Indonesia (TIDAK) Pernah Bangkit?!: Re-Definisi Makna Kebangkitan Nasional Memasuki Era Global

bersatuindonesia

Momentum Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati setiap tahun sebagai momen di mana Indonesia dahulu pernah bangkit. Sejarah mencatat, pada tanggal 20 Mei 1908 berdirilah organisasi pergerakan mahasiswa yang pertama yaitu Budi Utomo, yang dimotori oleh Dr. Soetomo, dan digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Hal itu menginspirasi para pemuda Indonesia pada saat itu, hingga berdirilah organisasi lainnya seperti Indische Partij pada 1912, Sarekat Dagang Islam pada 1912, dan lainnya. Sampai sekarang, tanggal 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pertanyaannya sekarang sejauh manakah peringatan kebangkitan nasional ini memberikan dampak positif kepada masyarakat Indonesia?

Kata bangkit, secara Bahasa dalam KBBI didefinisikan sebagai bangun lalu berdiri atau bangun (hidup) kembali. Sedangkan kebangkitan didefnisikan sebagai “menjadi sadar”. Jika berkaca pada sejarah, penyematan nama kebangkitan nasional tersebut telah sesuai. Indonesia dahulu pernah berjaya melalui Sriwijaya dan Majapahit, dilanjutkan dengan kerajaan-kerajaan islam. Pasca itu, Indonesia mengalami masa penjajahan oleh bangsa eropa selama 3.5 abad. Kemudian, berdirinya Budi Utomo mampu menginspirasi rakyat Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui ranah pergerakan.

20 Mei 2014, itu artinya telah 106 tahun yang lalu Kebangkitan Nasional terlahir. Harapan kita semua tentu saja agar tahun ini dapat mencerahkan masyarakat Indonesia tentang makna kebangkitan nasional sebagai milestones perjalanan bangsa menuju negara superpower. Apalagi di tahun 2045 nanti Indonesia diprediksi menjadi salah satu dari tujuh kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita mencapai USD 47.000. Namun, dibalik potensi tersebut, muncul keprihatinan tinggi karena semakin suburnya angka korupsi di Indonesia. Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada tahun 2013 masih cukup tinggi di peringkat 114 dari 177 negara di dunia, dengan skor yang cukup rendah yaitu 32 dari 100.

Kembali ke masalah kebangkitan Nasional, setidaknya Indonesia telah mengalami lima gelombang nasionalisme yang mampu me-refresh ­kembali arti penting kebangkitan nasional. Menurut A Fanar Syukri (2003) kelima gelombang tersebut adalah Hari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Kemerdekaan 1945, Orde Baru 1966, dan munculnya era reformasi 1998. Namun semakin ke sini, Indonesia terlihat semakin kehilangan arah terutama dalam aspek kemandirian bangsa. Makna kebangkitan nasional akhirnya bergeser pada paradigma pasar di mana segala potensi sumber daya Indonesia saat ini banyak yang dikuasai asing.

Melihat fenomena di atas, tentunya timbul sebuah pertanyaan. Apakah makna kebangkitan nasional yang sebenarnya? Salah satu agenda yang mendesak mengembalikan nilai-nilai perjuangan pergerakan bangsa Indonesia ini ke makna kebangkitan nasional itu sendiri. Mengapa demikian? Karena itulah yang akan menjadi landasan pergerakan masyarakat Indonesia pada masa selanjutnya.  Jika menganalisis sejarah, kebangkitan Indonesia bermula dari penindasan penjajah. Hal itu yang tanpa kita sadari sebenarnya sedang berlangsung saat ini, bahwa Indonesia dijajah dalam banyak sektor, salah satunya sektor ekonomi. Mengutip pendapat Amien Rais, bahwa bargaining power Indonesia di dunia Internasional semakin lemah dalam menghadapi tantangan global di era globalisasi yang berwajah neoliberal sebagai wujud neoimperialisme. Maknanya, daya tawar Indonesia terhadap pihak asing yang berinvestasi di Indonesia begitu lemah, sehingga pemerintah silau dengan penawaran pasar bebas sebagai solusi kemajuan ekonomi padahal sesungguhnya merupakan penjajahan terselubung. Sehingga, inti kebangkitan nasional adalah berani melawan penjajahan.

Harapan kita, di era globalisasi saat ini, Indonesia mampu bangkit melawan keterpurukannya, mampu berdikari dalam mengelola sumber dayanya, tidak silau dengan uang yang berselimutkan bantuan-bantuan negara berkembang, serta konsekuen dengan pilihannya pada tahun 1945 silam saat memilih untuk menjadi negara yang merdeka. Indonesia (tidak) pernah bangkit, makna sesungguhnya bukan berarti kebangkitan tidak pernah dirasakan Indonesia. Namun poin kritisnya adalah, kebangkitan yang hanya bersifat euforia belaka dan bersifat sementara, hingga akhirnya Indonesia kembali jatuh ke imperialisme modern saat ini. Semoga tahun 2014 ini dapat menjadi momentum untuk meredefinisikan kebangkitan nasional sebagai kebangkitan yang nyata, bebas dari belenggu penjajahan, dan mampu bersaing di era global.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *