Rindu (2)

Pukul Dua

Pandangan ini tiba-tiba terjaga. Seakan ada isyarat Tuhan yang bersuara. Remang-remang kuraba-raba sekitarku. Lentera menyala dan tampaklah dirimu dalam anganku. Dirimu yang begitu kutunggu. Ah, andai saja bukan dirimu mungkin terpejam mataku kembali. Namun lagi-lagi misteri illahi tak dapat diramal, terjaga, dan kau ada di sana.

Pukul Tiga.

Ah aku pun masih terjaga. Hamparan sajadah tak mampu buatku tergoda tuk terlelap. Cukup sudah aku menyeruakkan kepalaku untukNya. Sementara kamu masih saja di sana. Tak berpindah, tak bergeser, tak bergerak. Sementara jiwa ini tak sanggup menggapainya. Suara ini seakan hanyalah abstraksi belaka. Derap langkah ini semakin tak menentu, melenceng jauh darinya berada.

Pukul Empat

Sayup-sayup mata mulai mengantuk, sementara azan subuh sebentar lagi kan berkumandang. Ah, kali ini kau muncul, dalam rentetan aksara di layarku. Maka izinkan aku menyebut kegigihanmu. Kita telah berbicara dalam bisu. Hingga panggilanNya pun datang menghentikan tarian jemariku. Ah, masihkah ada waktu tuk menyambung rindu?

Bila rindu ini adalah waktu, barangkali ia terus berjalan melaju. Tak ada rintangan yang menghalangi, tak ada pula ujian yang menghadang. Pagi hingga malam ia lalui dengan perlahan.

Bila rindu ini masih membisu, barangkali ia masih menunggu. Entah saat mentari terbit di timur atau saat terbenam di ufuk barat. Atau kala rembulan baru tak terlihat atau bahkan saat purnama bersinar. Biarlah waktu yang menjawab kapan ia takkan lagi menunggu.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *