Inspirasi Sang Emansipator (1) : Belajar dari Wanita-Wanita Tangguh

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776

“Wanita itu adalah tiangnya negara, hancur majunya suatu negara bergantung bagaimana kondisi wanita di dalamnya”

– Al Hadits

Jauh berabad-abad yang lalu sebelum sosok kartini dilahirkan, Rasulullah telah menyabdakan tentang keutamaan seorang wanita. Bahwa Wanita adalah tiangnya negara. Kedudukan wanita saat itu di bangsa arab begitu direndahkan di kalangan masyarakat, maka lahirlah sabda beliau yang mengagungkan kedudukan wanita. Bahwa ia adalah tiangnya negara. Tentunya hal itu memiliki definisi bahwa maju tidaknya suatu negara dapat dilihat dari seberapa tangguh dan berkarakter para wanitanya di negara itu.

Kita mengenal sosok Nabi Muhammad sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia, berdasarkan Michael Hart dalam Bukunya 100 Tokoh di Dunia. Dan dibalik sosok kehebatannya tersebut ada wanita tangguh yang selalu mensupportnya. Ialah Siti Khadijah. Sosok saudagar wanita yang tulus ikhlas mencintai beliau. Bunda Khadijah berjuang dengan harta dan nyawanya untuk selalu mensupport perjuangan Rasulullah saat berdakwah. Dia juga yang menyelimuti Muhammad saat menggigil usai menerima wahyu. Maka tak salah ketika Khadijah meninggal terlebih dahulu, tahun meninggalnya dicatat sebagai amul hizmi atau tahun duka cita yang mendalam

Kita pergi ke pulau britania, negara Inggris tepatnya. Perdana Menteri Wanita pertama Negara Inggris yang mampu menjabat selama 3 periode berturut-turut. Siapa yang tak kenal dengan Margaret Tatcher. Dikenal cerdas sejak masa mudanya, ia mampu meraih gelar sarjana dan master bidang kimia dari University of Oxford di usia yang masih muda. Dua tahun usai menikah ia menyeberang menjadi seorang jaksa dengan spesialisasi hukum perpajakan. Karirnya semakin meroket saat ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan di mana langkah,yang mendobrak saat itu adalah menentang penghapusan pembagian susu gratis di sekolah-sekolah. Puncaknya ia akhirnya berhasil menduduki jabatan Perdana Menteri. Program unggulannya dan berhasil dilakukan selama pemerintahannya adalah mengentaskan pengangguran yang selama 50 tahun terakhir menghantui Inggris. Tak salah ia mendapatkan julukan wanita besi. Karena ia dikenal tegas dan lugas, selalu melangkah lurus sesuai intuisi kepemimpinan.

Dan kini, kita kembali ke Indonesia. Siapa yang tak mengenal sosok Kartini. Perempuan berdarah jawa tengah yang terkenal kelembutan dan kesantunannya. Dengan pena-nya ia berhasil menggoncangkan Indonesia pada masa itu. Ia memperjuangkan kebebasan dan kesejajaran wanita. Bahwa wanita berhak menerima pendidikan yang sejajar dengan para pria. Dan ia berjuang tanpa meninggalkan sisi feminisnya sebagai seorang perempuan. Tidak seperti wanita-wanita barat yang bergerak mengedepankan sisi maskulinnya.

Dan inilah salah satu goresan pena suratnya yang pada waktu itu mampu menggetarkan siapa pun yang membacanya:

Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan itu di didik dengan baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat tinggi. Agar disediakan pengajaran dan pendidikan. Karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.

Penggalan surat tersebut dikirimkan kepada seorang istri pejabat Belanda pada masa itu, Ny. Van Kool pada Agustus tahun 1901. Dan dari surat itulah beberapa tahun setelah Kartini tiada, derajat perempuan yang sebelumnya di masyarakat hanya di anggap lapisan masyarakat kelas 2 dapat terangkat. Banyak pergerakan-pergerakan yang terlahir setelah tulisan-tulisan tersebut tersebar luas di masyarakat Indonsia pada waktu itu. Hasilnya pada waktu itu perempuan-perempuan Indonesia mampu bangkit menunjukkan eksistensi dirinya namun tak menghilangkan rasa lembut dan feminisnya sebagai seorang perempuan.

Terakhir, ada sebuah kutipan cantik dari RA Kartini.

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. – R. A. Kartini

Bahwa benarlah jika surat-suratnya dibukukan menjadi sebuah mahakarya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dan kini masa itu telah datang. Era global di mana ruang lebih terbuka untuk para wanita menunjukkan eksistensi dirinya. Belajarlah dari para wanita-wanita tangguh yang pernah terlahir wahai para wanita Indonesia. Mereka ada bukan hanya untuk menginspirasi. Mereka ada untuk melahirkan penerusnya yang itu semua adalah kalian, para wanita masa kini generasi pembawa kejayaan Indonesia di masa mendatang.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *