Catatan Ramadhan #1: Radikal dan Romantisme-nya Ramadhan di Dolly

10488361_10202094776042848_8712357201755787179_n

Ramadhan 1435 H kali ini terasa spesial bagiku. Ya, tak terasa 3 tahun terakhir selalu melewatkan awal ramadhan di Surabaya. Tahun pertama dahulu masih ingat kala itu disibukkan pendaftaran sebagai mahasiswa baru, serta mengikuti berbagai acara kemahasiswaan, juga mendekatkan diri kepada angkatan. Tahun kedua, manakala amanah menjadi SC kaderisasi menghampiri, maka kuhabiskan hampir 3 minggu pertama bulan Ramadhan di Surabaya untuk mengkonsep kaderisasi bersama teman-teman. Sedangkan kali ini, tahun ketiga, Ramadhan hadir begitu cepat dan benar-benar tak terasa. Namun kali ini terasa spesial. Ya, inilah momentum awal aku dan teman-teman PPSDMS Regional IV Angkatan 7 Surabaya untuk mendekatkan diri, memperkuat internal dengan mengadakan kegiatan ramadhan yang terhitung cukup padat. Bersama Angkatan VI  yang merupakan angkatan terdekat kami, momentum ramadhan ini kami dilibatkan dengan aneka macam kegiatan.

Hari pertama kulalui di Balai Pemuda. Kami rapat membahas salah satu agenda Ramadhan Angkatan VII berkolaborasi bersama Pemuda Surabaya melalui EMAS. Ya ! Agenda ini adalah BARBAR di Dolly atau Bareng-Bareng Ramadhan di Dolly. Sebuah langkah elemen pemuda Surabaya dalam rangka terus melakukan pengawalan pasca deklarasi penutupan Dolly 18 Juli yang lalu. Acara ini terbagi ke dalam beberapa sub acara. Antara lain Dolly Ceria, Buka Bareng, dan Bazaar Murah.

Dolly ceria merupakan kegiatan di mana kami akan melakukan aneka aktivitas bersama anak-anak di Dolly. Situasi yang memprihatinkan terkait masa depan dan moral mereka. Mengutip pernyataan senior saya, jika melakukan komparasi antara anak-anak di Dolly dengan anak-anak di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Di sana, anak-anak seusia SD, bahkan oleh kyai-nya melihat betis dari lawan jenis pun bisa dimarah-marahi, bahkan tidak diperbolehkan. Sementara bagaimana anak-anak di Dolly? Ah, sepertinya tanpa saya jawab pun teman-teman sudah tahu jawabannya.

Berangkat dari latar belakang itulah kami para Elemen Pemuda Surabaya bersama Santri PPSDMS Angkatan VII melakukan sebuah kegiatan bersenang-senang. Beberapa sub kegiatan ini antara lain seperti mengajar mengaji, kelas inspirasi, outbound edukatif, serta pesantren ramadhan. Harapannya, momentum ini bisa mendekatkan diri antara kami para pemuda surabaya dengan anak-anak di Dolly.

Kegiatan yang lain adalah bazaar murah. Sudah menjadi hal yang pasti bahwa penutupan Dolly akan berakibat roda perekonomian terhambat. Oleh karena itulah melalui bazaar murah ini harapannya masyarakat dapat tertolong, serta dapat menjadikan Dolly ke depannya dalam rencana jangka panjang ini sebagai sentra industri kreatif, serta berkembangnya perekonomian di sana.

Kedua rangkaian kegiatan tersebut akan diawali dengan Buka Bareng bersama warga Dolly. Ya, acara ini akan menjadi internalisasi pertama kami dengan warga Dolly dalam rangka meyakinkan mereka bahwa penutupan adalah jalan yang terbaik. Bahwa rezeki Tuhan dapat dikais dengan jalan yang lain. Acara buka bareng nantinya direncanakan sekitar awal Juli, kemudian bersambung ke acara Nonton Bareng Piala Dunia dilanjutkan dengan sahur bareng.

Yah, itulah ramadhanku hari pertama. Ramadhan di Dolly. Radikal dan Romantis. Suatu hal yang bertolak belakang, namun dengan kami di sini akan mempersatukannya dalam serangkaian acara di Dolly. Kami memang RADIKAL. Ya ! Betul ! Kami memang radikal. Kami setuju adanya penutupan Dolly. Kami terkesan mengabaikan adanya kemungkinan para pekerja di sana takkan mendapatkan uang. Kami juga terkesan mengabaikan bagaimana roda perekonomian di sana kan bergerak. Memang RADIKAL. Bayangkan berapa potensi pendapatan yang hilang ketika Dolly ditutup. Potensi pengangguran, dan akses-akses lainnya.

Namun lihatlah, lihatlah dengan mata hati. Bahwa kami sesungguhnya menyimpan romantisme tersendiri. Kami begitu menghormati hak-hak perempuan, fitrahnya seorang wanita hingga menganjurkan mereka untuk mencari pekerjaan lain yang tak mengorbankan jati diri dan harga dirinya. Kami romantis, dengan mengadakan kegiatan bersama-sama anak-anak kecil di Dolly dengan harapan sekalipun mereka dibesarkan di lingkungan yang tak mendukung, namun mereka nanti dapat besar menjadi orang besar yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi masa kecilnya. Kami romantis, sekalipun roda perekonomian terancam maka kami berinisiatif mengadakan bazaar murah. Ah, mungkin tak seberapa, namun setidaknya itu mampu bangkitkan optimisme warga Dolly tuk segera move on dari bisnis haram tersebut.

Ah, inilah ramadhanku tahun ini. Begitu berbeda dan semoga berkesan dan semoga dapat memanen pahala. Mengutip status Mas Dalu, bahwa…

Lokalisasi ditutup Pemerintah dan diubah menjadi Islamic Center, Sudah biasa…
Lokalisasi ditutup Pemerintah dan diubah menjadi pusat bisnis, Masih biasa…
Lokalisasi ditutup Pemerintah, diubah menjadi pusat usaha, mampu mensejahterakan masyarakatnya, Juga Biasa…

NAMUN, Ketika Lokalisasi ditutup, dijadikan pusat aktivitas ekonomi yang mensejahterakan, mampu mengubah budaya hidup masyarakat setempat, mengembalikan martabat para Wanita harapan dan
Ada Sentuhan Cinta Para Pemuda dalam Perubahannya, Itu Baru LUAR BIASA…

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *