya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah.

Kisah keteladanan yang lain adalah kemesraan beliau kepada Siti Aisyah, Ummul Mukminin. Dialah satu-satunya istri Nabi yang masih perawan. Dinikahi Nabi Muhammad sejak kecil, namun Rasulullah tak pernah memaksakan Aisyah untuk segera menjadi dewasa. Beliau bahkan tidka melarang Aisyah berteriak-teriak girang, mengangkat suaranya lantang, atau berbicara dengan kemanjaan seorang putri yang Agung. Salah satu kisah yang fenomenal adalah saat beliau beradu lari dengan Aisyah. di mana seorang Aisyah pertama kalinya menang, dan suatu waktu Rasulullah pun yang menang. Dan satu hal yang menjadi keteladanan seorang baginda Nabi, adalah manakala dalam satu majlis Aisyah membanting piring di hadapan tamu-tamu Rasulullah karena sedang dirundung cemburu mengetahui makanan untuk majlis tersebut dikirimkan oleh istri-istri beliau yang lainnya. Namun, baginda Nabi tidaklah marah, hanya berkata, “Maaf, ibunda sedang cemburu”.

Serta masih banyak keteladanan yang lain yang disebutkan dalam buku ini dengan istri-istri beliau yang lain, antara lain Ummu Salamah, Hafshah, Zainab bint Khuzaimah, Raihanah, Juwairiyah, Zainab binti Jahsy, Mariyah Al-Qibthiyah, Ummu Habibah, Shafiyyah, Maimunah. Hal yang daat kita pelajari bahwa Nabi Muhammad tak pernah mengekang naluri meraka, tak juga memaksa para istri-istrinya untuk keluar dari karakter dasar meraka. Bahkan beliau pun meluruskannya dengan nilai-nilia keislaman.

Ketika saya membaca buku ini, saya menjadi terharu akan betapa tinggi kemuliaan istri Rasulullah, dan betapa mulianya Rasulullah dalam memuliakan istri-istrinya. Buku ini pun tak hanya menyajikan tentang kehidupan Rasulullah bersama istri-istrinya. Lebih dari itu buku ini melukiskan kehidupan Rasulullah sejak kanak-kanak mulai di Rumah Abu Thalib, Rumah Khadijah, Gua Tsur, dan lainnya. Ada juga bagaimana beliau membangun cinta kasih kepada putra putri beliau, cucu, anak tiri serta anak-anak lainnya. Hal yang mengagumkan adalah beliau melawan tradisi arab yang pada waktu itu, nyaris tak pernah kaum laki-laki berlaku lembut kepada anak-anaknya. Bahkan pada masa itu dianggap tabu bila laki-laki mencium anaknya, bercanda, dan bersenang-senang dengan anak-anak kandungnya sekalipun. Namun itulah yang berbeda pada diri Rasulullah. Beliau memberikan keteladanan terbaik kepada ummatnya. Bayangkan seorang Nabi yang Agung dapat berlaku sebegitu lembut kepada anak-anak kecil.

Rasa cinta dan kasih beliau juga tak luput kepada para sahabat dan kerabat beliau, para budak dan pelayan beliau, serta dengan tetangga-tetangga beliau. Kehidupan beliau begitu sederhana. Dilukiskan bahwa setiap bilik rumah beliau hanya terbuat dari rakitan kayu uang diikat. Alasnya tanah tanpa diplester ataupun dikapur. Alas tidurnya tikar kasar yang sempit.

Dan dari buku inilah, tak salah bila menjadi buku yang best seller di daerah timur tengah. Kisah dalam buku ini dilukiskan secara detail, dan dengan bahasa yang mudah dipahami serta apa adanya. Membaca buku ini, nyaris tak ada komentar dan kritik buruk, karena menurut saya buku ini telah menggambarkan kisah dengan baik, bahkan mampu membuat banyak pembacanya menitikkan air mata.

Buku ini direkomendasikan bagi siapapun yang ingin meneladani kisah hidup Rasulullah. Bagaimana beliau membangun hegemoni peradaban islam yang begitu besar dan semua itu berawal dari rasa Cinta beliau yang besar kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Selain itu bagi mereka yang mengininkan kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

 

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *