Merunduk (lagi)

menundukkan-pandangan

Seandainya ada mentari yang terik menyinari, bersyukurlah dirimu.  Sebab sinarnya takkan mampu menampakkan keelokan dirimu. Karena memalingkan wajahmu adalah sebuah pilihan yang kau tempuh. Hingga terik mentari tenggelam dalam sebuah rasa frustasi. Tak mampu menjangkau wajahmu laksana ia menjangkau eloknya rembulan yang bersinar.

Seandainya ada sejuta mata yang memandang, maka mereka pun bersyukur. Sebab tak semua orang mampu menikmati keelokan ciptaan Tuhan. Kepada wajahmu yang senantiasa tertutup benang-benang kesucian. Dan pandanganmu yang menatap ke bawah. Laksana mencari kristal-kristal kebenaran yang terselip di sela kerikil kehidupan. Tanpa sadar semburat rasa malu-mu memancar hingga hasilkan siluet keindahan. Kepada mereka yang masih memandangmu. Serta diriku yang melukis sketsamu dalam rencana hidupku.

Seandainya ada sorot mata  yang memandang, mungkin itulah diriku. Yang terus terbelenggu rasa penasaran, akan dirimu. Barangkali dalam merundukmu ada wajah lain yang membayang. Maka izinkan diriku untuk merundukkan darimu. Di depanmu. Di sampingmu. Di belakangmu. Jika ini adalah komitmenku kepada Tuhan yang tak pernah lelap, mengawasi hamba ciptaanNya.

Dan seandainya kau menenggahkan merundukmu, mungkin itu menjadi bencana besar. Apakah itu berarti rasa malumu telah hilang terbawa angin. Atau mungkin rasa takutmu telah tiada. Kepada Tuhan yang menciptakanmu, kusampaikan agar ia menjaga pandanganmu. Kepada ayah dan ibundamu, ku berbisik dalam doaku agar mampu meridahimu. Kepada adik-adikmu, agar ia senantiasa menjadi cermin terbaik bagimu. Kepada semesta tempatmu tinggal, semoga ia menjadi penaung bagimu.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *