Catatan Ramadhan #2 : Puasa, Pilpres, dan Piala Dunia

FOTO-PILPRES-2014-_-Capres-Cawapres-Diajak-Contoh-Piala-Dunia

Ramadhan 1435 boleh jadi saya katakan ramadhan yang bersejarah, barangkali saya diziinkan di sini menyebutnya ramadhan yang cukup berat yang akan dilalui ummat muslim di Indonesia saat ini. Ya, sebagaimana yang kita tahu, bahwa tahun ini ramadhan hadir begitu spesial dengan dua event akbar. Yang satu skala nasional, yaitu Pemilihan Presiden, yang satunya skala internasional, yaitu piala dunia. Adanya kedua perhelatan akbar tersebut tentu akan memberikan dinamika tersendiri bagi masyarakat Indonesia saat ini. Namun, justru dua hal itulah godaan terbesarnya. Mengapa demikian ?

Kita mulai dari pemilihan presiden. Berbagai jenis kampanye pun memenuhi halaman facebook saya. Mulai dari negative campaign, sampai sampai saya pun pernah menerima black campaign dari rekan-rekan saya di facebook. Ketika kembali ke definisi puasa bahwa puasa pada hakekatnya adalah menahan diri, maka inilah ujian dan tantangan terberatnya. Bagaimana mungkin ketika kita puasa masih saja mengolok-ngolok capres satu dan capres lainnya dengan mengumbar aibnya jika memang ada, atau menjelek-jelekkan dengan mengada-ngada, dan secara tak langsung berarti kita telah berdusta. 

Namun entah mengapa mindset masyarakat justru kebanyakan setuju jika negative campaign yang digembor-gemborkan membuat pilpres semakin seru. Ya, apalagi tahun ini calon presidennya hanya dua. Sehingga dalam tanda kutip terpecahlah Indonesia menjadi dua golongan. Golonga pro capres 1 dan pro capres 2. Pertarungan pun semakin seru, sehingga segala cara dilakukan demi sebuah jabatan. Yang mengherankan, apakah kita akan terus tenggelam dalam kampanye model seperti ini?

Yang perlu diingat, saat ini kita berada di Bulan Ramadhan. Tak perlu lah waktu kita habiskan untuk berkampanye dengan metode menjelek-jelekkan pasangan capres dan cawapres lainnya. Ya, mereka juga manusia biasa. Mereka pun sama-sama punya masa lalu yang buruk. Nabi Yunus pernah meninggalkan ummatnya hingga ditelan ikan nun. Nabi Yusuf pernah di penjara. Nabi Ayyub pernah terkena penyakit kusta yang menjijikkan. Nabi saja pernah memiliki masa lalu yang buruk, apalagi bapak-bapak cawapres kita yang disebut nabi saja bukan.

Negative campaign, bisa juga disebut ghibah jika dalam islam. Ghibah adalah membicarakan kejelekan orang-orang lain.  Al-Qur’an telah jelas menuliskan larangan untuk Ghibah dalam Surat Al-Hujurat ayat 12:

“Janganlah kalian menggunjingkan satu sama lain. Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Tawwab (Maha Penerima taubat) lagi Rahim (Maha Menyampaikan rahmat).”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya: “Di dalamnya terdapat larangan dari perbuatan ghibah.” As Sa’di rahimahullah berkata di dalam tafsirnya: “(Allah) menyerupakan memakan daging (saudara)nya yang telah mati yang sangat dibenci oleh diri dengan perbuatan ghibah terhadapnya. Maka sebagaimana kalian membenci untuk memakan dagingnya, khususnya ketika dia telah mati tidak bernyawa, maka begitupula hendaknya kalian membenci untuk menggibahnya dan memakan dagingnya ketika dia hidup.”

Berarti jelas, bahwa ghibah sesungguhnya perbuatan yang benar-benar dibenci oleh Allah. Bahkan Allah sendiri pun menyerupakan kita memakan daging saudara kita sendiri yang telah mati. Betapa hinanya perbuatan tersebut, itu berarti sama hina-nya jika kita melakukan ghibah. Maka momentum bulan ramadhan ini sudah seharusnya kita menahan diri untuk melakukan perbuatan tersebut. Ah, masihkah kita menyia-nyiakan kemuliaan ramadhan dan mengotori kesucian ramadhan dengan ghibah?

Lalu ada juga piala dunia. Sudah menjadi hal yang umum, bahwa siaran sepak bola di luar negeri umumnya ditayangkan tengah malam sampai pagi di Indonesia, karena adanya perbedaan waktu yang jauh antara Brazil dan Indonesia. Umumnya pertandingan ditayangkan jam 23.00 WIB dan pukul 02.00 atau 03.oo WIB. Untuk yang pertama mungkin tak masalah, jam 23.00. Justru selepas tarawih yang biasanya selesai sekitar jam 20.30, alangkah baiknya kita mengisinya dengan tadarrus bersama teman-teman sembari sama-sama menunggu siaran piala dunia jam 23.00. Normalnya 1 juz bisa kita selesaikan sekitar 40 menit. Bayangkan saja antara jam 20.30 sampai 23.00 terdapat jeda sekitar 2.5 jam. Itu berarti sekitar 150 menit. Nah, artinya di sela-sela waktu itu bisa menyeleseikan hampir 4 juz. Maka, sudah seharusnya tidak lagi menjadi alasan bahwa piala dunia menganggu tadarrus kita dalam mengkhatamkan Al-Quran.

Namun yang bermasalah di sini adalah yang jam 03.00. Positifnya, sepertinya akan semakin jarang kisah orang tidak sahur karena tidak bisa bangun. Namun negatifnya, waktu ini tentu menggangu waktu subuh. Apalagi jika sampai perpanjangan bahkan adu penalti. Di sinilah kita harus memilih. Sebagai seorang muslim, jamaah ke Masjid tentu menjadi hal yang utama dibandingkan dengan shalat munfarid. Apalagi jika shalat sendiri dan dengan “kecepatan tinggi” karena terburu-buru segera menyaksikan tayangan piala dunia. Semakin tidak afdhol shalat yang kita kerjakan.

Maka di sinilah kita harus memilih. Jika ingin tetap melanjutkan, bersegeralah ke masjid, laksanakan secara jamaah. Dan kembalilah seusai dzikir selesai. Namun jika ingin fokus ibadah, tentu lebih baik. Tak ada salahnya kita mengorbankan tayangan tersebut. Toh, pagi pukul 05.30 biasanya terdapat acara berita olahraga yang menayangkan kejadian-kejadian penting di pertandingan yang kita lewatkan tersebut. Bahkan link video versi full match-nya pun dengan cepat biasanya menyebar di dunia maya, so seharusnya tidak ada alasan lagi untuk menjadikan piala dunia sebagai pengganggu aktivitas ibadah kita di Bulan Ramadhan bukan?

Puasa, pilres, dan piala dunia. Mungkin ini adalah hal yang spesial di ramadhan kali ini. Akan terasa jauh lebih spesial jika kita mampu menikmati ketiganya dengan penuh hikmat, penuh takzim, serta membuatnya saling beririsan, dan kita berada di titik temu antara keduanya. Pilpres bisa menjadi sarana kita untuk menggali ilmu kita mengenai dunia perpolitikan di Indonesia sembari melatih daya pikir kita, kritis dalam menanggapi permasalahan yang ada. Piala dunia, bisa menjadi sarana refreshing kita, bahkan dapat dijadikan sebagai sarana memperkuat ukhuwah dengan rekan-rekan seperjuangan kita. Sementara puasa, adalah benteng dari hal-hal buruk yang kerap terjadi kala kita menjalani pilpres dan piala dunia. Puasa sesungguhnya bentuk pertolongan Allah paling dahsyat untuk kita saat ini, sehingga di momentum di mana kita memiliki peluang melalaikanNya begitu tinggi, Allah SWT memberikan ramadhan sebagai cahaya penerang di tengah-tengah kedua even ini. So, betapa indahnya kombinasi itu bukan? Ya! Sekarang tinggal kita mau memanfaatkannya, atau mengabaikannya.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *