Catatan Aktivis Dakwah (7) : Urgensi Tarbiyah (1)

tarbiyah_by_hairuluna-d4qkemb

Jangan sampai perhatian kita kepada politik mengalahkan perhatian kita pada tarbiyah

– Syekh Musthafa Mansur –

2 tahun yang lalu, saya dikenalkan dunia baru yang bernama dunia kampus. Ya, masih ingat betul bagaimana pesan ayah dan bunda saya ketika beliau melepas saya untuk menuntut ilmu di kota pahlawan ini. “Jangan lupa nak, Shalat Jamaah, ngaji, Tahajjud, olahraga, jaga kesehatanmu karena usiamu masih panjang,”. Seperti itulah pesan yang mereka pesankan kepadaku, dan berulang-ulang disertakan kala aku bercakap ria melalui sms. Awalnya ya aku menjalaninya dengan biasa saja, semata-mata karena memang sudah dibiasakan dan Alhamdulillah menjadi terbiasa dari kecil dahulu, dan semoga tetap istiqomah hingga saat ini. Tak lupa pesan lainnya, bahwasanya beliau merestui aku untuk tetap aktif pada ormawa asalkan jelas ideologi dan tujuannya dan tak lupa akan akademik.

Di perkuliahan, aku dikenalkan dengan dunia sistem baru yang bernama mentoring. Aku menjadi semangat, karena dahulu saat berkecimpung dalam aktivitas dakwah kala di MTs dulu, di SMAN 3 Malang, nyaris tak pernah kukenal istilah ini. Mungkin selama itu, aku hanya menambah pengetahuan dari buku yang aku baca, dari ayah yang tak lelah membina, diskusi santai dengan kawan-kawan aktivis, serta kajian. Namun, di perkuliahan inilah aku baru mendalami satu kata yang menjadi menggugah hatiku : TARBIYAH.

Secara bahasa, tarbiyah berasal dari bahasa arab. Istilah itu berasal dari kata Rabba-yarbu (tumbuh berkembang), rabbiya-yarba (tumbuh secara alami), rabba-yarabbu (memperbaiki, meningkatkan). Sedangkan secara istilah Tarbiyah Islamiyah adalah memperbaiki sesuatu, menjaga serta memeliharanya. Tarbiyah memiliki pengertian cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (dengan kata-kata) ataupun secara tidak langsung (dengan keteladanan) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.

Padatnya aktivitas organisasi terutama pasca kaderisasi di tahun pertama, membuatku tak lagi istiqomah melaksanakannya. Astaghfirullah, inilah kelalaian para aktivis dakwah kampus biasanya *termasuk saya T_T*. Padahal padatnya aktivitas, seharusnya tak menjadi penghalang bagi para aktivis, bahkan seharusnya intensitas dalam tarbiyah ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Bukan padatnya aktivitas, namun manajemen waktu yang kurang baik. Para aktivis seharusnya tidak boleh mengkambinhitamkan waktu, karena waktu tetaplah sama setiap hari. 24 jam. Mahasiswa TI seperti saya mengatakan perlunya peningkatan efektivitas dan efisiensi waktu dalam membagi antara aktivitas dunia dan aktivitas menghadap illahi rabbi.

THINK! Tarbiyah, jika kita bicara soal hal ini, adalah sebuah media untuk menghasilkan kader-kader dakwah yang tangguh. Karena sesungguhnya kekuatan inti generasi ummat muslim seperti kita ada pada Tarbiyah. Masih kita ingat, sejarah Rasulullah dahulu. Dalam membangun islam yang tangguh, Rasulullah mengawalinya dengan tarbiyah. Tidak langsung berperang begitu saja. Pun demikian dengan Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel. Ke-250ribu pasukannya di bagi dalam berbagai klaster-klaster kecil. Di setiap klaster terdapat ulama’-ulama’ islam yang terus mendengungkan ayat-ayat kauniyahnya, membakar semangat para pasukannya, menjaga tilawah dan shalat mereka baik pra, saat, dan pasca penaklukan Konstantinopel.

Dalam aktivitas kehdupan sehari-hari, terutama mereka sang aktivis dakwah kampus, seringkali lupa akan urgensitas Tarbiyah. Seringkali hal-hal yang terjadi gara-gara kesibukan kita dalam dakwah ‘ammah atau dalam dakwah profesi, kita mengesampingkan perhatian kita terhadap tarbiyah. Padahal tarbiyah, merupakan ruh energi kita. Ibarat darah yang mengalir dalam diri kita, di dalam darah itu ada darah tarbiyah. Sekali saja kita menggeser tarbiyah dalam dakwah kita, maka dakwah menjadi kehilangan kekuatannya. Ini yang perlu digarisbawahi.

Yang perlu diketahui lagi, bahwa mutu gerakan islam sebenarnya sejajar dengan mutu gerakan tarbiyah. Semakin baik mutu tarbiyah, maka jangan heran jika output pergerakan islam yang dihasilkan adalah semakin baik. Sebab, tarbiyah adalah sebuah energi yang tak dapat terlihat, namun mengalir dalam denyut nadi kita. Tarbiyah adalah solusi terbaik dari masalah-masalah yang mendera. Jika dalam aktivitas dakwah kita seringkali susah, tidak mengenai sasaran objek dakwah, maka janganlah menyalahkan keadaan. Namun salahkan diri sendiri, kawan sesama aktivis atau sistem tarbiyah yang sedang dijalani. Mungkin kita belum memenuhi manhaj-manhaj tarbiyah islamiyyah. Kita mengenal sosok-sosok khalifah seperi Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib, pasca terpilih menjadi pemimpin bukannya makin mengurangi aktivitas tarbiyahnya. Justru semakin menambah intensitasnya, karena mereka sadar beban amanah yang ada dipundak haruslah diimbangi dengan aktivitas tarbiyah yang kuat pula.

Lalu seperti apa saja aktivitas-aktivitas tarbiyah yang menjadi standarisasi bagi kita untuk melangkah di jalan dakwah? Insya Allah akan dibahas di catatan aktivis dakwah edisi selanjutnya. Tunggu ya ikhwah fillah 🙂

Memang tarbiyah bukanlah segala-galanya. Tapi segala-galanya berawal dari tarbiyah. Hal inilah yang menuntut kita agar memperhatikan tarbiyah sebagai agenda terbesar kemenangan dakwah kita

– Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna –

Kereta Api Penataran Express

Dalam perjalanan dari Gubeng ke Malang

08.30

Sumber foto :
http://hairuluna.deviantart.com/art/Tarbiyah-286486787
– Rujukan utama : Beginilah Seharusnya Aktivis Dakwah, Satria Hadi Lubis –

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *