Surat untuk Calon Pemimpin Negeri

leader

Teruntuk (yang katanya) Para Pengharmoni Negeri

Salam hormat untukmu, bapak dan ibu. Masih terekam kuat dalam ingatanku 5 tahun yang lalu saat kau meminta-minta dukungan kepada kami. Melalui berjuta-juta janji yang terucap dari lisanmu kau hasut kami untuk memilihmu. Terkadang kau selipkan kata-kata indah sebagai pemanis orasimu. Namun setelah terpilih, lagi-lagi kasus yang sama terulang kesekian kalinya, bahwa berjuta-juta janjimu menguap menjadi retorika belaka. Berbagai permasalahan bangsa, seperti kolusi, nepotisme, kasus suap, bahkan korupsi yang kian merajalela menjadikan kerajaan yang kau bangun dianggap tak mampu menangani negeri ini. Ah, lupakah kau dengan janji-janji yang kau obral dahulu? Inikah yang kau katakan sebagai sebuah harmonisasi negeri?

Bicara soal pengelolaan negara, mungkin aku yang paling iri terhadap negara-negara lain, wahai bapak dan ibu pemimpin. Aku iri dengan Venezuela, manakala Chavez yang terpilih menjadi presiden 1998 hingga sekarang berhasil melakukan renegoisasi dengan para penjajah asing itu hingga pengelolaan mereka pun lebih menguntungkan Venezuela. Aku pun juga iri dengan negara sebelah, Malaysia dengan perdana menterinya Mahatir Mohammad yang berhasil mempersempit ruang gerak neoimperalisme di negaranya. Aku pun iri dengan zaman Bung Karno dulu, di mana beliau memegang teguh prinsipnya sebagai anti neokolonialisme. Lalu apakah aku musti iri dengan bapak ibu pemimpin yang memberikan kemudahan korporasi asing untuk menguras kekayaan bangsa ini?

Bapak dan ibu pemimpin yang saya cintai. Bicara harmonisasi untuk negeri ini memang tidak aka nada habisnya. Mengapa demikian? Karena sampai sekarang pun masih belum ada parameter yang spesifik sebuah negara yang harmoni. Pikiran saya, harmonisasi tidak hanya dilihat dari satu aspek. Namun dari banyak aspek meliputi politik yang sehat, ekonomi yang baik, budaya yang semakin dilestarikan, angka pengangguran yang kecil, kondisi negara yang gemah ripah loh jinawi, serta masih banyak lagi, hal itu masih belum ditemukan sebuah solusi konkrit yang terintegrasi serta parameter pengukuran yang benar-benar jelas dalam menjadi tolok ukur keberhasilan harmonisasi negeri, sehingga seringkali pengukuran lebih kea rah subjektivitas siapa pun pengunjungnya.

Maka, teruntuk bapak dan ibu calon pemimpin, sebelum melangkah lebih jauh ke proses regenerasi kepemimpinan selanjutnya, maka tugasmu adalah nanti membantu kami untuk melawan mental-mental inlander atau mental mental mereka yang masih terjajah, dan itu masih beredar di kalangan ini. Dapat juga disebut sebagai mental terjajah. Sebab, bapak dan ibu serta kami masih memiliki bargain power yang lemah terhadap modal asing yang masuk. Harapanya harmonisasi negeri ke depannya dapat diperoleh melalui negara yang berdikari dan tanggap akan perubahan yang terjadi.

Serta teruntuk bapak dan ibu pemimpin sekarang, menjaga harmonisasi bukanlah hanya tugasmu saat menjadi pemimpin saja. Saat kau telah purna dari jabatanmu, maka disitulah ruang-ruang dalam harmonisasi negeri yang kau impikan justru semakin terbuka lebar. Kau bisa lebih bebas menorehkan karyamu dalam berbagai bidang. Mulai dari sosial masyarakat, pendidikan, ekonomi, dan bidang-bidang lainnya.

Harapan ke depan, tidak hanya bapak dan ibu pemimpin saja yang bekerja. Namun kami di sini, sebagai mahasiswa, utamanya masyarakat Indonesia tentunya akan siap menjadi gardu terdepan dalam membangun harmonisasi untuk negeri.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

3 Responses

  1. hasannote says:

    Saya dukung gagasan inspiratif ini, Faiz!

  2. Dary SEO says:

    info yg bermanfaat gan , sukses selalu

Leave a Reply to hasannote Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *