Gadis Berkerudung Merah (1)

red_by_mulFasliDi tengah hiruk pikuk manusia yang lalu lalang, kami berkumpul seperti biasa. Kali ini cukup serius, tak terlalu banyak bercanda seperti biasanya. Menjelang akhir kepengurusan sebuah organisasi, terkadang masih banyak hal-hal yang belum dilakukan. Sementara di akhir kepengurusan, pertanggungjawaban kami siap untuk dilaporkan.

Aku terfokus di depan layar laptopku. Jariku menari-nari lincah di atas keyboard, sambil berpikir keras menyeleseikan laporan pertanggungjawabanku. Sesekali jariku berhenti, namun pikiran ini terus bekerja.

“Gimana dek, ada yang bisa aku bantu?” lagi-lagi ia menanyaiku. Tatapan matanya tak berubah sejak pertama kali dulu aku bertemu. Sementara senyumnya tersungging manis seperti biasanya. Warna merah adalah favoritnya, mungkin menurutku. Sejak pertama hingga sekarang, kebanyakan baju yang dikenakannya berwarna merah. Entah itu merah mawar, atau pun merah jambu.

“Hmm, sementara nggak mbak, Insya Allah aku bisa menyeleseikannya. Nggak pulang mbak ? Udah malam lho ini,” jawabku menimpali.

“Ya udah, kalau butuh apa-apa tinggal sms aja ya dek, aku mau pulang dulu. Nggak enak juga kalau terlalu malam. Assalamu’alaikum…,”ujar Mbak Faleshia.

“Wa’alaikum salam, terima kasih bantuannya mbak,” ujarku sambil tersenyum.

Dan dia pun berlalu. Sementara kami, para ikhwan tetap melanjutkan syuro (rapat) kami. Masalah pergerakan aktivis dakwah kampus yang kian meredup. Sementara itu, samar-samar kulihat Mbak Faleshia masih di luar, mencari sepatu yang tersembunyi di rak-nya.

5 menit berlalu, sementara aku tenggelam dalam diskusi yang kian larut kiat berat. Mataku pun mulai terkantuk-kantuk, sementara hati ini ingin menoleh ke kanan, tak tahu mengapa merasa ada yang mengawasi kami. Aku pun menoleh dan terkesiaplah diriku

Maka tatapan itu pun bertemu! Antara aku dan dia. Sepersekian detik, dan kami pun sadar. Entah mengapa, Mbak Falisha tanpa kusadari, dengan tatapan teduhnya menatapku dari tadi. Senyum itu, ah lagi-lagi senyum itu yang sulit terhapus dari sketsa pikiranku. Senyum yang sederhana, sama saat aku pertama kali mengenalnya dahulu. Tatapan mata teduhnya yang sarat akan ilmu padi, kian tinggi kian merunduk.

Dia pun tersadar, dan aku pun tersadar. Dalam malu, aku kembali menorehkan pandanganku ke teman-teman di rapat. Sementara tiba-tiba, beberapa detik kemudian dia telah di sampingku. “Dek, mbak titip tolong notulensi rapatnya ya, bisa kan? Biasanya kan mbak minta tolong kamu?, “pinta Mbak Faleshia.

“Yang lain gimana mbak ? Masa’ aku terus hehehe…”ujarku, karena sifat malasku lagi kambuh.

“Ayolah, mbak suka dengan notulensimu, soalnya mesti lengkap. Lagian, kamu kan yang ngetiknya di laptop paling cepat dibandingkan teman-temanmu,”ujar Mbak Faleshia.

“Oke lah mbak, terakhir kali ya? Jangan dimintai tolong lagi? Hehehe….”aku pun terkekeh. Dia pun terkekeh.

“Ya udah, makasih banget. Temen2, aku pulang dulu ya, sorry gak boleh malam-malam nih hehehe, Wassalamu’alaikum J,”ujar Mbak Felishia.

“Wa’alaikum salam Mbaaak, hati-hati di jalan mbaaak,”ujar kami serempak.

Sementara aku lihat ia bergegas meninggalkan kami. Mungkin hanya aku yang tahu, bahwa mukanya terlihat merah. Samar-samar memang. Sementara langkah-langkah kecilnya semakin cepat. Secepat degup jantungku. Barangkali ini sebuah rasa yang sudah lama yang kutunggu.

Ah mustahil rasanya. Terlalu cepat, atau bahkan tak layak aku menyebutnya. Atau mungkin, aku terlalu takut untuk menyebutnya sebagai Cinta.

***

Sementara itu, di tempat parkir, Mbak Falishia terhenti sejenak di depan motornya. “Ah, tidak mungkin, tidak mungkin ini terjadi. Mungkin ini hanya perasaan semu yang fana, dan sebentar lagi hilang begitu saja,”batinnya.

Waktu menunjukkan pukul 21.15 malam. Sementara tanpa sadar, di seklilingnya banyak makhluk-makhluk Tuhan berkeliaran. Angin malam berembus menebarkan senyum kepadanya. Sementara bintang-bintang di langit bertasbih menyebut asmanya. Malam itu bulan bersinar lebih terang dari biasanya. Seperti terangnya 2 hati manusia yang dipisahkan Tuhan untuk sementara.

 

Dan malam itu, Tuhan dengan penuh kecintaannya berkata, “Kun Fayakun”. Maka jadilah sesuatu yang dikehendakinya. Sebuah labirin cinta yang kan dilalui dua insan atas izinNya. Di titik manakah mereka bertemu? Hanya Tuhan yang mengetahuinya…..

 

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *