Inspirasi Sang Emansipator (2) : Kembali ke Fitrah Wanita

Hari-Kartini

“Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra, kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh orang lain, kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara, sudah ditakdirkan…” (Surat R.A. Kartini kepada temannya Zeehandelaar, 9 Januari 1901)

Melanjutkan tulisan saya kemarin tentang Wanita-Wanita Tangguh, maka hari ini, bertepatan dengan 21 April, sebuah hari yang diperingati sebagai Hari Kartini. Sebuah hari di mana momentum kebangkitan pergerakan perempuan dimulai. Maka lahirlah sebuah ideologi baru yang bernama Emansipasi Wanita. Secara bahasa emansipasi berasal dari bahasa latin yaitu “emancipatio” yang berarti kesetaraan. Itu berarti wanita dan pria memiliki peran dan fungsi yang sama dalam kehidupan bermasyarakat. Walaupun tentunya masih ada batasan-batasan yang harus dijaga. Emansipasi wanita memiliki makna sebagai proses pelepasan kedudukannya dalam ranah politik, sosial, ekonomi, serta bidang-bidang lainnya yang selama ini justru direndahkan. Juga termasuk pengekangan di bidang hukum yang membuat para wanita sulit untuk berkembang. Sulit untuk maju melejitkan potensi-potensi dirinya.

Jika kita mengingat perjuangan Kartini di masa lalu sungguh luar biasa. Aspek yang ia perjuangkan adalah bagaimana wanita dapat memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum pria. Pada masa penjajahan Belanda saat itu, wanita tidak berhak menerima pendidikan laksana para pria. Berikut adalah cuplikan Surat RA. Kartini yang pada tahun 1903 dipublikasikan melalui surat kabar:

Berikanlah Pendidikan kepada Bangsa Jawa!

Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.

Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak…”

“Tangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Tidak begitu saja dikatakan bahwa kebaikan ataupun kejahatan itu diminum bersama susu ibu. Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?

“Hanya sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat. Lingkungan keluarga (orang tua) harus membantu juga. Malahan lebih-lebih dari lingkungan keluargalah yang seharusnya datang kekuatan mendidik. Ingatlah! Keluarga (orang tua) dapat memberikan pengaruhnya siang-malam, sedang sekolah hanya beberapa jam saja…”

“Binalah mereka (putri2 bangsawan) menjadi ibu2 yang pandai, cakap dan sopan. Mereka akan giat menyebarkan kebudayaan di kalangan rakyat. Sadar akan panggilan moral dalam masyarakat mereka akan menjadi ibu2 yang penuh kasih sayang, pendidik yang baik dan berguna bagi masyarakat yang memerlukan bantuan dalam segala bidang.”  (Berikanlah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa *baca: Indonesia – Nota R.A. Kartini tahun 1903 yang dipublikasikan melalui berbagai surat kabar.)

Surat di atas waktu itu cukup menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Dengan tulisannya RA Kartini mampu mengguncangkan budaya yang terjadi pada waktu itu yaitu merendahkan hak-hak seorang wanita. Usai ia wafat, kita langsung mengenal banyak berbagai pergerakan wanita muncul. Sebut saja Martha Christina Tiahahu yang lebih dikenal dengan Marsinah. Ia adalah wanita yang dikenal gigih berjuang bersama Pattimura di Maluku. Ada juga Cut Nyak Dien dan Cut Muthia dua srikandi dari Nanggroe Aceh Darussalam yang tak kenal menyerah untuk mengusir pendudukan pasukan Kape (Belanda) di bumi persada, tak ketinggalan nama Herlina Efendi yang dianugerahi pending Cendrawasih Emas dari pemerintah RI atas jasanya untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan kolonial Belanda. Serta masih banyak lagi wanita-wanita gigih yang muncul pasca munculnya pemikiran revolusioner RA Kartini

3 Fitrah Seorang Wanita

Sebelum melangkah lebih jauh tentang apa itu emansipasi di era global seperti ini, hendaknya kita kembali dulu melihat dengan mata hati kita. Bahwa wanita sesungguhnya memiliki tiga fitrah suci yang tak dimiliki oleh laki-laki. Apa saja itu ? Orang bijak menyebutnya sebagai fitrah alam. Seumur hidupnya, fitrah wanita dilahirkan tiga kali, selama ia berhasil melalui fase-fase tersebut. Lalu apa saja fase tersebut?

  1. Wanita dilahirkan sebagai seorang anak dari kedua orang tua. Ia akan dibesarkan dengan penuh kasih sayang, penuh perhatian dan cinta kasih dari orang tuanya. Ia di jaga dari hal-hal yang dapat menodai kesuciannya. Bagai permata ia selalu diusap dan dibelai penuh perhatian dari kedua orang tuanya. Ia pun diajarkan mengenai adab-adab seorang perempuan, dididik agar memiliki otak yang cerdas agar nantinya dapat menjadi sekolah pertama bagi para anaknya. Ia pun dibesarkan dalam doa mulia kedua orang tuanya.
  2. Wanita dilahirkan sebagai seorang istri dari suaminya. Al-Quran menggambarkan wanita adalah sebagai sebaik-baik perhiasan. Ia menjadi pelayan sekaligus pengayom suaminya. Seperti tulisan pertama saya di sini mengenai wanita-wanita tangguh dalam sejarah, bahwa ia selalu menjadi kunci kesuksesan seorang pria dalam karirnya. Maka sebaik-baik seorang istri tentu saja istri yang shalehah.
  3. Wanita dilahirkan sebagai seorang ibu yang akan melahirkan anak-anaknya. Pada peranan inilah ia merangkap sebagai seorang guru pertama bagi anak-anaknya. Maka bagaimana karakter seorang anak ke depannya, bagaimana kualitas keimanan seorang anak nantinya, itu semua tentu tidak pernah lepas dari tangan dingin seorang ibu/

Setelah melalui 3 fase tersebut, tentu lengkaplah sudah jati diri seorang wanita seutuhnya.

Fenomena Wanita Masa Kini

Ketika bicara fenomena wanita saat ini, maka banyak sekali wanita yang mengkhianati fitrahnya. Kebanyakan di negara-negara maju, bahkan budaya ini mulai merambah ke Indonesia, wanita tidak mau melahirkan anak, dengan alasan takut badannya rusak, gemuk, sibuk dengan karirnya, atau masih banyak alasan-alasan yang lainnya. Di Singapura, fenomena yang terjadi adalah hampir semua wanita tidak mau melahirkan karena di anggap mengganggu karirnya. Bahkan pemerintah sampai mengambil kebijakan membayar wanita yang mau melahirkan karena dampak jangka panjangnya bisa saja populasi penduduk di Singapura makin sedikit bahkan bisa saja Singapura kekurangan penduduk.

Kembalilah ke Fitrahmu, Wahai Para Wanita

Fitrah wanita sebagai seorang anak, istri, dan ibu merupakan ciri mutlak yang seharusnya dimiliki oleh para wanita. Itu bukan berarti menjadi penghalang karir atau apapun. Namun justru karir adalah sebagai pelengkap fitrah yang dimiliki dengan tujuan untuk menunjang fitrahnya, bukan sebagai sarana untuk menyaingi karir laki-laki, bukan pula sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Bayangkan saja, seandainya di Indonesia saja, wanita mau menerima fitrahnya sebagai seorang ibu, disamping ia menjadikan emansipasi wanita sebagai pelengkap dalam hidupnya, maka akan terlahir generasi anak-anak bangsa yang berkualitas. Ia mendapatkan pendidikan seorang ibu, perhatian seorang ibu, sebagai guru pertama bagi dirinya di dunia ini.

Penulis tentu berharap agar wanita-wanita di Indonesia kembali pada kodratnya. Ia jelas berperan sebagai tiangnya negara, sesuai dengan sabda baginda Nabi Muhammad 14 abad yang lalu. Namun, satu hal yang penting jangan sampai ia menjadikan jati dirinya hilang sebagai seorang wanita.

*masih bersambung ke edisi ketiga*

Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Mahasiswa Teknik Industri ITS 2012

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *