5 Menit

5-Minutes

5 menit. Hanya sekian waktuku untuk melepas rindu. Sebab Tuhan mensketsakan diriku dan dirimu. Aku tenggelam dalam urusanku, begitu juga denganmu. Ah berjuta rasanya kala mata terizinkan menatapmu, lisan terizinkan berbicara denganmu, apalagi jika hati terizinkan melengkapimu.

Adakah mentari siang tersenyum melihat wajahmu yang secerah angkasa. Sementara aku telah kian lama bermuram durja. Adakah angin berembus pelan ketika tatapan kita bertemu. Sementara pandanganku tertundukkan olehmu. Adakah burung-burung berkicau merdu mengiringi lisan kita yang bertutur. Sementara aku lebih banyak diam membisu. Adakah terik mentari menghangatkan jiwa yang telah beku karena lama tak bertemu. Sementara jiwa ini telah terlalu keras tuk membeku. Adakah awan yang naungi menyejukkan raga yang terbakar oleh sang surya. Sementara raga ini telah kering laksana abu.

Senja pun tiba, dan perpisahan itu nyata. Aduhai lagi-lagi hanya senyummu yang menutup perjumpaan ini. Tak ada canda dan tawa yang mengiringi. Tak juga tangis dan haru yang menemani. Hingga lima menit pun usai nyaris tak berarti.

Kepada jiwa yang masih merindu. Barangkali 5 menit telah cukup tuk melepasmu. Barangkali masih ada 5 menit lain yang selalu kutunggu. Setiap hari, setiap waktu. Biarlah kata orang 5 menit itu teralu singkat. Namun biar kataku 5 menit kan merajut perlahan. Barangkali rasa butuh perlahan-lahan tuk bertumbuh.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *