Catatan Malming (6) : Karena Hujan Selalu Punya Sisi Romantis

hujan-di-amsterdam

Rintik-rintik itu membentuk suatu irama yang indah. Irama yang terhasilkan oleh ruang resonansi Tuhan. Begitu indah tak terbatas. Dan sekilas, seringkali mereka melihatnya sebagai sebuah ketidakteraturan. Sebab jatuh beracakan membentur kerasanya bumi yang semakin tak beraturan. Ditambah angin kencang yang membuat rintik-rintik itu terbang tak karuan. Adapula guntur yang menggelegar, membuat suasana semakin mencekam. Serta langit yang semakin kelam, membuat aku dan kamu tertahan. Sementara petang semakin kelam. Adakah kan terjadi sebuah perpisahan?

Masih terekam kuat dalam memori ini. Bagaimana malam itu, antara aku dan kamu terpenjara oleh rintik-rintik hujan. Di sebuah tempat di mana peradaban kan terlahirkan. Ah, pena pun tak mampu mengalihkan perhatian di tengah euforia manusia-manusia yang tak beradab. Ingin rasanya mata ini terpejam, namun lagi-lagi hujan selalu punya sisi romantis. Ia hadirkan senyummu yang terkembang. Senyum manis bertabur rasa dingin dan getir penuh perjuangan. Ia hadirkan energi baru tuk berkarya. Hingga aku bercerita. Kamu pun bercerita. Kita pun bercerita.

Malam pun semakin larut. Sementara rintik-rintik itu kian tegas. Barangkali sebuah pertanda jika kita tak terizinkan tuk kembali. Atau mungkin sebuah peringatan tuk segera pergi. Sementara aku pun menjadi membisu. Tak tahu apa yang harus terucapkan lewat lisan ini. Sedangkan dirimu seakan tak tahu dan sibuk dengan amanahmu.

Kepada butiran hujan yang turun, kusampaikan salam kepadamu. Dalam beningngya rintik-rintikmu tersimpan berjuta makna kehidupan. Intuisi ini berkata ada rahasiaku tentangnya, dan rahasianya tentangku. Bagimana rasanya memendamnya dalam butiran yang fana? Sementara rasa yang terpendam adalah sebuah barang yang sulit tuk menjadi fana.

Hujan pun berhenti. Namun entah mengapa kau dan aku masih enggan tuk beranjak pergi. Ah, aku masih takut menyebutnya ini bukan sebuah kebetulan. Dan hujan pun berbisik dengan penuh romantisnya. Kepadaku. Kepadanya. Kepada kita berdua. Sementara lisan ini tertutup rapat untuk nanti saatnya. Ya… saat itu tiba.. nanti!

Peristiwa setahun yang lalu

Ruang Perjuangan,

12 April 2014

20.42

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

5 Responses

  1. wiwin says:

    romantis… gambarnya juga romantis,,, btw, boleh minta gambarnya?

Leave a Reply to faizalmushonnif Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *